Cinta Tanah Air

 

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Diiringi cukulele alat musik keroncong yang saya miliki, saya nyanyikan lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud. Lagu itu sering saya ajarkan di kelas. Kadang meminta anak-anak menyanyikannya bersama-sama. Setelah pandemi Covid-19 kami tidak pernah lagi bersama-sama menyanyikan lagu itu di kelas. Tepatnya semenjak pembelajaran tatap muka dilarang di daerah kami.

Makna lagu “Tanah Airku” berisikan tentang kecintaan terhadap negara kita, Republik Indonesia ini. Tanah air Indonesia tidak akan pernah terlupakan dan akan selalu ada di hati. Kebanggaan akan tanah air membuat kita peduli dan mau berbuat yang terbaik untuk tanah air kita.

Melalui buku-buku sejarah, kita tahu bahwa Indonesia merdeka karena kepedulian para pemuda pada saat itu. Digelarnya sumpah pemuda sampai akhirnya dibacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia membuktikan bahwa terdapat kepedulian dan keinginan yang kuat untuk merdeka. Setelah negara Republik Indonesia lahir, bangsa ini memerlukan kepedulian rakyatnya untuk membangun bangsa, membangun peradaban, perekonomian, budaya, pendidikan, dan kemandirian bangsa. Kepedulian rakyat untuk membangun mustahil terwujud jika kita tidak memiliki rasa cinta tanah air.

Apakah Cinta Tanah Air Itu?

Saya meminta kepada si bungsu untuk browsing pengertian cinta tanah air. Saya suruh dia melakukan itu agar ia tidak terlalu larut dengan tayangan youtube favoritnya di laptop warisan kakaknya.

“Sudah ketemu, Mas?” tanya saya.

“Ayah nyuruh apa?” tanyanya berlagak tidak tahu.

“Hmm … yang Ayah suruh tadi. Pengertian cinta tanah air!” saya menegaskan.

“Oh … he he he … sebentar yah. Banyak sekali ini,” katanya merespon setelah beberapa saat.

“Baik, silakan baca!” Saya pun memberikan perintah.

“Sikap cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap bangsa,” bacanya lantang.

“Ya, cinta itu artinya suka sekali atau sayang benar. Tanah air adalah istilah yang digunakan bangsa kita untuk menyebut seluruh bumi Indonesia yang terdiri dari darat dan lautan. Istilah ini didasarkan pada konsep wawasan nusantara yang terbentuk dari kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia,” saya menambah penjelasan.

“Cinta tanah air juga sebagai perilaku untuk mencintai wilayah nasional sebuah bangsa, sehingga harus selalu siap membela tanah air Indonesia terhadap segala bentuk intervensi maupun tantangan dari siapa pun,” tambah saya lagi.

“Kok aku seperti belajar IPS di kelas sih, Yah?” protes si bungsu.

“Ha … ha … apakah belajar harus selalu di kelas? Justru pada saat ini kita harus mencari sendiri materi pelajaran karena tatap muka masih dilarang.” Saya pun mencoba meyakinkan dia agar tidak kesal.

Perilaku Sikap Cinta Tanah Air

Banyak perilaku yang dapat ditunjukkan sebagai pencerminan sikap cinta tanah air tersebut.

Pertama, bangga sebagai bangsa Indonesia. Misalnya dengan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mencintai budaya Indonesia. Bangga mencintai dengan membeli produk buatan Indonesia.

Kedua, menjaga nama baik bangsa Indonesia. Sebagai anggota keluarga, kita wajib menjaga kehormatan dan nama baik keluarga, demikian pula Indondesia. Caranya dengan mematuhi peraturan yang ada di negeri tetangga. Misalnya, tidak mengotori tempat wisata dan membuang sampah sembarangan.

Ketiga, mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Hukum dibuat untuk dipatuhi agar kehidupan menjadi teratur. Mematuhi hukum yang berlaku misalnya dengan mematuhi peraturan lalu-lintas pada saat berkendara, taat membayar pajak, tidak melakukan perbuatan melawan hukum.

Keempat, menggunakan hak pilih saat pemilihan umum. Jika telah memenuhi persyaratan gunakan hak pilih dengan baik. Menurut berita, secara nasional partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2019 mencapai 81 persen lebih atau meningkat hampir 10 persen jika dibandingkan pada Pemilu 2014.

Kelima, belajar dengan sungguh-sungguh. Sebagai pelajar dan pembelajar, belajar sungguh-sunggguh di sekolah dan di rumah adalah cara untuk mencintai Indonesia. Mempelajari hal-hal yang berguna untuk kemajuan dan pembangunan negeri adalah sikap bijaksana.

Keenam, merawat fasilitas umum. Fasilitas umum seperti halte bus, rambu-rambu lalu-lintas, terminal dan sarana transportasi umum seperti kereta api jangan dirusak. Fasilitas tersebut dibangun dengan uang pajak warga negara dan disediakan untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.

Ketujuh, menjaga kelestarian lingkungan hidup. Caranya dengan menjaga pohon dan hutan, memelihara kebersihan lingkungan, sungai, pantai dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Kedelapan, rukun dalam kebinekaan. Kita tidak memungkiri perbedaan, termasuk perbedaan dalam berpendapat. Bila ada perbedaan, musyawarah untuk mencapai mufakat merupakan jalan terbaik. Meskipun begitu, pengambilan suara terbanyak pun bukan hal yang dilarang.

Kesembilan, tidak menyebarkan ujaran kebencian dan/atau berita hoaks. Berita bohong ada yang mengandung fitnah. Hal itu dapat mengoyak rajut kebangsaan yang telah terjalin sejak lama.

Menghindari Pembahasan Hal yang Sensitif

Hal yang paling rentan menjadi pemecah belah bangsa adalah isu tentang agama. Hal-hal yang berkaitan dengan agama dan keyakinan menjadi hal yang sangat sensitif dan dapat memicu kekerasan dan tindakan anarkis. Bahkan peristiwa terorisme yang terjadi beberapa waktu terakhir ini adalah contohnya. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang rukun antarumat beragama perlu senantiasa kita pupuk. Ingat, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bineka. Bineka suku, ras, bahasa, maupun agama.

Para pendiri bangsa telah sepakat bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah ideologi bangsa. Ideologi, dalam kamus besar bahasa Indonesia, salah satu maknanya adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya. Butir-Butir Pengamalan Pancasila Sila pertama Pancasila tersebut meliputi: 1) bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 4) membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 5) agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, 6) mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, 7) tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Ketujuh butir pengamalan sila pertama Pancasila tersebut memberi pedoman kepada seluruh bangsa Indonesia agar tercipta kerukunan hidup antarumat beragama. Setiap manusia memiliki keyakinan terhadap Tuhan dalam bentuk agama maupun kepercayaan, namun ia tidak boleh memaksakan agar orang lain memiliki kepercayaan yang sama dengannya karena agama dan kepercayaan merupakan hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya.

***

Tepa Selira

Saya pun bertanya kepada bungsu.

“Mas, apakah boleh kita memaksakan agama dan kepercayaan kita kepada orang lain?” Film yang sedang bungsu tonton pun ia pause.

“Tidak boleh, lah!” jawabnya.

“Mengapa?” tanya saya.

“Aku pun tidak mau jika orang memaksaku ikut agamanya,” jawabnya.

“Bagus. Itulah toleransi. Dalam bahasa Jawa ada istilah tepa slira yang sudah menjadi kata baku Bahasa Indonesia,” kata saya.

“Apa artinya itu, Yah?” tanya si bungsu.

“Tepa salira, jika dipenggal sesuai suku katanya menjadi /te·pa sa·li·ra/ adalah kelas kata adjektiva (kata yang menjelaskan nomina atau pronomina) artinya dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi. Contoh kalimatnya misalnya: “Kita harus mempunyai rasa — terhadap sesuatu yang dirasakan dan diderita orang lain.” Saya jelaskan panjang lebar pengertian tepa salira meskipun saya tahu anak kelas delapan itu belum mau paham.

“Ah, aku idak tahu itu,” kata si bungsu dengan logat bahasa daerah Sumatera Selatan-nya dengan cuek, tidak acuh meninggalkanku. Ternyata, temannya sudah menunggu untuk pergi memancing ke sungai dekat sawah tetangga desa.

 

Bahan bacaan:
kompas.com
aswata.co.id
indomaritim.id
(https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_air)

 

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Cinta Tanah Air

  • 05/04/2021 at 18:52
    Permalink

    Waaawh serasa belajar dengan Pak Guru.. Niih asik..banyakilmu yang di dapat. makasih Pak D

    Reply
  • 04/04/2021 at 23:40
    Permalink

    saya suka sekali lagu tanah airku ini, setiap menyanyikannya ada bangga sekaligus haru sendiri.

    Gara-gara lagu ini juga waktu SD saya juara lomba menyanyi solo, dulu. Klo sekarang sih suaranya udah sumbang

    Reply
  • 04/04/2021 at 22:50
    Permalink

    tepa seliro sekarang ini yg sedang di angkat oleh kementrian agama yaitu moderasi beragama. terima kasih pak guru sudah mengingatkan kembali tentang cinta tanah air….

    Reply
  • 04/04/2021 at 22:42
    Permalink

    Terima Kasih pak D…
    Sudah mengingatkan akan Tanah Airku Indonesia

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *