Resensi Buku Pahlawan Antikorupsi

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyatakan bahwa pendidikan antikorupsi merupakan pendidikan seumur hidup yang harus ditanamkan sejak dini (KPK, 2008). Pendidikan antikorupsi tidak menjadi pelajaran tersendiri, namun terintegrasi ke dalam tema-tema atau muatan pembelajaran yang sudah ada. Sembilan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter antokorupsi, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, berani, mandiri, sederhana, adil, dan peduli menjadi kewajiban guru/pendidik untuk menyisipkannya ke dalam pembelajaran.

Pembelajaran yang apik, asyik, menarik adalah dambaan siswa atau peserta didik. Pembelajaran yang demikian pun menjadi obsesi setiap pendidik. Namun pembelajaran tentang nilai-nilai, pembentukan karakter tidak seperti pembelajaran eksakta yang contoh konkretnya relatif mudah didapat di sekitar kita.

Pembelajaran tentang nilai-nilai membutuhkan contoh dalam bentuk fenomena yang acapkali dikemas dalam bentuk cerita seperti dongeng atau cerpen.

Pembelajaran tentang nilai-nilai membutuhkan contoh dalam bentuk fenomena yang acapkali dikemas dalam bentuk cerita seperti dongeng atau cerpen. Cerita tersebut dapat dituturkan secara lisan atau disajikan dalam bentuk teks bacaan. Tidak setiap pendidik, termasuk orang tua, memiliki kemampuan bercerita. Jika pun mampu, stok cerita yang dimiliki boleh jadi terbatas.

Identitas dan Sinopsis Buku “Pahlawan Antikorupsi Sudah Adil, Kok!”

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat hadiah. Hadiah itu berupa sebuah buku dari penulisnya. Buku itu berjudul “Pahlawan Antikorupsi Sudah Adil, Kok!”. Sampul bukunya seperti gambar berikut ini.

Foto: Dok. Pribadi

Saya dengan penulis buku tersebut tergabung dalam grup whatsapp yang berisi para blogger guru, Lagerunal (Cakrawala Blogger Guru Nasional). Kika saya beruntung mendapat hadiah pada hari itu, yang menjadi sponsor adalah Mas Momo.

Pucuk dicinta ulam tiba. Saya yang kehabisan kata-kata untuk memberikan contoh nilai-nilai antikorupsi, mendapat amunisi dengan hadirnya buku apik tersebut. Dua belas cerita di dalamnya seakan menjadi penghilang dahaga akan hadirnya buku refernasi guru yang tidak menggurui dan memeras otak untuk memahami. Mari kita selisik buku dengan sampul dominan putih itu.

Judul buku: Pahlawan Antikorupsi Sudah Adil, Kok! Kumpulan Cerita
Pengarang: Momo DM.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama-M&C
Ilustrasi: Dimas Bimo
Penynting Naskah: Karyna Pramesthi
Desain Sampul dan Isi: Tim  DG
Tahun terbit beserta cetakannya: 2018, Cetakan Pertama
Tebal buku: 128 halaman
Harga buku: Rp52.000,00

Sinopsis
Opin, Alvi, dan Nada adalah tiga orang anak pahlawan antikorupsi. Mereka adalah anak-anak yang dalam kehidupan sehari-harinya mengamalkan 9 nilai antikorupsi: jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, berani, mandiri, sederhana, adil, dan peduli. Selain berisi cerita, buku tersebut juga dilengkapi pertanyaan diskusi seputar 9 nilai antikorupsi yang bisa dipakai oleh guru dan pengajar.

Resensi Buku “Pahlawan Antikorupsi Sudah Adil, Kok!”

Hadirnya buku Pahlawan Antikorupsi karya Momo DM ini menambah koleksi buku-buku tentang pendidikan antikorupsi yang sudah ada dan terus digalakkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kemdibud dan KPK. Seperti dikatakan pada kata pengantar, buku tersebut menambah variasi media pengajaran nilai-nilai moral dan menjadi pemantik diskusi para pendidik (guru dan orang tua di rumah).

Dua belas cerita di dalam buku ini terbagi menjadi tiga kisah para pahlawan yang menjadi tokoh. Mereka adalah Mahfuz Zhafir Moukib, Fathan Alvi Ramadhan, dan Nada Nadira Tafani.

Tokoh pertama, Mahfuz Zhafir Moukib, adalah anak lelaki dengan nama keren bermakna kemenangan yang abadi. Anak itu ternyata hanya dipanggil Opin, entah mengambil penggalan kata apa dari namanya, yang jelas ia diceritakan sebagai “si baik hati yang ceroboh”. anak baik hati nan ceroboh itu diceritakan dalam empat cerita yang bagus sebagai pembuka buku ini.

Tokoh kedua, Fathan Alvi Ramadhan, adik Rama berusia 11 tahun adalah anak desa yang berusaha kompak menyelesaikan tugas yang diberikan bapak dan ibunya. Ia dipanggil Alvi, mengambil nama tengah dari deretan namanya yang panjang. Ada empat cerita yang mengisahkan kekompakan adik-beradik itu.

Tokoh ketiga adalah Nada Nadira Tafani. Ia dipanggil Nada, kata pertama dari tiga deret kata pemberian orang tuanya. Gadis cilik berkaca mata ini adalah “kutu buku” pengelola taman bacaan. Kisah tentangnya menjadi subjudul buku ini. Kisah tentang pejuang literasi itu diceritakan dalam empat judul cerita yang amat memukau.

Buku dengan batas usia pembaca 8 tahun ke atas ini tergolong pada jenis “Children Books“. Buku tersebut tercipta karena terinspirasi dari permainan SEMAI yang diciptakan oleh SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi). Enam puluh empat lembar selain sampul depan dan belakang membuat buku ini jauh dari kesan buku yang “berat”. Bandingkan dengan buku Harry Potter yang tebalnya bersenti-sentimeter.

 

Kelebihan 

Buku anak-anak yang sejatinya merupakan kumpulan cerita ini dikemas dalam balutan sampul yang menarik perhatia (eye cathing) berwarna dominan putih, dengan hiasan highlighting berwarna kuning. Menurut saya, ini pilihan warna yang tepat. Putih umumnya dianggap warna yang suci bersih. Nilai-nilai antikorupsi diharapkan menjadikan pribadi yang berhati putih. Hal itu sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan agama.

Tulisan berwarna hijau pada kalimat “Sudah adil, kok!” menyejukkan pandangan. Selain itu, menurut saya menyiratkan makna agar jalan terus. Teruslah berbuat adil dan nilai-nilai antikorupsi lainnya. Seperti lampu lalu lintas, jika warna hijau menyala tanda kendaraan kita diperbolehkan melaju.

Sebagai buku anak-anak, apalagi buku cerita, ilustarsi akan membantu pembaca (terutama anak-anak) mengkonkretkan imajinasi. Bukankah menurut Jean Piaget anak usia 8 tahun ke atas tergolong usia tahap operasional konkret? Ilustrasi yang proporsional pada setiap cerita tampil dengan menarik. Gambar anak animasi tampil secara wajar dengan aneka mimik dan gambar adegan tertentu.

Cerita yang disajikan adalah cerita keseharian. Piawainya sang penulis berimajinasi mengisahkan aneka peristiwa yang pada akhir ceritanya mengandung kesimpulan tersiratnya nilai antikorupsi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena pembaca tidak “dibodohi” dengan memberitahu pembaca misalnya dengan kalimat, “Itulah nilai kejujuran yang harus kita kembangkan.”

Teknik penulisan rata kiri tidak melelahkan mata disebabkan adanya spasi antarkata yang lebar jika dibuat rata kiri kanan (justify). Penulisan dialog yang menjorok ke kanan juga memudahan pembaca menikmati penggambaran percakapan yang terjadi.

Penerapan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang sangat teliti pada  cerita yang dimulai pada halaman 9 hingga berakhir pada halaman 128 dapat menjadi “pedoman berjalan”. Artinya, pembaca tidak perlu sibuk membuka aturan misalnya pada penulisan tanda petik pada pertanyaan, penggunaan huruf kapital dan huruf kecil, tanda baca, konjungsi, dan sebagainya.

 

Kekurangan

Buku yang sarat kelebihan ini menyamarkan kekurangan yang menurut saya hampir tidak ada. Kekurangan pada bagian teknis yang saya tangkap itu misalnya pada bagian kata pengantar halaman 2. Pada baris pertama paragraf ketiga ditulis tanpa spasi antarkata.

Kekurangan lainnya adalah penulisan judul pada daftar isi yang tidak sama dengan judul cerita pada isi buku. Misalnya penulisan judul Dongeng Untuk Rama pada halaman 7 tidak tepat. Itu adalah petunjuk yang mengarahkan pembaca ke halaman 79 dengan judul Dongeng untuk Rama yang penulisan judulnya sudah tepat karena kata “untuk” meskipun judul ditulis dengan huruf kecil.

Satu lagi kesalahan pada halaman daftar isi, yakni penulisan Sudah Adil Kok yang merujuk pada halaman 121. Cerita terakhir pada halaman 121 ditulis dengan judul Sudah Adil, Kok! Penggunaan tanda koma dan tanda seru yang sudah tepat pada judul cerita ini tidak dilakukan pada halaman daftar isi.

Itulah sekelumit kesalahan penulisan yang saya temukan.

Penutup  

Momo DM sebagai penulis telah menyajikan dua belas tulisan yang sejatinya adalah pembelajaran pada pendidikan antikorupsi dalam bentuk cerita fiksi yang bisa saja terjadi di sekitar kita. Cerita yang terjadi pada anak-anak kita. Selain memberi gambaran akan nilai-nilai antikorupsi, cerita dalam buku tersebut juga mengandung solusi jika anak kita mengalami hal-hal yang sama.

Saya merekomendasikan kepada teman-teman pendidik (juga orang tua) untuk memiliki buku ini lalu meminta anak-anak kita untuk membacanya. Saya juga merekomendasikan kepada Dinas Pendidikan (terutama di tempat saya) untuk menjadikan buku ini sebagai salah satu buku referensi dalam pendidikan antikorupsi. Buku dengan harga Rp52.000,00 menurut saya bukan harga yang mahal dibandingkan dengan isinya yang sangat berharga.

Semoga buku ini menginspirasi teman-teman di daerah untuk memperkaya literasi antikorupsi dengan karya-karya lainnya.

Foto Identitas Buku dan Daftar Isi (Dok. Pribadi)

 

Salam blogger sehat
PakDSus
Blogger Guru Musi Rawas
https://blogsusanto.com/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Resensi Buku Pahlawan Antikorupsi

  • 20/03/2021 at 09:15
    Permalink

    Mantab. Terimakasih telah berbagi dan menginspirasi kami semua. Good job. Lanjutkan pa!

    Reply
  • 19/03/2021 at 13:17
    Permalink

    Matur nuwun resensinya, Pak D. Insyaallah segera menyusul seri keduanya lewat penerbit berbeda. Masih ada stok 15 cerita yang siap di-lay out. 🙂

    Reply
  • 19/03/2021 at 12:39
    Permalink

    Mantapp.. Kerenn.. Sungguh dikemas dengan bahasa yang menarik dan mudah dipahami. Joss gandoss Pak D memukau.

    Reply
  • 19/03/2021 at 12:24
    Permalink

    Sudah beli bukunya dan sekarang entah berada di tangan siapa. Bukunya berputar dari satu anak ke anak lainnya 🙂

    Reply
  • 19/03/2021 at 11:48
    Permalink

    Saya setuju, pendidikan karakter lebih mengena dan membekas disampaikan dengan media buku cerita.
    Pak De keren. Tetap setia menulis di grup ini.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *