Bineka Itu Kita

 

Bermula dari Pertanyaan Si Bungsu

blogsusanto.com

 

“Ayah, kenapa semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika?” tiba-tiba anak bungsu saya yang duduk di kelas delapan bertanya.

Saya yang tidak menduga mendapat pertanyaan itu. Namun pas kebetulan malam itu saya sedang mencari-cari kata berawal huruf B. Saya mencari kata yang pas sebagai tema menulis pada tantangan #KamisMenulis Sobat Lage. Setelah menimbang-nimbang, kata “bineka” menjadi kata yang akan menjadi tema tulisan saya. Saya pun menjawab pertanyaan anak bungsu saya tersebut.

“Pemerintah menetapkan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan resmi Indonesia pada 17 Oktober 1951 melalui Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara, Mas!”

Setelah menjawab pertanyaannya, saya pun menyibukkan diri sebagai sahabat Lage yang tetap ingin ikut meramaikan tantangan menulis kata berawal huruf “b”.

 

 

Belum juga dapat satu paragraf, si Mamas bertanya lagi, “Kenapa sih, Yah. Bhinneka itu nulisnya pakai BH?”

Agak terkesiap ketika ia bertanya seperti itu, namun segera kutepis pikiran negatif setelah mendengar dua huruf itu disebut. Oh, yang dimaksud si bungsu saya itu benar adanya. Kata bhinneka memang ditulis dengan ejaan /b-h-i-n-n-e-k-a/.

“Sebentar, Nak. Ayah cari dulu referensinya!” jawab saya sembari googling.

Mana yang Baku, Bineka atau Bhinneka 

Ternyata, masyarakat kerap mempertukarkan penulisan kata Bhinneka yang ada dalam semboyan negara kita dengan kata bineka yang memiliki ejaan /b-i-n-e-k-a/. Asal muasal kata itu memang dari semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika, tersurat pada pita yang dicengkeram Burung Garuda Pancasila. Arti semboyan itu adalah berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, kata bhinneka itu berasal dari bahasa Jawa kuno, Sansekerta. Kata itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Konsonan “bh“dalam Jawa kuno berubah menjadi “b” dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, konsonan “n” yang terdiri dari dua huruf, dalam bahasa Indonesia baku diserap menjadi satu huruf.

Mari kita cari dalam kamus! Saya tidak memiliki kamus besar Bahasa Indonesia versi cetak (buku), namun saya mempunyai pranala daring pada https://kbbi.web.id/ dan kamus besar Bahasa Indonesia versi offline 1.4. Segera saya ketikkan kata “bhinneka” pada kolom pencarian. Kedua versi kamus itu tidak menemukan kata dengan ejaan /b-h-i-n-n-e-k-a/.

Lalu, saya mengetikkan kata “bhineka” konsonan bh dengan satu konsonan n pada KBBI Ofline 1.4. Hasilnya adalah sebagai berikut.

blogsusanto.com

Kata “bhineka” tidak ditemukan pada KBBI offline 1.4.

Namun jika diketikkan pada pranala https://kbbi.web.id/bhineka, hasilnya sebagai berikut.

https://kbbi.web.id/bineka (diakses 1-4-2021)

Kata tersebut (bhineka) ditemukan dan ada arti yang menjelaskannya. Namun, tidak ada uraian tentang pemenggalan kata sebagaimana kata baku lainnya yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. Bandingkan dengan kata bineka yang saya ketikkan pada laman tersebut dengan hasil sebagai berikut.

 

 

Demikian juga ketika dicari pada kamus offline 1.4.

Kata tersebut disertai dengan penulisan pemenggalan berdasarkan suku katanya, sebagaimana lazimnya kata baku yang ada dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Dengan demikian jelaslah bahwa selain penulisan kalimat semboyan negara, kata baku yang berarti beragam adalah bineka bukan bhineka. Bineka menempati kelas kata sifat yang berarti beraneka ragam. Pada saat mendapat konfiks atau imbuhan /ke-an/ ia masuk ke kelas kata benda yaitu kebhinekaan. Makna kebhinekaan yaitu keberagaman.

Bineka Itu Kita

Uraian tentang penulisan bineka dengan dan tanpa “bh“pun saya jelaskan pada si bungsu.

“Bagaimana, Mas? Sudah jelas?” tanya saya menegaskan.

Anak bungsu saya pun menjawab, “Jelas, Yah!”

“Bagus!” puji saya kepadanya.

“Nah, Mamas cari sejarah semboyan negara kita tersebut!” ajak saya bernada perintah selanjutnya.

Kami berdua pun browsing, menyelusuri internet mencari sejarah kalimat Bhinneka Tunggal Ika, semboyan resmi Indonesia pada 17 Oktober 1951 melalui Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara itu.

“Baik, Yah. Ini aku temukan!” teriaknya.

Ia pun dengan suara keras membaca kalimat yang tertulis pada sebuah website. Belakangan saya tahu bahwa ia membuka kumparan (dot) com.

“Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sejatinya menggambarkan keadaan tentang Nusantara yang kaya akan keberagaman, mulai dari ras, suku, agama, budaya, dan lainnya. Meskipun masyarakat beragam, semboyan ini mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua warga negara indonesia adalah satu kesatuan. Seluruh masyarakat Indonesia harus menerapkan sikap toleransi dan saling mencintai yang tinggi agar masyarakat Tanah Air tetap aman, damai, dan tenteram. Begitu, yah!” katanya setelah selesai membacakan kalimat yang tertulis di laman situs itu.

“Mamas sudah tahu, bukan? Arti bineka adalah beragam. Lawan bineka adalah tunggal artinya seragam. Indonesia yang terdiri dari beribu pulau adalah negara dengan suku bangsa terbanyak di dunia. Merujuk pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa. Mamas tahu, berapa banyak bahasanya?” tanya saya selanjutnya.

“Tidak tahu, yah!” jawabnya.

“Coba ketik di web address tulisan berikut: https://www.cekaja.com/info/bahasa-daerah-di-indonesia#!

Sikap Kita terhadap Kebinekaan

Lelaki ketiga dalam rumah saya itu pun mengetikkan alamat yang saya diktekan. Ia mengetik pada laptop pemberian kakaknya yang sudah berfungsi seperti desktop lantaran baterainya sudah soak.

“Wow, ternyata ada 718 bahasa daerah di Indonesia pada tahun 2020, Yah!” ucapnya.

“Nah, suku bangsanya ada 1.340 dan bahasa daerah sebanyak 718 bahasa, betapa Indonesia merupakan negara yang bineka atau beragam. Tidak ada negara dengan suku bangsa sebanyak itu. Kebinekaan apalagi yang ada di Indonesia, Mas?” tanya saya agar dia tidak bengong.

“Agama, mungkin?” jawabnya ragu.

“Bukan mungkin, tetapi iya! Di Indonesia tumbuh subur beragam agama dan kepercayaan. Kita harus menjalankan agama kita dengan sebaik-baiknya. Namun, kita juga harus menghormati kegiatan keagamaan orang lain yang berbeda dengan kita. Mamas mendengar ada bom di depan gereja Katedral Makasar?” tanya saya sambil menyelisik apakah anak itu cukup update dengan kejadian terkini yang viral, baik di media mainstream maupun media sosial.

“Tahu, lah!” jawabnya singkat.

“Bagus, jika Mamas tahu. Mestinya itu tidak terjadi, ya. Membunuh diri itu perbuatan tidak dibenarkan. Hanya Allah, Tuhan Yang Mahakuasa yang berhak mencabut nyawamu dan nyawa orang lain. Kamu tidak boleh menghilangkan nyawamu sendiri apalagi nyawa orang lain. Jangan karena ada perbedaan kita saling bermusuhan. Ingat, apa semboyan negara kita?” tanya saya setelah menjelaskan panjang lebar.

“Bhinneka Tunggal Ika, yah!” jawabnya.

“Jos!” Saya merespon dengan mengacungkan ibu jari ke atas.

Hari pun semakin malam. Saya meminta ia menyudahi dan menutup peramban yang terbuka di laptopnya. Meskipun malam ini malam libur, tidak baik anak-anak di atas jam 21.30 baru tidur .

 

 

 

 

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/ 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

16 thoughts on “Bineka Itu Kita

  • 03/04/2021 at 04:31
    Permalink

    Obrolan yang sangat bermakna. Ditunggu obrolan selanjutnya. Semangat dan sukses Dhe….

    Reply
  • 02/04/2021 at 08:00
    Permalink

    mantap diskusi sama anak tentang wawasan kebangsaaan.

    Reply
    • 10/04/2021 at 11:29
      Permalink

      Terima kasih ilmunya, yang mungkin kita ingat sewaktu kecil,. dan sekarang menjadi ingat kembali setelah mendapatkan pencerahan tentang Bhinneka Tunggal Ika.

      Reply
    • 02/04/2021 at 12:44
      Permalink

      Tulisan yang bernas. Pak D selalu mantull.
      Lain kali saya nulis tanpa “BH”, nulis “bineka” maksudnya

      Reply
  • 01/04/2021 at 23:51
    Permalink

    meski menulis dengan judul yg sedikit nyeleneh,tapi yakin kok pasti informasinya jelas.sekarang jadi tahu.thanks sdh mau berbagi.

    Reply
  • 01/04/2021 at 23:05
    Permalink

    Cakeep ini seperti Bianglala Kata…
    Pemilihan materinya juga keren…

    Awalnya saya kita penulisann bineka (seperti itu) salah. Ehhh ternyata setelah membaca hingga titik terakhhir ternyata penulisan tersebut benar.

    Kemudian muncul pikiran jorok setelah membaca BH, namun lagi-lagi pemilik blog menjelaskannya dengan ringan, sehingga cepat pikiran berubah menjadi bersih kembali.

    Sehat selalu Pak D

    Reply
  • 01/04/2021 at 23:05
    Permalink

    Informatif sekali, Pak D. Banyak pengetahuan didapatkan dari obrolan hangat dengan anak. Terima kasih sudah berbagi.

    Reply
  • 01/04/2021 at 22:55
    Permalink

    Wah diskusi masalah bhinneka saja hampir separoh malam…… kesimpulannya menarik juga. Karena ada imbuhan yang sebenarnya tidak.sah dan tidak ada di kamus.kita yaitu bh….huruf kecil saja. Jika dibetulkan usulnya kemana ya pak D?
    Salam Literasi pak D Susanto

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *