Suaka Margakata: Lose

Suaka Margakata: Lose

 

Suaka Margakata

Biasanya saya mendengar istilah suaka margasatwa. Mungkin karena kurang membaca, istilah suaka margakata baru sekarang mendengar atau membacanya. Nah, ketahuan literasinya masih sekilan, belum jauh ke mana-mana.

Suaka itu maknanya tempat mengungsi atau tempat berlindung, menumpang, atau menumpang hidup (KBBI). Suaka margasatwa menurut kamus adalah cagar alam yang secara khusus digunakan untuk melindungi binatang liar di dalamnya. Beranalogi dari istilah ini, suaka margakata saya terjemahkan secara bebas. Suaka margakata saya terjemahkan sebagai sebagai upaya untuk melindungi kata-kata yang jarang digunakan, baik secara lisan maupun tulisan.

Apakah ada kata-kata dalam bahasa kita (Indonesia) yang masih hidup tapi jarang digunakan? Ada dan cukup banyak. Umumnya, di telinga terdengar aneh. Namanya juga jarang digunakan. Iya, kan? Namun banyak blog dan web sudah membicarakan hal ini.

Jika anda membuka kbbi daring lalu pada kolom pencarian kata Anda ketik kata “pranala”, hari ini sang Kamus memberitahu kita “Maaf, tidak ditemukan kata yang dicari. Anda mencari kata pranala dalam huruf kapital PRANALA“. Sang Kamus tidak bisa menjelaskan. Padahal pada bagian bawah kotak pencarian jelas tertulis “Pranala (link)”.

Suaka Margakata: Lose
Gambar. kbbi.web.id

Kata pranala adalah kata yang baru muncul untuk menggantikan istilah link atau hiperlink. Maksudnya, acuan dalam dokumen hiperteks ke dokumen yang lain atau sumber lain. Barangkali sifatnya yang masih baru, kata pranala oleh pengelola belum diuraikan maknanya dalam kamus.

Kata yang Tergolong Arkais

Yang diuraiakan di atas adalah kata tergolong baru dalam bahasa Indonesia. Bagaimanakah dengan kata yang tergolong arkais?

Dalam kamus, kata yang tergolong arkais diberi kode ark. Kata yang diberi kode tersebut artinya tergolong arkais, kata yang tidak lazim dipakai. Kata tersebut ada dalam kamus besar Bahasa Indonesia namun jarang kita baca atau dengar dalam percakapan sehari-hari. Inilah kata-kata yang harus “dipelihara” dan menjadi anggota suaka margakata.

Mari simak kalimat-kalimat berikut ini!

  • Semoga para warga di daerah terdampak bencana senantiasa derana menghadapi musibah. (tabah).
  • Sungguh beruntung Pak Toad. Minggu lalu tulisannya mendapat hadiah kejutan, minggu ini artikel dalam blognya mendapat penghargaan sebagai juara favorit. Ibarat peribahasa lalu penjahit, lalu kelindan. (benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum, untuk menjahit)
  • Lembayung senja di ufuk mulai bercahya. (warna merah campur ungu)
  • Ayu berhasil masuk ke lose di sekolahnya karena mendapat nilai bagus di hampir semua mata pelajaran. (kelas yang tertinggi atau yang terbaik, huruf /e/ diucapkan seperti /e/ pada kata kenal)

Bahasa itu kebiasaan. Kata-kata baru yang asing dan jarang terdengar, namun berulang-ulang digunakan seperti kata-kata: daring dan gawai, dikenal semua orang. Demikian pula dengan makna kedua kata tersebut. Ini terjadi karena biasa diucapkan, biasa dituliskan sehingga akrab dengan telinga maupun mata.

Begitulah! Mari kita hidupkan kata-kata yang masuk dalam suaka margakata! Kita lakukan agar mereka tidak punah dan menjadi kata “mati” tidak berfungsi. Mari kita gaungkan dan gunakan dalam berbagai percakapan dan tulisan.

 

#KamisMenulis

#SuakaMargaKata

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

30 thoughts on “Suaka Margakata: Lose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *