Kurikulum Darurat (dalam Kondisi Khusus) dan Kelulusan Siswa Sekolah Dasar

Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran

Memasuki tahun pelajaran 2020/2021, ternyata pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Oleh karena itu, pembelajaran pada tahun pelajaran tersebut tetap menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan moda daring, luring, atau kombinasi keduanya.

Pada tanggal 7 Agustus 2020, pemerintah mengeluarkan Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa
Pandemi COVID-19. Penjelasan sebanyak 26 halaman termasuk halaman judul dan penutup menguraikan berbagai hal berkaitan dengan kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Berikut saya sematkan berkas tersebut.

 

Banyak kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama pembelajaran jarak jauh. Oleh karena itu, dalam melaksanakan kurikulum, pemerintah membebaskan satuan pendidikan untuk memilih di antara tiga pilihan: a) tetap menggunakan kurikulum nasional 2013, b) menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus), atau c) melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Untuk jenjang pendidikan dasar, Kabupaten Musi Rawas tempat saya bertugas, memilih opsi kedua yaitu menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus).

Kurangnya sosialisasi atau bisa jadi kurang cermatnya guru dalam membaca dan memahami kandungan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) menyebabkan saya dan teman-teman guru bingung. Kami, para guru, tidak memahami hilangnya beberapa kompetensi dasar dari buku paket yang mereka gunakan. Alih-alih pemerintah meringankan beban guru dan siswa akibat “daruratnya proses pembelajaran” pada masa pandemi, sebagian besar guru malah bingung.

Kurikulum Darurat (dalam Kondisi Khusus)

Kurikulum darurat bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi Satuan Pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Oleh karena itu, pada kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) terdapat penyederhanaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran. Kompetensi dasar yang dimaksud berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Tentu saja, dengan adanya penyederhanaan tersebut terdapat perbedaan penomoran dan bunyi atau redaksi kompetensi dasar tersebut. Perbedaan penomoran dan bunyi kalimat kompetensi dasar ini membuat guru bingung. Semester ganjil berlalu dengan beragam penilaian terhadap kompetensi dasar yang dilaksanakan. Sebagian masih menggunakan KD (kompetensi dasar) pada kurikulum nasional, sebagian menggunakan KD pada kurikulum darurat (dalam kondisi khusus).

Beruntung, pada awal semester genap, Forum Komunikasi KKG Kabupaten berupaya menyamakan persepsi dalam melaksanakan kurikulum darurat tersebut. Pemerintah menyederhanakan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat dikaji dan disikapi sebagai “rukhsah” dalam penerapan kurikulum. Dengan berdiskusi melalui grup Whatsapp masing-masing jenjang kelas dan mata pelajaran, akhirnya bisa dipahami dan disepakati kompetensi dasar yang diajarkan dan diujikan dalam kurikulum darurat (dalam kondisi khusus).

Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, asesmen tetap dilaksanakan. Prinsip-prinsip dalam asesmen dalam kondisi khusus yaitu: valid, reliabel, adil, fleksibel, otentik, dan terintegrasi.

 

Kebijakan Kelulusan Peserta Didik 

Dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19), pada tanggal 1 Februari 2021, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2021. Dalam Surat Edaran tersebut termuat kebijakan tentang pedoman kelulusan dan kenaikan kelas.

Berkaitan dengan kelulusan, dalam surat edaran itu disebutkan bahwa:

  1. Ujian nasional dan ujian kesetaraan tahun 2021 ditiadakan, dengan demikian UN dan UK tidak menjadi syarat kelulusan.
  2. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi COVID-19 yang dibuktikan dengan rapor tiap semester, nilai sikap minimal baik, dan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

Apa saja bentuk ujian yang dapat dilaksanakan oleh satuan pendidikan? Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk:

  1. portofolio berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap/perilaku, dan prestasi yang diperoleh sebelumnya (penghargaan, hasil perlombaan, dan sebagainya.
  2. penugasan
  3. tes secara luring atau daring; dan/atau
  4. bentuk kegiatan penilaian lain yang ditetapkan oleh satuan pendidikan

 

Kesimpulan

Dari uraian tersebut, apa yang dapat saya simpulkan?

  1. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi COVID-19 yang dibuktikan dengan rapor tiap semester. Rapor siswa kelas 6 setiap semester berupa deskripsi atas pencapaian kompetensi dasar sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Deskripsi pencapaian kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan diperoleh dari penilaian akhir semester atau penilaian akhir tahun. Penilaian akhir Tahun (PAT) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap. Cakupan PAT meliputi seluruh KD pada semester genap. 
  2. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan jika nilai sikap minimal baikSikap di sini adlaah sikap spiritual dan sikap sosial. 
  3. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan jika mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. 
  4. Ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk: 1) portofolio berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap/perilaku, dan prestasi yang diperoleh sebelumnya (penghargaan, hasil perlombaan, dan sebagainya, 2) penugasan, 3) tes secara luring atau daring, dan 4) bentuk kegiatan penilaian lain yang ditetapkan oleh satuan pendidikan
  5. Antara bentuk ujian nomor 3) tes secara luring atau daring, dan 4) bentuk kegiatan penilaian lain yang ditetapkan oleh satuan pendidikan terdapat kata dan/atau, dengan satuan pendidikan dapat menambahkan bentuk ujian pada nomor 4 atau memilih salah satu, nomor 3 atau 4.

Begitu pemahaman yang dapat saya uraiakan, jika ada yang kurang sesuai menurut pembaca, silakan berikan komentar santun pada kolom komentar.

 

Salam blogger sehat
PakDSus
Blogger guru Musi Rawas
https://blogsusanto.com/

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Kurikulum Darurat (dalam Kondisi Khusus) dan Kelulusan Siswa Sekolah Dasar

  • 06/03/2021 at 10:25
    Permalink

    Mantab Pak …! Terimakasih atas pemikiran nya yg sangat membantu kami Kep Sek dalam bertugas.
    Semoga Bpk tetap sehat,sukses dan selalu mengembangkan kreatif nya.

    Reply
  • 06/03/2021 at 05:49
    Permalink

    Selalu muncul apa yg sedang saya perlukan. Mantul Pak De’

    Reply
    • 05/03/2021 at 22:42
      Permalink

      Wah ini beneran seperti ungkapan “cari suluh (penerangan dari daun kelapa yg dibakar) ketemunya senter”. Ini saya baru mempelajari point ttg kriteria kelulusan siswa di kurikulum darurat sekolah kami. Jadi pas banget ada penjelasan dari Pak D ini.
      Mau jadi bahan diskusi juga dengan teman guru, khususnya guru kelas 6.
      Terimakasih ya.

      Reply
    • 05/03/2021 at 22:42
      Permalink

      Wah ini beneran seperti ungkapan “cari suluh (penerangan dari daun kelapa yg dibakar) ketemunya senter”. Ini saya baru mempelajari point ttg kriteria kelulusan siswa di kurikulum darurat sekolah kami. Jadi pas banget ada penjelasan dari Pak D ini.
      Mau jadi bahan diskusi juga dengan teman guru, khususnya guru kelas 6.
      Terimakasih ya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *