Disiplin, Berani, dan Setia

Hari Minggu cuaca sangat cerah. Saya heran, si bungsu tidak ada bosannya menonton channel Youtube kesukaannya. Saya ikut melihat. Yang diputarnya adalah video perang, boleh jadi game perang. Saya tidak mau bertanya tentang itu, toh hari ini hari Minggu.

“Tidak ada acara mancing, mas?” tanya saya.

“Tidak, Yah. Kak Randi pergi dengan temannya,” jawab bungsu sambil tetap menatap layar monitor.

“Lama tidak latihan pramuka, ya?” tanya saya berikutnya.

“Iya, lah. Kan Corona! Pernah ada lomba daring, sih. Tapi aku tidak ikut,” jawabnya.

“Masih ingat Dasa Darma Pramuka, nggak?” tanya saya menyelidik.

“Hmm … cuman sampai empat sih,” kilahnya.

“Coba sebutkan!” perintah saya.

Dengan mimik kurang setuju, ia menghentikan videonya.

“Masa sekarang? Ayah seperti pembina pramuka, bae!” protesnya. Logat Melayu Palembangnya pun keluar, meskipun ia keturunan Jawa.

“Lho katanya hafal sampai empat?” tagih saya.

Ia pun menjawab, “Hmm … kalau nggak salah, ya. Satu, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dua, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Tiga, Patriot yang sopan dan kesatria. Empat, patuh dan suka bermusyawarah.”

“Cuma itu yang aku ingat,” katanya.

“Ya nggak papa, bagus. Tapi nilainya baru empat puluh, karena masih enam butir lagi. Makanya, jangan buka Youtube terus, sesekali buka juga pramuka.id.!” kata saya.

“Emang ada apa di sana?” tanyanya ingin tahu.

“Buka saja, ketik dengan benar pada address bar!” perintah saya lagi.

Anak lelaki kelas delapan yang tingginya sudah sama dengan saya itu pun dengan lincah mengetikkan jemarinya pada keyboard eksternalnya. Maklum, laptop warisan kakaknya itu sudah rusak papan ketiknya. Terpaksa disambung dengan papan ketik desktop yang nyaman untuk bermain “game”.

“Sudah. Tapi tidak ada dasa darma pramuka,” kata si bungsu setengah memrotes.

Saya pun mafhum, tidak secara eksplisit tercantum di sana.

“Coba cari bagian footer,” kata saya. Rupanya ia tidak asing dengan istilah footer.

Undang-Undang Pramuka

Segera saja ia menuju bagian bawah situs resmi kwartir nasional gerakan pramuka Indonesia itu.

“Cari dan klik pada tulisan “UU”. Apa yang Mamas temui?” tanya saya pula.

“Undang-Undang Pramuka, yah!” katanya.

“Benar! Di sana akan Mamas temui dasa darma pramuka,” kata saya.

***

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka adalah undang-undang yang mengatur secara khusus tentang gerakan pramuka di Indonesia. Lahirnya undang-undang ini setidaknya berdasarkan pertimbangan empat hal sebagai berikut.

  1. Pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan potensi diri serta memiliki akhlak mulia, pengendalian diri, dan kecakapan hidup bagi setiap warga negara demi tercapainya kesejahteraan masyarakat;
  2. Pengembangan potensi diri sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam berbagai upaya penyelenggaraan pendidikan, antara lain melalui gerakan pramuka;
  3. Gerakan pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda sehingga memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global;
  4. Peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini belum secara komprehensif mengatur gerakan pramuka;

Dalam Undang-Undang Gerakan Pramuka tersebut, pramuka memiliki kode kehormatan. Kode kehormatan adalah janji dan komitmen diri serta ketentuan moral pramuka dalam pendidikan kepramukaan.

Ada dua kode kehormatan pramuka, yaitu Satya Pramuka dan Darma Pramuka.

Satya Pramuka berbunyi “Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, menolong sesama hidup, ikut serta membangun masyarakat, serta menepati Darma Pramuka.

Darma Pramuka sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berbunyi: Pramuka itu:

  1. takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. cinta alam dan kasih sayang sesama manusia;
  3. patriot yang sopan dan kesatria;
  4. patuh dan suka bermusyawarah;
  5. rela menolong dan tabah;
  6. rajin, terampil, dan gembira;
  7. hemat, cermat, dan bersahaja;
  8. disiplin, berani, dan setia;
  9. bertanggung jawab dan dapat dipercaya; dan
  10. suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Disiplin

Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang-orang yang selalu datang tepat waktu. Ia pun beristirahat tepat waktu. Ada siswa yang rajin mengumpulkan tugas. Lalu, orang-orang yang selalu berjamaah di masjid ketika waktu shalat tiba. Demikian pula pengendara sepeda motor yang tidak pernah lupa mengenakan helm, sopir mobil yang tidak pernah lalai memasang sabuk pengaman. Itu semua contoh perbuatan disiplin. Disiplin adalah sikap taat, patuh pada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Bagaimana sikap disiplin terbentuk?

Pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Orang tua memiliki peran penting sebagai figur yang diteladani. Anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Orang tua yang disiplin bangun pagi, lalu melatih anak-anaknya bangun pagi setiap hari, maka anak akan bangun pagi secara teratur. Demikian pula misalnya, orang tua menetapkan peraturan agar anak-anaknya harus sudah di rumah dan mandi sore tidak lebih dari pukul lima petang. Pembiasaan ini terus-menerus dilakukan.

Di sekolah, guru membiasakan anak-anak untuk berdisiplin melalui berbagai kegiatan, seperti: upacara, berpakaian seragam, tugas kebersihan, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan datang ke sekolah lebih awal. Demikian pula dalam kegiatan pramuka. Para pembina memberikan latihan yang menantang, menarik, dan menumbuhkan kesadaran untuk melakukannya.

Jadi, disiplin tidak datang dengan sendirinya. Sikap itu perlu dilatih. Pelatih pertama dan utama adalah orang tua, selanjutnya guru, dan pembina lain di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam disiplin terkandung nilai-nilai kesetiaan, keteraturan, ketertiban, dan kesadaran untuk melakukan.

Berani

Berani adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya; tidak takut (gentar, kecut). Demikian penjelasan makna berani dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kata lain berani adalah bernyali.

Berani merupakan sikap yang harus dimiliki oleh siapa saja jika ingin maju, sikap itu berbeda atau tidak sama dengan nekat. Berani adalah tindakan melakukan sesuatu penuh dengan perhitungan. Sementara nekat sebaliknya. Sikap berani diperlukan ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan, menaklukkan tantangan yang diberikan, mencoba sesuatu yang baru tanpa rasa takut akan gagal.

Agar seseorang mampu mengambil sikap berani, ia harus mendahulukan kewajiban dibandingkan hak. Ketika ia sudah melaksanakan kewajiban dan dibalik kewajiban ada sesuatu yang harus diterimanya dengan sendirinya akan memunculkan keberanian.

Setia

Saya pernah melihat (belum membaca) buku berjudul SETIA. Setia di sana adalah singkatan dari selagi engkau taat dan ingat Allah. Namun dalam tulisan ini setia yang dimaksud adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya). Setia disebut juga patuh atau taat. Setiap orang bebas menerjemahkan arti setia. Namun pada intinya, setia adalah ketaatan terhadap sesuatu yang menjadi pilihan.

Setia juga bisa diartikan sebagai perbuatan mematuhi kesepakatan bersama. Lawan dari setia adalah selingkuh. Selingkuh itu tidak berterus terang, curang, menyembunyikan sesuatu, dan menyimpang dari kesepakatan yang telah dibangun. Orang yang berselingkuh melakukannya tanpa sepengatuhan pihak lain yang bersepakat.

Kesimpulan

Tiga kata dalam darma kedelapan pramuka ternyata memiliki keterkaitan. Disiplin merupakan kesadaran diri untuk melakukan sesuatu tanpa diperintah atau takut akan sanksi hukum. Ketika ia telah melakukan sikap disiplin sehingga tidak melanggar aturan dan mendahulukan kewajiban tumbuh rasa berani. Keberanian mengambil sikap untuk taat terhadap sesutu yang disepakati memunculkan kesetiaan.

Disiplin, berani, dan setia dilaksanakan, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Perbuatan itu dilakukan secara sukarela dan ditaati demi kehormatan diri. Demikian pula dengan darma pramuka yang lainnya.

 

Gambar header: Designed by brgfx / Freepik

 

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Disiplin, Berani, dan Setia

  • 06/04/2021 at 04:48
    Permalink

    Membaca obrolan Pak D dengan putranya selalu menyenangkan, bermanfaat sekali bagi saya yang masih jadi orang tua kemarin sore

    Reply
  • 06/04/2021 at 03:21
    Permalink

    Diskusi yg sangat menarik. Memang Pa,,, kalau saya perhatikan cara penerapan karakter ke anak zaman sekarang…yaitu diajak ngobrol dulu…baru kita bisa mengajaknya untuk hal-hal yg lebih serius. Senangnya punya teman diskusi setidaknya dia sudah berani mengeluarkan pendapatnya. Berani, disiplin dan setia. Sudah dapat diterapkan pada anak kita. Mantap!!!

    Reply
  • 05/04/2021 at 07:50
    Permalink

    Pak D, gambarnya itu keren, buat sendiri ya Pak D, jadi keingat masa SD waktu pramuka dulu

    Reply
  • 05/04/2021 at 02:28
    Permalink

    Berani Setia Disiplin, kewajiban kita sebagai guru untuk menumbuhkan karakter ini ….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *