Sepenggal Kisah Gabung Komunitas Menulis

Ngeblog sendirian itu sepi. Apalagi dengan keterbatasan diksi. Ngeblog bareng kawan itu asyik, menyenangkan. Pagi-pagi disuguhi sarapan tulisan. Jika ada waktu luang, bisa jalan-jalan, blogwalking. Sesekali ada tantangan. Ini mengasyikkan karena harus setor tulisan. Berikut sepenggal kisah bergabung di grup atau komunitas menulis.

Saya tahu, ada Gurusiana yang sarat penulis hebat. Demikian pula blog keroyokan yang dulu hanya rubrik politik yang saya baca, Kompasiana. Kedua komunitas itu saya ikut menjadi member, meskipun tulisan yang diunggah baru hitungan jari. Banyak bacaan dan gaya tulisan dari penulis beragam latar belakang. Tidak jarang lidah berdecak kagum sambil melumat ratusan kata dalam bacaan.

Saya juga ikut grup penulis di Facebook. Grup yang juga ada WA dan blog adlah grup Lagerunal. alamatnya di Facebook  adalah https://www.facebook.com/groups/lagerunal. Demikian juga grup guru blogger. Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) di https://www.facebook.com/groups/gurublogger saya ikuti bergabung di dalamnya. Sayangnya jarang mengunjungi. Semoga setelah tulisan ini terbit, kedua grup tersebut dapat sering saya kunjungi dan mengirimkan tulisan di sana.

Barangkali di telegram dan intagram tidak kurang banyak komunitas menulis. Namun saya tidak mengikuti perkembangan komunitas menulis pada dua platform media sosial tersebut. Entah suatu saat, jika ada yang mengajak atau ada tautan untuk bisa masuk, saya akan berpikir untuk mengikutinya.

Nah, yang paling mengasyikkan untuk sementara ini, komunitas menulis pada grup WhatsApp. Ada beberapa grup whatsapp yang saya tunggui dengan setia hingga kini.

1. Belajar Menulis Gelombang 15

Beberapa kali saya ceritakan bahwa sejak bulan Agustus 2020, saya dikenalkan dengan grup belajar melalui aplikasi WA. Sangat baru, sangat asing, namun setelah masuk dan ikut belajar, ternyata mengasyikkan.

Dalam grup itu kami diberi cerita proses kepenulisan, keseruan mengikuti tantangan menulis, cara mencari ide, membuat brand, dan pengalaman lainnya. Bukan diajari bagaimana menulis. Jika demikian, lantas bagaimana mungkin? Apakah hanya membaca pesan tulisan atau sesekali pesan suara, gambar, dan video youtube peserta bisa menulis?

Itu juga pertanyaan yang berkecamuk dalam dada ini sebelum pelatihan dimulai. O, ya! Saya bergabung akhir bulan Juli 2020, sementara kegiatan resmi pelatihan dimulai tanggal 3 bulan Agustus 2020. Menjelang tanggal tiga, hati selalu bertanya-tanya. Bagaimana saya bisa menulis?

Menjelang hari “H” baru saya tahu bahwa ada tugas yang harus dikerjakan. Tugas itu, menulis resume dari narasumber, selain mengisi absen. Nama-nama seperti Pak Bryan, Mr. Bams, Bu Kanjeng, bahkan Omjay sendiri masih asing di mata dan telinga saya. Cerita ini sudah berulang saya ceritakan, termasuk tulisan saya pada laman sebelumnya.

Kita belajar menulis sendiri. Ibarat kolase, postingan narasumber pada tiap-tiap kolom chat WA dilekatkan menjadi “lukisan”. Tentu disertai unsur artistik dan estetika yang memadai agar yang memandang (pembaca) merasa nyaman. Untuk ini saya pun mencari tahu resume itu apa. Cara menulis resume yang baik. Lalu mencari informasi cara menyajikan kembali resume sehingga tidak terkesan potongan bahan yang menempel tanpa kaitan.

Itulah grup menulis pertama yang saya ikuti, seumur hidup saya. Semoga tekad saya untuk berada di dalamnya hingga saya dan admin yang tersisa, terkabulkan. Hingga tulisan ini disusun, 242 participans masih setia di sana. Silih berganti, peserta keluar dan masuk. Mereka yang keluar adalah sebagian peserta yang “berhasil” mendapat sertifikat dan memiliki buku, mungkin juga yang belum berhasil. Sebagian lagi adalah narasumber yang kemudian bertugas di grup berikutnya.

2. Cakrawala Blogger Guru Nasional

Setelah sukses mengelar Lomba Blog Nasional dalam rangka HUT Ke-75 Republik Indonesia, Omjay kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti lomba blog dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda. Temanya “Peran Teknologi Terkini dalam Membuat Pembelajaran DARING dan LURING Menjadi Semakin Menyenangkan”. Para peserta pun dikelompokkan dalam grup whatsapp. 

Pada peringatan hari Pahlawan tanggal 10 November 2020, pemenang lomba diumumkan. Yang menjadi pemenang banjir ucapan selamat. Yang tidak menang, menerimanya dengan lapang dada. Satu demi satu blog para pemenang pun dikunjungi dan dibaca. Mereka memang layak menjadi pemenang. Dari obrolan di blog, akhirnya kawan-kawan bersepakat untuk tidak “membubarkan diri”. Tetap bertahan.

Seorang teman yang sudah tidak tergabung di WA lagi, pak Bambang Sugiarto Legi, bercita-cita mewujudkan komunitas blogger Indonesia. Pria yang tahun ini berusia 39 tahun itu semangatnya sangat menggebu untuk mengajak teman-teman blogger dalam satu wadah. Gayung bersambut. Pak Sucipto Ardi, guru SMA Negeri 32 Jakarta, mendukung penuh dan tidak kalah semangat dengan pak Bambang.

Pria yang tahun ini memasuki usia kematangan sempurna (ini istilah saya, ya), empat puluh satu tahun, tidak kalah semangatnya untuk mendukung ide pak Bambang. Percakapan antarpribadi dengan bu Rita Wati, bu Kholisah, pak Budi, bu Lani, serta pak Ozzy Vebry Alandika yang cakap bikin desain, menyepakati pemberian nama komunitas blogger itu Cakrawala Blogger Guru Nasional, Lagerunal. Saya yang paling tua, dalam arti batang usia, diikutkan menjadi salah satu bagian dari mereka.

Simak saja visi dan misi komunitas Lagerunal. Meningkatkan literasi menulis di blog bersama lagerunal adalah visi mulianya. Ada tiga misi yang diemban oleh komunitas untuk mewujudkan visi komunitasnya itu. Ketiga misinya yaitu: mampu membuat blog, menulis di blog, dan konsisten menulis di blog. Hebat, bukan?

Namanya kumpulan anak muda (mungkin tepatnya merasa muda), mereka menyusun program. Simak “rasa anak muda slenge’an” komunitas ini. Tidak saya tulis, lihat saja foto di bawah ini.

 

Hingga saat ini, bulan Februari 2021, masih ada kegiatan #SeninBlogWalking, #SelasaBerbagi, #KamisMenulis, dan #SabtuBlogging. Rupanya, mereka sudah tidak seneng KELON lagi.

3. AISEI Writing Online 2

Ketika masih ada pemberian materi kepenulisan di Grup Belajar Menulis Gelombang 15 besutan Omjay, saya diajak menulis antologi berjudul Senandung Guru. Banyaknya peserta yang ikut, antologi Senandung Guru terbit dua jilid. Saya ikut menulis pada jilid pertama. Kurator buku tersebut adalah bu Rita Wati.

Penulis buku 25 Trik Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku tersebut, pada suatu hari mengirimkan tautan grup whatsapp. Pada kolom chat berikutnya ada keterangan yang nadanya mengajak bergabung di AISEI Writing Online 2.  Setelah saya masuk grup, ada undangan kegiatan AISEI Writing Club edisi Oktober 2020 bersama bintang tamu Prof. Eko Indrajit. Saya tambah semangat. Nama Prof. Eko pernah akrab di mata dan telinga saya. Beliau pernah mengisi materi di grup gelombang 15.

Selesai webinar, ada tantangan menulis. Sederhana saja. Satu foto milik pribadi, hasil jepretan kamera sendiri, disertai 100 kata. Begitu seterusnya setiap hari hingga tanggal 31 Oktober. Bulan November tantangan ditingkatkan lagi menjadi minimal 150 kata disertai foto. Berikutnya di bulan Desember menulis setiap tanggal genap. Awal tahu, bulan Januari, anggota diminta menulis setiap tanggal ganjil. Pada bulan Februari ini, menulis setiap tanggal genap dengan konsep #thepowerofkepepet, #pikir15menit, #nulis15menit, dan bertema #kasihsayang.

Apa itu AISEI? AISEI singkatan dari Association for International Minded School Educators Indonesia(AISEI). Organisasi ini lahir dua tahun lalu pada tanggal 19 Januari 2019. Saya salin dari tulisan saya di https://blogsusanto.com/2021/01/20/tema-kurikulum-ngumpet-hut-ke-2-aisei-diwarnai-sinyal-ngumpet/, misi AISEI sangat agung. Misinya yaitu memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia mulai dari akar permasalahnnya, memperkenalkan sistem pendidikan asing, meningkatkan profesionalisme, serta mengembangkan kompetensi pendidik. Organisasi pendidik ini berkeinginan menjadi komunitas yang terus berkembang dan memastikan semua anggotanya dapat menjadi pembelajar seumur hidup yang selalu ingin berbagi. Mereka diharapkan selalu menginspirasi dan mau menulis untuk meninggalkan warisan ilmunya.

Wah, sudah lebih dari seribu seratus kata. Saya sudahi sepenggal cerita bagaimana saya meramaikan diri saya dalam belajar ngeblog, menulis, dan belajar konsisten menulis di blog sebagaimana misi Lagerunal di atas.

 

Salam blogger sehat

PakDSus
SDN Mardiharjo, Musi Rawas

 

                      

#NaskahKelima

#DariBlogMenjadiBuku

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

24 thoughts on “Sepenggal Kisah Gabung Komunitas Menulis

  • 07/02/2021 at 12:30
    Permalink

    Saya sudah membaca tulisan ini untuk kedua kalinya.
    Tulisan teman satu almamater saya di gel.15 semakin memukau.
    Sehat selalu Pak D

    Reply
    • 06/02/2021 at 22:45
      Permalink

      Salam kenal kembali, kunjungan perdanya membuat saya tersanjung. Sudah ngintip juga tulisan Bu Pipit. Bagus!

      Reply
  • 06/02/2021 at 13:16
    Permalink

    Inspiratif Pak D. Punya cerita sama tapi belum bisa menuliskannya sedetail ini. Mantap.

    Reply
    • 06/02/2021 at 22:44
      Permalink

      Menyenangkan ya punya banyak kawan di grup menulis.

      Reply
      • 07/02/2021 at 12:30
        Permalink

        Saya sudah membaca tulisan ini untuk kedua kalinya.
        Tulisan teman satu almamater saya di gel.15 semakin memukau.
        Sehat selalu Pak D

        Reply
  • 06/02/2021 at 06:40
    Permalink

    Teruslah menulis agar orang lain tahu siapa dirimu.

    Malam ini saya terbangun dari mimpi. Hujan sangat besar sekali di Bekasi. Saya khawatir banjir akan datang lagi ke rumah kami.

    Menulis adalah cara saya menyampaikan kegelisahan hati. Dengan menulis saya melupakan penyakit ini. Cinta dunia dan takut mati.

    Membaca tulisan kawan kawan asyik sekali. Terkadang sampai lupa kalau sedang mengerjakan desertasi. Banyak pesan email masuk setiap hari. Membaca jadi aktivitas sehari hari.

    Teruslah menulis agar semakin banyak orang mengenal siapa dirimu. Bukan untuk menyombongkan diri tapi niatkan untuk berbagi ilmu. Kalau sudah seperti itu, maka menulis tak permah jemu. Sebab hatimu telah bertemu pembaca setiamu.

    Kunci untuk bisa menulis adalah membaca. Mustahil orang bisa menulis tanpa melakukan aktivitas membaca. Dengan banyak membaca, kita akan berkeliling dunia. Buku adalah jendela dunianya. Pintu inspirasi didapat dari aktivitas membaca.

    Hal itulah yang menggerakkan sahabat saya Mr. Bams dalam mengelola taman bacaan masyarakat. Kegiatannya selalu memikat. Dari pembaca yang haus akan ilmu untuk menaikkan derajat. Siapa yang rajin membaca akan naik pangkat dan mendapatkan tempat terhormat.

    Allah akan meninggikan derajat orang orang yang berilmu. Mereka tak pernah jemu melakukan proses membaca dan menulis setiap waktu. Hasilnya banyak orang belajar padanya untuk menuntut ilmu.

    Teruslah menulis agar semakin banyak orang tahu akan kedalaman ilmumu. Ketiklah papan keyboard yang ada di ponsel pintarmu. Dua jempol sudah bisa melakukan proses menulis untuk kawan kawanmu.

    Hujan besar sudah berhenti. Itu tandanya saya juga harus berhenti menuliskan cerita ini. Kalau sudah mengetik suka lupa diri. Biarkan tubuh kembali ke dunia mimpi.

    Salam blogger Persahabatan

    Omjay
    Guru blogger Indonesia
    Blog http://wijayalabs.com

    Reply
  • 06/02/2021 at 06:05
    Permalink

    Semakin banyak gabung komunitas menulis kita semakin kaya,kaya sahabat,kaya wawasan kaya kosa kata tentunya yg mampu membuat kita semakin baik dalam menulis.terimakasih Pak D…

    Reply
  • 06/02/2021 at 06:00
    Permalink

    Kereen pak D, jadi ngerti komunitas tsb yg baru bulan januari 2021 ini saya ikuti, trima ksh informasinya pak D

    Reply
  • 06/02/2021 at 00:34
    Permalink

    Mantul Pak De yang selalu berjiwa muda dan terus berkarya. Tulisan Pak De selalu ditunggu kehadirannya. Jozzz

    Reply
  • 05/02/2021 at 23:35
    Permalink

    Mantap Pak D. Memukau

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *