Kasih Sayang Seorang Ibu

Anak saya hanya “dua”, dua laki-laki dan dua perempuan. “Keduanya” ada yang masih di rumah, ada juga yang tinggal di lar kota. Saya tidak menceritakan mereka yang tinggal di luar kota. Mereka sudah dewasa dan sudah mampu mengurus dirinya sendiri.

Saya ingin mencurahkan perasaan hati untuk kedua anak yang masih “tersisa” di rumah. Mereka dua orang. Satu orang perempuan, sudah dewasa secara usia. Satunya lagi laki-laki, baru saja melewati tahun ke-14 dalam hidupnya. Karakter keduanya, ada hal yang mirip-mirip sama. Ada juga hal yang satu sama lain berbeda.

Dalam hal makan, misalnya. Si gadis yang mulai dewasa itu, tidak banyak menuntut. Sama dengan adiknya. Bedanya, si mbak atau ayuk ini tidak menolak jika diberi sayur. Sebagian besar sayur yang dimaksak ibunya, ia lahap. Sedangkan adiknya yang belum lama memasuki usia pubertas itu, tidak pernah makan dengan sayur, kecuali sop ayam atau daging. Itu pun hanya kuah dan protein hewaninya saja yang dimakan.

Ikan goreng yang masih hangat, sangat disukai. Jika sudah dingin, kemungkinan besar ikan itu akan utuh hingga esok hari, dan ayahnya yang akan “menyelesaikannya”. Demikian pula untuk tahu, tempe, dan telur ayam. Rupanya anak ini suka kehangatan, ha ha ha.

Saya pernah bertanya kepada istri. “Mengapa kamu masak terus sedangkan sayur masakanmu tidak mereka makan?”

“Tugasku masak dan memberi makan. Hak mereka untuk menikmati atau tidak,” jawabnya lugas.

Tidak ada komentar apa-apa terhadap jawaban ibunya anak-anak itu selain, memeluknya.

 

 

Salam Blogger Sehat,
PakDSus
Blogger Musi Rawas
Blog https://blogsusanto.com/

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#08FebAISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

18 thoughts on “Kasih Sayang Seorang Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *