Faktor U

 

Ketika anak bungsu saya masih berusia enam atau tujuh tahun, ia sering menanyakan tanggal kelahiran dan menanyakan umur atau usianya.

“Aku lahir tanggal berapa, Yah?” tanyanya.

“Akbar lahir tanggal 8 Februari 2007,” jawab saya.

“Berarti umurku enam ya, Yah. Kapan aku selamat ulang tahun?” kata bungsu sambil menanyakan waktu ulang tahun dengan kalimat selamat ulang tahun.

“Ya, Akbar sekarang enam tahun. Ulang tahunnya ya nanti, bulan depan,” jawab saya menerangkan.

Sekarang ia sudah berumur empat belas, tidak pernah lagi menanyakan tanggal lahir dan waktu ulang tahun.

Begitulah, umur atau usia pada manusia adalah waktu yang terlewat sejak kelahiran. Seperti Akbar, umur Akbar dikatakan empat belas tahun diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu dihitung, hari ini. Maka dari itu, umur atau usia (menurut kamus) diukur dari tahun lahirnya hingga tahunnya sekarang.

Diksi “umur” dan “usia” dalam kamus besar bahasa Indonesia tidak dipertentangkan. Umur ya usia, usia ya umur. Yang membedakan, menurut kamus kita itu, diksi “usia” dianggap lebih takzim dibandingkan dengan diksi “umur”.

Umur dan Usia

Kamus tidak dipertentangkan diksi umur dan usia dalam segi makna, meskipun usia diangap lebih takzim. Meskipun begitu, ada pula yang mempertentangkan. Menganggap bahwa kedua kata itu berbeda. Misalnya Julio Norde Narodangin ia berpendapat dalam sebuah blog komunitas Kompasiana, bahwa umur dan usia itu dua diksi yang maknanya berbeda. Umur dipadankan dengan life sedangkan usia dipadankan dengan age. Oleh karena itu Julio menjelaskan bahwa umur bermakna sisa waktu hidup, sedangkan usia bermakna waktu hidup yang telah ditempuh semenjak lahir. Ia memberi contoh lagu “Ulang Tahun”.

Panjang umurnya … panjang umurnya … panjang umurnya serta mulia …

Penggunaan diksi “umur” pada lirik tersebut sudah tepat. Karena memberikan pernyataan harapan bahwa sisa waktu hidup (umur) yang bersangkutan (yang berulang tahun) panjang atau lama. Dengan demikian apabila kita menanyakan umur seseorang, maka makna sebenarnya dari kalimat tanya itu adalah suatu yang kurang/tidak sopan, karena dalam artian kasar menanyakan “kamu kapan mati?”

Demikian pulan Hari Murti, S. Sos menyarankan hal yang sama, yakni menggunakan diksi umur untuk merujuk pada ‘durasi waktu hidup mulai lahir sampai wafat’ sedangkan usia adalah kata yang menunjukkan waktu hidup yang sudah dijalani manusia.

Akankah kedua diksi itu tetap “disamakan” seperti dalam kamus kita akan membedakan kedua diksi tersebut dalam penggunaannya sehari-hari.

Faktor U

Dalam percakapan sehari-hari, sering kita menemui istilah ‘faktor U’ untuk merujuk pada sesuatu yang dikaitkan dengan usia seseorang. Misalnya, saya mengatakan, “Kadang saya lama sekali, loh mengingat nama teman-teman SMP dulu.” Kemudian ditanggapi oleh rekan lainnya, “Faktor U, tuh!”

Ya, faktor ‘U’ diartikan sebagai faktor umur. Faktor umur biasanya dikaitkan dengan kemampuan organ tubuh secara fisik maupun psikis dengan kecendrungan menurun, misalnya: ingatan, kesehatan, kekuatan otot, maupun ketahanan tubuh.

Merujuk pada pendapat Medical Advisor Kalbe Nutritionals dr. Ervina Hasti W kepada detikHealth bahwa memasuki usia 30 proses penuaan sebenarnya sudah dimulai. Namun tandanya belum terlalu terlihat jelas. Salah satu yang biasanya mulai terasa adalah lebih mudah lelah, badan mudah pegal atau tulang terasa kaku walaupun melakukan aktivitas fisik yang cenderung biasa saja ketika dilakukan waktu usia kita lebih muda.

Jika usia 30 tahun dianggap sudah memasuki proses penuaan, sebenarnya usia berapa sih, sesorang dikatakan tua? Apakah klasifikasi usia pada setiap negara itu sama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya merujuk pada pendapat WHO (World Health Organization), badan kesehatan dunia.

Menurut WHO, usia dikelompokkan sebagai berikut: a) Bayi (infants): 0-1 tahun, b) anak-anak (children): 2-10 tahun, c) Remaja (adolescents): 11-19 tahun, d) dewasa (adult): 20-60 tahun, dan e) lanjut usia (elderly): di atas 60 tahun.

Faktor U dan Kesehatan

Penggolongan usia menurut pendapat WHO tersebut mungkin tidak sama pada setiap negara, namun pendapat tersebut dapat dijadikan rujukan. Indonesia sendiri, jika melihat usia pensiun, orang berusia 58 tahun ke atas sudah dikatakan lanjut usia. Pada umur tersebut, seorang ASN atau PNS umumnya memasuki usia pensiun, meskipun pada tenaga pendidik usia pensiun adalah enam puluh tahun.

Setiap golongan usia memiliki risiko kesehatan. Masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada bayi adalah batuk, pilek, demam, dan muntah. Tidak jarang, bayi juga mengalami masalah kulit, seperti ruam popok dan cradle cap. agar bayi kebal terhadap penyakit tertentu, mereka dilindungi dengan imunisasi dasar dan tambahan.

Pada usia anak-anak, mereka membutuhkan nutrisi dari makanan sehat, istirahat cukup, dan banyak beraktivitas. Masalah kesehatan yang paling sering muncul adalah penurunan berat badan, perubahan perilaku, demam, radang tenggorokan, dan lain-lain.

Memasuki usia remaja, masalah kesehatan lebih kompleks. Sakit fisik akibat kecelakaan lalu lintas, percobaan bunuh diri, hingga infeksi penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS perlu diwaspadai.

Usia dewasa adalah usia produktif. Orang pada usia dewasa (20-60 tahun) sangat disarankan untuk menjaga pola hidup sehat agar bisa tetap bugar dan minim risiko penyakit saat tua. Masalah kesehatan yang bisa menghampiri sangat beragam. Umumnya berupa kenaikan berat badan, penurunan daya ingat, hingga kanker.

Pada usia lanjut, masalah kesehatan yang umum terjadi adalah berkurangnya pendengaran juga penglihatan. Penyakit yang menyerang tulang dan persendian seperti osteoarthritis, diabetes, dan demensia. Demensia adalah menurunnya kemampuan otak untuk melakukan fungsi dasar, seperti berpikir, mengingat, berbicara, dan membuat keputusan. Penderita demensia biasanya akan kesulitan untuk mengurus dirinya sendiri, sulit berkomunikasi dengan orang di sekitarnya, dan sulit memahami apa yang dilihatnya. Beberapa penderita demensia juga mengalami perubahan perilaku dan kesulitan untuk fokus.

Nah, pembaca. Dengan mengetahui faktor U dan masalah kesehatan yang berkaitan dengannya, semoga kita dapat melakukan aktivitas fisik demi menjaga kebugaran dan kesehatan. Selamat beraktivitas!

 

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

 

Sumber bacaan:
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4530245/kenali-faktor-u-yang-bikin-badan-mudah-lelah
https://www.sehatq.com/artikel/risiko-penyakit-berdasarkan-klasifikasi-umur-menurut-who
https://www.alodokter.com/mengenal-macam-macam-demensia

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Faktor U

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *