Nasi Goreng

Hari ini, ibunya anak-anak sebenarnya menanak nasi seperti biasa. Cukup untuk empat orang, kami berdua dengan anak yang masih ada di rumah. Takaran beras yang ditanak cukup untuk dinikmati hingga makan sore. Namun hari ini, hingga sore hari nasi masih lumayan banyak.

Rupanya siang tadi banyak makanan lain yang bisa dinikmati hingga selera makan siang anak-anak berkurang. Kegiatan di tempat kerja memaksa saya harus makan siang dengan hidangan yang disediakan. Dengan demikian, tidak perlu lagi makan siang di rumah. Demikian juga ibunya anak-anak, pulang membawa nasi padang bungkus. Nasi itu jatah makan di tempatnya bekerja namun dimakan di rumah. Pantas saja nasi di magic jar tidak banyak berkurang. Akhirnya, saya ambil inisiatif. Nasi yang masih banyak digoreng saja. Anak-anak pun setuju.

Mereka, dua anak yang masih tersisa di rumah, sesekali makan nasi goreng untuk makan sore di tenda ”Nasgor Brebes” di pasar kuliner malam yang jaraknya dari rumah sekitar 2 kilometer. Tidak hanya itu sebenarnya penjual nasi goreng, tetapi jika dibelikan di tempat lain selalu dikomentari, ”Bukan tempat biasa, ya?”

Malam ini, sesudah maghrib, saya bertindak bak si Mamang Penjual Nasi Goreng. Tidak menggunakan resep khusus, hanya bermodal senang memasak saja. Lagi pula, nasi goreng mana sih yang tidak menggunakan bawang putih dan bawang merah? Setelah kedua bumbu nusantara itu saya giling pada batu giling yang usianya hampir menyamai usia pernikahan kami, saya tambahkan sedikit cabai, dan sedikit gula pasir untuk menemani garam yang sudah lebih dahulu saya lumatkan.

Setelah memotong daun bawang dan seledri menjadi potongan kecil-kecil, saya siapkan wajan penggorengan lengkap dengan minyak goreng di atas nyala biru api kompor gas.

“Sreng …,” bunyi bumbu yang terkena minyak panas menambah semangatku menjadi chef rumahan malam itu. Selagi bumbu setengah matang, segera saya masukkan telur, lalu diaduk, dikacau. Tidak lama kemudian, saya masukkan lada bubuk, sedikit kecap manis, dan nasi ke dalam wajan. Hmm … harum semerbak baunya, seolah memberi isyarat kepada cacing perut menari-nari. Sejurus saya lihat ada tepung bumbu instan yang biasa dipakai untuk menggoreng daging ayam agar krispi. Saya mengambil dua sendok makan dan tanpa ragu saya taburkan di atas nasi. Api kompor saya kecilkan, nasi di wajan dibolak-balik agar bumbu merata. Setelah itu, nyala api kembali saya besarkan kembali. Semakin semangat saya mengaduk. Bunyi gelenting beradunya wajan dengan susuk besi dihiasi bunyi nasi berdesis di atas wajan menyatu. Suara yang mengundang selera untuk segera mencicipinya.

“Yup! Dah siap!” teriak saya kepada anak-anak. Kami pun makan nasi goreng dengan lahapnya.

 

 

Salam blogger Musi Rawas
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

#20FebAISEIWritingChallenge,
#kasihsayang,
#nulis15menit,
#pikir15menit,
#thepowerofkepepet,

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Nasi Goreng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *