Berburu Ilmu

Ilmu yang kita miliki itu terbatas. Oleh karena itu perlu ditambah agar mampu menjawab permasalahan yang dihadapi dengan relatif mudah ketimbang jika kita belum memilikinya. Untuk menambah ilmu itu kita perlu berburu. Berburu  ilmu itu banyak macam caranya. Cara menambah ilmu misalnya dengan membaca, mengikuti webinar, atau menonton video.

Bahan bacaan berserakan di sekitar kita. Buku-buku cetak, dapat dibeli atau dipinjam dari perpustakaan. Buku-buku elektronik atau buku versi digital tersedia dan bertaburan di internet. Semuanya dapat dibaca, kapan pun kita mau, tergantung kenyamanan dan tentu saja ketersediaan.

Mengikuti Webinar

Sebelum masa pandemi, banyak pelatihan, workshop, dan seminar-seminar yang berbayar. Tiket ratusan ribu hingga jutaan harus kita beli jika ingin menambah wawasan maupun keterampilan pada suatu bidang pengetahuan. Setelah pandemi melanda negeri dan  pembatasan sosial skala besar diberlakukan, hampir tidak ada lagi pertemuan di luar jaringan. Pertemuan dalam suatu ruangan yang dihadiri banyak orang, nyaris tidak ada. Nyaris bukan berarti tidak ada sama sekali. Akhirnya, ruang virtul menjadi pilihan.

Perusahaan penyedia layanan video conference pun pintar mengambil  “peluang”. Pada awal pandemi, tersedia layanan gratis. Setelahnya, akun gratisan dengan banyak keterbatasan menggelitik orang untuk meningkatkan diri menjadi akun pro yang berbayar. Tidak ada kata mahal bagi mereka yang membutuhkan.

Hingga kini, ambil saja satu layanan, Zoom sudah sangat lumrah dipakai. Tool-tool di dalamnya  semakin “mudah” digunakan bagi yang terbiasa menjadi moderator, host, atau co-host. Dari jendela kaca itulah kita bisa berburu ilmu.

Berburu Ilmu

Banyak hal yang berubah sejak bulan Maret 2020. Rasanya, dunia IT yang sangat maju ini belum dijelajah jika pemerintah tidak mengumumkan untuk “Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah”. Andai saja tidak, guru seusia saya yang mengajar generasi milenial (generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an) masih asyik dengan kertas, maket, model, peta, maupun benda nyata. Benda-benda itu sebagai alat bantu, media pembelajaran.

Andai tidak pandemi, kehidupan berjalan seperti sebelum bulan Maret 2020, benda-benda yang saya sebutkan di atas masih akrab dengan saya. Meskipun saya pun akhirnya diberi umur dan kesempatan mengajar generasi Z (generasi yang lahir antara tahun 1995-2010). Padahal, generasi Z ini adalah generasi yang hidup pada zaman serba digital.

Demikianlah, dengan adanya pembatasan sosial dan himbauan, bahkan perintah untuk bekerja dari rumah dan belajar dari rumah, kehidupan pun berubah. Tools pembelajaran tatap muka klasikal, secara otomatis tidak bisa dimanfaatkan secara langsung dalam pembelajaran jarak jauh. Apalagi pembelajaran jarak jauh secara online atau dalam jaringan (daring) yang memanfaatkan jaringan internet. Ini perlu dipelajari karena merupakan hal baru. Pengetahuan baru berarti ilmu baru dan ini dibutuhkan oleh sebagian besar guru. Dus, kita tidak boleh diam. Ilmu itu harus diburu.

 

Salam blogger sehat
PakDSus
SDN Mardiharjo, Musi Rawas
Blog https://blogsusanto.com/

 

                      

#NaskahKeenam

#DariBlogMenjadiBuku

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Berburu Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *