Menjadi Guru Milenial

Anda generasi apa? Saya generasi yang lahir sesudah generasi baby boomers. Generasi tersebut lahir antara tahun 1946 – 1964. Saya sendiri lahir tahun 1971. Tahun ini terletak antara 1965-1980, rentang tahun generasi X dilahirkan. Jadi, berdasarkan tahun lahir, saya tergolong generasi X.

Pada saat saya menjadi guru, pada tahun 1993, saya mengajar anak-anak generasi milenial. Mereka generasi yang lahir pada rentang tahun 1981-1996. Generasi milenial adalah generasi yang hidup pada zaman yang sedang mengalami perubahan. Mereka mulia mengenal dan menggunakan teknologi.

Saat ini, saya mengajar anak-anak generasi Z. anak-anak yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010. Bahkan sekarang pun saya bertemu dengan peserta didik yang merupakan generasi Alpha. Anak-anak yang lahir sesudah tahun 2010, mereka dinamakan generasi Alpha. Generasi pertama abad ke-21 ini sudah mengenal bahkan menggunakan gadget. Gadget adalah hal yang sangat biasa dan lumrah bagi mereka. Terlebih pada masa pandemi, terasa sekali bahwa mereka adalah generasi yang piawai dengan gadgetnya masing-masing.

Sebagai generasi X, saya beruntung karena bisa bermigrasi dari zaman konvensional menuju zaman digital teknologi. Namun demikiankian, pesatnya perkembangan teknologi, sebagai pendidik yang masih tersisa waktu sepuluh hingga belasan tahun ini saya harus mau menyesuaikan diri. Meskipun tidak sepenuhnya menguasai, namun perlu berburu ilmu untuk itu.

Jika tidak mau mengikuti perkembangan zaman, dalam hal ini teknologi, maka sebagai generasi X saya pasti akan ketinggalan. Oleh karena itu, pada masa tugas jabatan fungsional yang masih tersisa ini, suka atau tidak suka saya harus mau mengembangkan diri. Mengembangkan diri dalam menguasai teknologi, mengembangkan diri untuk belajar menjadi guru milenial.

Tantangan Guru Milenial

Pakar teknologi sekaligus pakar pendidikan masa kini, Prof. Dr. Eko Indrajit, pernah mengatakan bahwa tantangan dunia pendidikan masa kini adalah: “Bagaimana mempersiapkan generasi abad ke-21 yang diajar oleh guru-guru yang dilahirkan pada abad ke-20, di sekolah yang didesain utk kebutuhan abad 19, dengan metode pembelajaran sebagaimana sudah dilakukan semenjaka abad 18.

Kata beliau lagi, dalam satu sekolah barangkali angkatannya kepala sekolah, angkatan guru, dan angkatan siswa berada dalam 3 generasi yang berbeda. Dengandemikian terjadi gap sedemikian besar. Meskipn begitu, satu hal yang harus dipahami oleh para pendidik atau guru adalah pusat pembelajaran adalah pada siswa, bukan pada guru.

Apa yang seharusnya terjadi kemudian? Guru harus menyelami karakteristik peserta didik. Guru harus memahami gaya belajar masing-masing peserta didik. Jadi, guru semestinya menyusun strategi belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik serta gaya yang mereka miliki. Guru dan peserta didik wajib membangun komunikasi agar siswa mampu mencapai kompetensi yang diharapkan.

Jika pada zaman saya sekolah, guru mengajar adalah sumber belajar utama di samping buku paket atau buku pegangan. Sedangkan pada masa kini, sumber belajar bertaburan di mana-mana. Oleh karena itu, guru tidak lagi mengajar sebagaimana guru saya mengajar, tetapi berperan sebagai fasilitator.

 

Salam blogger sehat
PakDSus
SDN Mardiharjo, Musi Rawas
Blog https://blogsusanto.com/

 

                      

#NaskahKetujuh

#DariBlogMenjadiBuku

 

Referensi:

  1. https://binus.ac.id/knowledge/2019/12/populasi-dunia-terbagi-dalam-berbagai-generasi-apa-saja/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *