Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya
(Al Hadits)

 

Saya pernah membaca bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berkata ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah tersebut cukup menjadi alasan bagi kita untuk selalu menulis atau mencatat. Disadari bahwa daya ingat manusia lemah dan terbatas. Meskipun laporan sains tahun 2016 seperti dilansir Liputan6.com bahwa Terry Sejnowski, salah seorang peneliti dari Salk Intitute menemukan bahwa otak manusia ternyata memiliki kapasitas memori setidaknya 1 petabyte atau setara dengan 10 juta gigabyte.

Meskipun kapasitas memori otak manusia sebesar itu, hellosehat.com memaparkan bahwa tidak semua hal yang pernah terlewati bisa diingat dan disimpan di dalam otak secara utuh. Konon, menurut para ahli, dalam waktu 20 hingga 30 detik terdapat sekitar 7 ingatan jangka pendek sekaligus. Jadi, tidak heran jika kita lupa nama murid kita beberapa tahun lalu atau bahkan lupa nama cucu.

Menyadari akan keterbatasan ingatan manusia tersebut maka apa yang kita pelajari perlu ditulis, tidak cukup kita amati atau dengarkan saja. Dengan menuliskannya maka kita mendokumentasikan ilmu pengetahuan yang kita peroleh. Sewaktu-waktu, dokumen tersebut dapat dibuka dan dibaca ulang agar pemahaman semakin baik atau jika kita lupa pada hal-hal tertentu.

 

Guru adalah Insan Pembelajar

Guru adalah pelaku utama pembelajaran. Ia adalah pelaku yang menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sebagai pelaku pembelajaran, guru harus tetap belajar. Oleh karena itu, tidak heran jika guru dikatakan sebagai insan pembelajar, orang yang mempelajari. Mempelajari apa saja terutama yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

Bencana dunia dalam bentuk pandemi virus mematikan Covid-19 telah membuka mata para guru bahwa kompetensi yang sudah dimilili harus ditingkatkan. Tools yang dimiliki guru selama ini untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka tidak memadai lagi. Pembelajaran yang bersifat “darurat” dan dilaksanakan dari rumah membutuhkan tools yang berbeda. Karena berbeda dan relatif baru, para guru wajib berburu ilmu untuk memiliki aneka tools tersebut melalui berbagai pelatihan atau belajar sendiri dari melalui internet.

Apa yang harus dilakukan guru setelah mengikuti berbagai pelatihan itu? Merangkum atau meresume! Mungkin saja bahan tayangan atau berkas-berkas dibagikan oleh narasumber kepada peserta diklat untuk dipelajari lebih lanjut. Namun dengan mennuliskan kembali dalam bentuk resume, guru memiliki dokumen sekaligus memiliki karya dalam bentuk tulisan. Tulisan ini, suatu saat akan bermanfaat bagi penulis jika mengalami “kelupaan” terhadap materi pelatihan yang pernah diperolehnya. Selain itu, dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang membutuhkan.

Jadi, tunggu apa lagi? Berburulah ilmu dan ikatlah dengan menulis. Jangan biarkan ilmu itu menghilang. Meskipun kapasitas memori otak kita besar, tidak semua dapat disimpan dengan baik di dalamnya.

 

Salam blogger sehat
Susanto
SDN Mardiharjo, Musi Rawas

 

                     

 

 

Sumber bacaan:

  1. https://www.liputan6.com/tekno/read/2420057/kapasitas-memori-otak-manusia-ternyata-setara-1-juta-gb
  2. https://www.salk.edu/news-release/memory-capacity-of-brain-is-10-times-more-than-previously-thought/
  3. https:///saraf/fakta-memori-manusia/#gref

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

5 thoughts on “Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *