Ketika Motivasi Menulis Menghilang

Ketika Motivasi Menulis Menghilang

Motivasi menulis beberapa hari ini mengendur. Tentu saya ingin mengencangkannya kembali. Pada hari Senin malam, tanggal 15 Februari 2021, saya ikut menyimak pemaparan Prof. Eko Indrajit di kelas menulis online. Bukan untuk bisa menulis buku dalam satu minggu, namun untuk menyegarkan motivasi menulis agar semangat menulis meningkat kembali.

Mahaguru teknologi informatika, seorang akademisi sekaligus pendidik yang menjadi salah satu anggota Pengurus Besar PGRI itu sangat santai dan piawai menjawab berbagai pertanyaan para peserta dalam grup belajar menulis besutan Omjay itu. Sebagian jawabannya saya nukil untuk dijadikan tambahan bara api semangat.

Surat untuk Anakku yang Kubanggakan

Sebagai orang tua, tentu kita memberi nasihat kepada anak-anak kita. Selain kita ingin menanamkan nilai-nilai yang baik, kita juga ingin menyelamatkan hidup mereka, kini dan masa depan. Namun demikian, nasihat baik kita yang kita sampaikan secara “oral” dengan kata-kata, kadang tidak didengarkan. Bagaimana jika nasihat itu diketik, lalu dicetak, dan diletakkan di meja belajar atau di tempat yang mudah mereka dapatkan.

Ada sebagian yang lebih suka mengetik dan mengirimkan melalui WA. Boleh dan sah-sah saja. Namun, media tulis di dunia nyata memiliki nilai lebih. Di antaranya, ada penghargaan terhadap kerja.

“Tulisan ini dibuat ayah atau ibu saya dengan susah payah. Lalu ia mencetak dan mengantarkan ke tempat saya. Jika lembaran surat ini segera kusobek, betapa kasihan dia.” Kita berharap begitulah kira-kira hal yang terbesit dalam hati anak-anak kita.

Lain halnya jika surat itu dikirim pada layar gawainya. Tulisan di layar HP lebih mudah dihapus, atau perhatian mudah teralih oleh hal-hal lain yang juga ada dalam gawainya. Kecuali, anak-anak berada di tempat yang jauh jaraknya dari rumah.

Mendisrupsi Diri dengan Membayangkan Hal yang Aneh-aneh

Menulis kadang perlu “tekanan” atau tantangan. Jika tantangan dari luar semacam challenge menulis setiap hari atau setiap dua hari sekali tidak ada, maka menciptakan tantangan sendiri bukan hal yang mustahil. Seandainya malaikat membisikkan bahwa usia saya tinggal 24 jam lagi, tidak ada siapa-siapa kecuali tersedia komputer dan Microsoft Word, saya akan berhasil membuat tulisan yang mengharukan dalam waktu 24 jam!

Hal aneh lain yang dibayangkan bisa saja berasal dari lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, atau hal lain yang mendorong kita untuk menuliskan sesuatu.

Jika Anda Melakukan Hal-hal yang Anda Sukai, Anda Tidak Akan Merasa Bekerja

Sebagai orang yang secara kasat mata sukses, Prof. Eko ditanya tentang cara membagi waktu antara bekerja, menulis, karier, pendidikan dan keluarga sukses semuanya. Di luar digaan beliau menjawab dengan kalimat “jika Anda melakukan hal-hal yang Anda sukai, Anda tidak akan merasa bekerja satu detik pun!”

Prof. Eko mengatakan bahwa menulis, bekerja, mendidik, mengasuh anak, itu adalah satu tarikan nafas. Jangan mau diatur oleh waktu, karena kita yang harus mengatur waktu. Kondisi Covid-19 ini adalah saat yang baik untuk belajar mengelola waktu.

Ia menampik bahwa sebenarnya tidak semuanya sukses. Suka duka perjalanan hidupnya banyak. Namun karena ia diajarkan keluarganya untuk selalu melihat nilai positif dalam berbagai kedukaan, keluarganya tetap bersemangat dalam menghadapi apa pun.

“Jika Anda bahagia, pasti orang-orang di sekitar Anda bahagia. Bos Anda ikut bahagia, pasti pasangan hidup Anda pun bahagia. Syukuri apa yang ada, sambil terus berbuat sesuatu tanpa henti … hingga nafas dan titik darah penghabisan,” begitu pungkasnya.

Belajarlah dari Dokter yang Selama Jam Praktik Tidak Bisa Diganggu

Dari beberapa pertemuan belajar menulis, pertanyaan yang sering diajukan adalah tentang cara meluangkan waktu menulis. Rasanya susah sekali membagi waktu dan berkomitmen untuk menulis dan melanjutkan draft yang terbengkalai.

Ternyata, profesor yang satu ini melakukannya dengan membuat perjanjian bersama keluarga. Misalnya ssetiap hari jam 19.00 hingga 21.00 pasti meluangkan waktu untuk menulis dan keluarganya tahu itu. Sebaliknya pada hari Sabtu dan Minggu, libur dari kegiatan menulis karena janji dengan anak-anak untuk bermain game keluarga.

Berkomunikasi meminimalkan tumbuhnya persepsi yang salah dari anggota keluarga lainnya. Namun jika jadwal kegiatan dikomunikasikan anggota keluarga lain pasti mengerti. Tidak ubahnya seperti zaman normal. Waktu pagi anak-anak sekolah, siang anak-anak pulang, sore anak-anak mengerjakan PR dan seterusnya. Memaksa diri memiliki manajemen waktu yang baik adalah kuncinya. Awalnya sulit, tetapi lama-lama menjadi terbiasa. Belajarlah dari dokter yang punya jam praktek. Selama jam itu, dia tidak bisa diganggu. Tetapi di luar jam praktek, silahkan saja.

Seberapa Gilanya Keinginan untuk Menerbitkan Buku, Begitulah Komitmen Anda Menulis

Ada pertanyaan tentang menulis yang dikembalikan lagi kepada penanya. Pertanyaan itu ialah tentang usaha yang harus dilakukan agar dalam menulis selalu bisa konsisten setiap hari di tengah banyaknya pekerjaan dan hilangnya mood menulis.

Pertanyaan itu dikembalikan kepada penanya dengan pertanyaan sekaligus jawaban sebagai berikut.

“Seberapa gilanya keinginan Anda untuk menerbitkan buku? Segila itulah komitmen Anda dalam menulis.”

 

Salam blogger sehat
PakDSus
SDN Mardiharjo, Musi Rawas
Blog https://blogsusanto.com/

 

                      

#NaskahKedelapan

#DariBlogMenjadiBuku

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Ketika Motivasi Menulis Menghilang

  • 16/02/2021 at 00:43
    Permalink

    Mantap Pak D. Sangat menginspirasi

    Reply
  • 16/02/2021 at 00:32
    Permalink

    Membaca tulisan Pak D yang renyah dan mengalir. Rasanya saya harus banyak belar lagi dalam menulis.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *