ERN’S Kartini di Masa Pandemi

Kartini memperjuangkan emansipasi wanita dengan menulis. Ia menulis kepada para sahabatnya, terutama Stella Zeehandelaar dan Rosa Manuela Abendanon-Mandri. Ia berkeluh kesah dan menceritakan pandangannya terhadap sahabatnya itu tentang pernikahan dini, perjodohan, keinginan menempuh pendidikan yang sama dengan kaum lelaki, termasuk beberapa pandangan tentang dogma agama dan tradisi yang mengekang kaumnya.

Berkat perjuangannya, kini emansipasi mampu mengantarkan kaum wanita memiliki kesempatan seluas-luasnya memperoleh akses pendidikan maupun kedudukan. Satu di antara para wanita itu adalah seseorang yang berjuang dan berhasil mendampingi perjalan hidup saya, setidaknya hingga saat ini.

Lho, kok berjuang? Ya, iya lah. Memang mudah mendampingi laki-laki yang, katanya, emosian? Selain itu sang suami juga tidak pintar apalagi kaya. Itu perjuangan berat. Semoga perjuangannya menuai bahagia, ya! Katanya bahagia itu sederhana. Oleh karena itu, semoga ia bahagia dengan kesederhanaan yang ada. Sebab, mau bermewah-mewah, masa bisa?

ERN’S Bertugas di Rawas Ulu

Saya biasa menyingkat namanya dengan ERN’S. Singkatan yang saya ciptakan sejak kami masih duduk di bangku kuliah. Kok kami? Iya, sebab dia teman satu kampus beda kelas. Jadi, ketika berkirim surat, alamat tujuannya sering saya tulis dengan singkatan itu. Apa sih kepanjangannya? Nanti saja, biar saya bercerita dulu.

Wanita pendiam kelahiran Kota Keripik atau Kota SATRIA, Purwokerto itu, selalu menunjukkan attitude yang baik. Ia penyabar, tidak banyak menuntut, tidak banyak mengatur. Meskipun mungkin dalam hatinya seperti layaknya perempuan lain, ingin sesuatu. Tetapi tidak pernah saya dengar ia meminta.

Tahun 1993, kami berangkat dari kota Surakarta, bersama 24 orang guru baru angkatan D.II PGSD angkatan pertama di Indonesia, berangkat ke kabupaten Musi Rawas. Gadis dan bujangan berusia antara 22 hingga 25 tahun sebanyak 22 orang itu berbekal surat keputusan pengangkatan menjadi guru berangkat naik satu bus, ALS.

Mungkin takdir harus dijalani, kami tidak bekerja menjadi guru di ibukota kecamatan atau desa seperti tempat tinggal asal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami ditugaskan di empat kecamatan. Rawas Ulu, Rawas Ilir, Muara Kelingi, dan Muara Lakitan. Desa-desa tempat kami bertugas semuanya di tepi sungai besar, Sungau Rawas dan Sungai Musi.

Saya bersama lima orang lainnya bertugas di Rawas Ilir, sementara ERN’S bertugas di Rawas Ulu. Saya pikir, hilir dengan hulu jaraknya tidak jauh. Ternyata benar tidak jauh, tetapi jauh sekali. Suatu ketika saya ingin bertandang ke dusun tempat ERN’S mengajar. Untuk itu saya harus menempuh perjalanan sungai selama dua jam dari dusun naik speedboat atau perahu motor bermesin 40 PK. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil selama tiga perempat jam dan tiba di pelabuhan perahu di tepi Sungai Rawas bagian hulu. Setelah menunggu selama dua jam, saya pun berangkat naik perahu ‘jalur’, yakni perahu kayu panjang, bentuknya seperti biduk namun besar dan ditempel mesin 40 PK juga.

Perjalanan ke Dusun ERN’S

Perahu jalur berangkat pukul 14.00. Setelah berbagai barang belanjaan penumpang seperti beras dan aneka sembako lainnya disusun rapi dan ditutup dengan terpal, para penumpang dipersilakan turun dan duduk di tempat duduk yang disediakan. Yang dimaksud tempat duduk adalah sekeping papan selebar 80 cm yang melintang di badan perahu.

Setelah menempuh perjalanan satu jam dari pelabuhan tersebut kami, para penumpang, harus turun. Derasnya air sungai yang mengalir di celah bebatuan membahayakan kami jika perahu kami harus mudik melawan arus. O ya, kondisi sungai di tempat saya, di hilir airnya dalam dan tenang tanpa ada bebatuan sedikit pun. Sementara sungai di bagian hulu airnya deras dan banyak batu kali dengan ukuran sedang hingga batu berdiameter sedepa orang dewasa.

Setelah setengah jam kami berjalan, penumpang pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan. Langit di bagian barat pun mulai menampakkan semburat jingga menandakan tidak lama lagi mentari akan tenggelam.

“Busyet, berangkat dari dusun pukul enam pagi, sampai ke dusun ERN’S menjelang jam enam sore,” gumam saya dalam hati.

Setelah sampai ke dusun yang dituju, saya pun turun. Tidak ada yang menyambut, termasuk ERN’s pun tidak tahu jika saya datang. Tiba di kompleks perumahan sekolah, saya dikenalkan kepada kepala sekolah dan juga beberapa guru yang mendiami perumahan di desa terpencil hulu Sungai Rawas itu.

Malam pun menjelang. ERN’S bersama Hatimah, guru seangkatan lulusan D.II dari IKIP Padang berpindah menginap di rumah kepala sekolah. Perumahan dengan satu kamar kecil itu diberikan kepada saya sebagai tempat menginap malam itu.

ERN’S dan Hatimah adalah dua orang gadis yang turut menikmati hasil perjuangan Kartini. Mereka berhasil menempuh pendidikan hingga program Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Meskipun program diploma dua, program studi itu program tertinggi setelah SPG ditutup. Mereka rela ditempatkan di desa terpencil dengan fasilitas seadanya dengan sarana hiburan satu buah televisi berantena parabola milik kepala desa.

ERN’S itu Kartini di Masa Pandemi dalam Keluarga Kami

Kehidupan di desa terpencil itu tenang. Jauh dari kebisingan. Namun tanpa teman hidup, suasana sepi terasa semakin sepi. Kata ayah angkat yang juga kepala cabang dinas kecamatan, beliau mengatakan bahwa ERN’S bisa pindah asal kami menikah. Pindahnya ya, ke dusun saya. Terpencil juga? Ya, iya. Akhirnya kami pun memberanikan membangun keluarga.

Setahun kemudian, lelaki kecil menemani kami berdua. Setelah usianya enam bulan, neneknya dari pihak ibu berkenan menjenguk. Luar biasa.

Desa Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, setahun tiga kali banjir (Dok. Pribadi)

 

Di masa pandemi, Maret 2020 hingga saat ini (April 2021) ia pun menjalani tugas mengajar luring. Sebagai guru kelas 1, ia rela berkunjung ke rumah-rumah anak didiknya. Terbatasnya internet dan juga kemampuannya, ia manfaatkan aplikasi Whatsapp sebagai sarana pembelajarannya. Ia sama seperti saya, bukan guru milenial. Penguasaan teknologi pembelajaran berbasis web belum memadai, namun dedikasi, sikap melayani, dan mencintai pekerjaannya membuat saya makin mengagumi.

Dalam keluarga dan mengarungi bahtera rumah tangga, ibarat lomba rally mobil, ia navigator ulung.  Pada mada pandemi, ia adalah orang paling cerewet menjaga kami, agar sehat kami awet. Bahkan ketika saya mengantar teman yang sakit ke Palembang, zona merah Covid-19 beberapa waktu lalu, ia mewajibkan saya menjalani isolasi mandiri di rumah. Ia mengharuskan saya bermasker dan tidur di depan televisi, selama empat belas hari.

Mendampingi Susi Susanti, tetangga depan rumah yang menikah, bersama istri, Eni Ruminingsih. (Dok. Pribadi)

 

#07April2021AISEIWritingChallenge,
#inspirasikartini,
#kurikulumngumpet

 

 

Salam blogger sehat

PakDSus

https://blogsusanto.com/

 

 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “ERN’S Kartini di Masa Pandemi

  • 08/04/2021 at 19:08
    Permalink

    Baarokallah bapak dan ibu…
    Tulisannya sangat menginspirasi, bertumbuh bersama hingga menua…

    Reply
  • 08/04/2021 at 10:11
    Permalink

    Sip… Master Susanto, trimks share pengalamannya keren… Betul sekali masih banyak pejuang wanita yg mengikuti jejak R. A Kartini di Era Pandemi covid. 19

    Reply
  • 08/04/2021 at 00:56
    Permalink

    Semoga Ibu Ern’s kartini di masa oandemi selalu sehat dan bahagia selaly dampingi keluarga tercinta.aamiin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *