Iba Mengaduk Hati

Doc. jateng.tribunnews.com

Tolong jangan memberi (sedekah) di jalan karena akan semakin banyak (pengemis). Begitu tulis detik.com mengutip Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat, Ngapuli Peranginangin ketika dihubungi pada Sabtu (25/4/2020)¹.

Setelah membaca berita itu, saya pun teringat kejadian kemarin sore. Pada saat itu, kendaraan saya berhenti di simpang tiga Kota Lubuklinggau yakni di simpang “RCA” simpang jalan menuju arah ke provinsi Jambi. Di sama ada beberapa “manusia silver” tanpa aksi teatrikal langsung menyodorkan kaleng bekas cat tembok, meminta “sedekah”.

Andai saja si Manusia Silver itu melakukan aksi teatrikalnya di taman kota, lalu orang menonton dan menghargai aksinya lalu melontarkan pecahan dua ribuan atau pecahan uang rupiah lainnya sebagai bentuk apresiasi atas aksi “drama bisunya”. Sayangnya ia melakukannya di simpang jalan. Jika ia melakukan aksi teatrikal tentu keburu lampu merah berganti hijau dan itu alamat ia kehilangan kesempatan meminta bentuk “apresiasi” dari para pengendara.

Selain manusia silver, ada juga sekelompok pemuda dan pemudi berjaket almamater. Mereka menenteng kardus wadah mi instan dengan poster kecil bergambar bencana di Flores Timur dengan tulisan besar “Save NTT”. Dengan sikap sopan, mereka mendekati para pengendara untuk meminta “sumbangan”.

Memberi Uang kepada Pengemis di Jalanan

Beberapa waktu lalu saya melihat ada juga beberapa pengemis, anak kecil maupun orang dewasa di sana. Namun sore itu saya hanya melihat dua jenis peminta-minta tersebut di jalan, tepatnya di simpang “lampu merah” itu.  Lalu, adakah peraturan daerah di Kota Lubuklinggau, kota pemekaran dari kabupaten Musi Rawas, yang mengatur atau melarang memberikan uang kepada pengemis dan sejenisnya?

Sebagaimana dirilis oleh Linggau Pos online², Ketua Komisi I DPRD Kota Lubuklinggau, Zuibar M Alif menyampaikan bahwa sudah ada peraturan daerah (Perda) dan sudah disahkan namun masih dievaluasi, belum disosialisasikan, dan diterapkan kepada masyarakat. Perda itu mengatur tentang Pembinaan Anak Jalanan (anjal), Gelandangan dan Pengemis (Gepeng).

Kemarin sore saya tidak melihat ada spanduk, namun menurut Linggau Pos Online pada pemberitaannya yang saya akses pada hari ini (9 april 2021) ada spanduk bertuliskan: ‘Dilarang memberikan uang atau barang kepada pengemis dan gelandangan. Jika melihat gelandangan dan pengemis, silakan melapor melalui media aplikasi call center ke 08318032XXXX’.

Mengapa sih memberi sedekah kepada pengemis di jalan nggak boleh? Katanya memberi sedekah adalah perbuatan baik yang pahalanya berlipat ganda? Waduh, jika dibenturkan tanpa melihat konteks pasti akan terjadi pertentangan. Mari kita analisis dengan kepala dingin. Setelah itu Anda bebas mengambil sikap terhadap pemberian sedekah kepada pengemis (dan lainnya?) di jalan.

Alasan Orang Mengemis di Jalanan

Mengemis itu mencari uang. Oleh karena itu, alasan orang mencari uang dengan jalan mengemis tentu banyak ragamnya. Saya tidak akan membeberkan semua alasan seseorang mengemis dari hasil interview saya karena saya hanya pernah menanya satu orang saja, itu pun kejadiannya sudah lama, puluhan tahun lalu. Entahlah jika nanti ditugasi mendata hal tu, he he ….

Responden yang pernah saya tanya dulu adalah seorang nenek-nenek di kota kecil, Gombong, kota kecil di kabupaten Kebumen adalah kota kelahiran saya hingga menikmati masa remaja hingga usia 22 tahun. Sebab, memasuki tahun ke-23 saya harus berangkat ke pulau Sumatera. Ketika saya bertanya kepadanya alasan ia mengemis, jawabannya datar-datar saja, sudah tidak bisa bekerja.

Pada suatu hari, saya bersama teman-teman pada waktu itu, bersepeda ke desa di tepi bukit sebelah utara kota kami, tanpa sengaja melihat si “mbah” pengemis yang biasa beroperasi sekitar pasar dan kampung kami. Rumahnya seperti rumah para tetangganya, khas rumah di desa “wong nggunung”, begitu kami biasa menyebut. Bahkan ada sapi putih di belakang rumahnya. Piaraan khas para petani di desa lereng bukit itu, sekaligus bisa menunjukkan status ekonomi karena hewan piaraan itu bukan kepunyaan orang alias milik sendiri. Sebagai seorang yang lanjut usia, alasan tidak bisa bekerja lagi, sebenarnya bisa diterima akal. Namun melihat kondisi sosial ekonomi di desanya, rasanya pekerjaannya membuat orang-orang memandang (maaf) “rendah”.

Menurut penuturan Heru Cahyo Romadhon, S.Tr.Sos alasan mengemis dapat saya rangkum sebagai berikut.

  1. seringkali ditolak untuk bekerja.
  2. tak punya keahlian
  3. tidak mendapatkan kepercayaan lagi di berbagai bidang pekerjaan.
  4. mendapat “dukungan” uang iba bahkan “pesangon” dari sebagaian warga yang dermawan

Modus Operandi Pengemis di Jalan

Kata modus operandi berkonotasi negatif karena makna leksikal kata tersebut adalah cara atau teknik yang berciri khusus dari seorang penjahat dalam melakukan perbuatan jahatnya. Lho, apakah mengemis itu jahat? Menjawabnya tentu tidak semudah Anda bertanya, ya!

1. Sengaja dijadikan pengemis

Pengemis jenis ini sengaja dijadikan sebagai pengemis. Terlihat setiap hari ia diantar-jemput oleh seseorang yang kemungkinan adalah anak ataupun keluarganya.

2. Menyewa atau membawa anak kecil

Jika tidak memiliki anak kecil maka, konon ceritanya, menyewa anak kecil. anak tersebut dibiarkan menangis atau diberi obat tidur agar banyak masyarakat yang iba melihatnya.

3. Beroperasi di dekat lampu lalu-lintas

Jika pemda atau satpol PP lengah, mereka beroperasi di persimpangan jalan dekat lampu lalu lintas.

4. Beroperasi dengan berkeliling menjelang dan pada bulan Ramadhan

Agaknya para pengemis memahami bahwa umat Islam akan meningkat rasa kedermawanannya pada bulan puasa/ramadhan. Iming-iming pahala yang besar, menggetarkan hati umat yang meyakini bahwa bersedekah pada bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda. Momen ini dimanfaatkan oleh mereka yang ingin mengumpulkan rupiah dengan cara “mudah”.

5. Berpura-pura difabel atau mengeksploitasi disabilitas yang dimiliki

Jika menyebut cacat terdengar kurang halus atau tidak sopan, maka mereka yang memiliki kekurangan dalam fisik sebagaimana normal manusia pada umumnya disebut dengan penyandang difabel. Jika keterbatasan yang dimiliki memang alamiah, atau istilahnya “dari sananya” umumnya orang bisa memaklumi. Sebaliknya, jika difabel yang dimiliki akibat kepura-puraan untuk menguras rasa iba orang lain, tentu sangat menjengkelkan. Beberap di antaranya ada yang melipat kaki dan menyembunykan di balik celana panjang hingga seolah-oleh ia adalah penyandang difabel.

Sikap Ulama dan Pejabat tentang Pengemis Jalanan

Paragraf pembuka tulisan ini adalah salah satu komentar pejabat pemerintah tentang pemberian sedekah kepada para penyandang masalah kesejahteraan sosial atau PMKS. Mengambil contoh Kota Jakarta³, di sana ada Peraturan Daerah DKI Jakarta nomor 7/2008 tentang Ketertiban Umum. Wilayah wilayah seperti lampu merah, trotoar, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya tidak boleh menjadi lokasi beroperasi PMKS tersebut. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak memberikan sumbangan/sedekah kepada para pengemis atau penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) terutama pada tempat-tempat yang disebutkan tadi.

Pemberian dari masyarakat akan menyuburkan praktik-praktik mengemis karena yang bersangkutan akan kembal lagi bahkan membuat orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Adanya fenomena “penipuan” dalam praktik mengemis tak ayal membuat geram masyarakat, tidak terkecuali majelis ulama (MUI). Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta mengeluarkan fatwa haram atas segala aktivitas yang menganggu ketertiban seperti mengemis, berdagang asongan, mengelap mobil, atau memberi uang di jalan raya (detik.com, 25/07/2013). Jadi, Apapun alasannya, memberi uang kepada peminta-minta itu tidak dibenarkan.

Disadari, tidak semua peminta-minta di jalan adalah orang yang tidak layak. Ada di antaranya memang orang yang benar-benar membutuhkan. Di sinilah peran pemerintah daerah untuk menertibkan dan membina, agar mereka tidak melakukan kegiatan mengemis. Apalagi jika pengemis yang beroperasi adalah pengemis “imigran” dari daerah yang memanfaatkan momen tertentu. Tentu hal ini menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi kita semua. O ya. sebelum Pak D menutup uraian ini, apakah pemuda yang brjaet almamater seperti saya ceritakan di atas termasuk golongan peminta-minta yang dilarang Pemda? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Salam blogger sehat
PakDSus
https://blogsusanto.com/

 

 

 

 

 

#AprilChallenge,
Hari Ke-9 Huruf I,
Lagerunal

¹ https://news.detik.com/berita/d-4991490/banyak-pengemis-di-trotoar-dinsos-jakpus-jangan-beri-sedekah-di-jalanan

²https://www.linggaupos.co.id/beri-uang-ke-pengemis-siap-siap-terancam-sanksi/

³https://www.ayojakarta.com/read/2019/11/30/8733/belajar-dari-kakek-mukhlis-lebih-baik-tidak-memberi-uang-ke-pengemis-di-jalanan

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Iba Mengaduk Hati

  • 11/04/2021 at 07:38
    Permalink

    Iba..tp ya itu td kdg ada yg pura2 jd org cacat padahal dia sehat…serba salah jg mau dikasih atau tdk

    Reply
  • 11/04/2021 at 07:26
    Permalink

    Sebuah fenomena yang kadang punya dua sisi yang bertentangan. Ulasan yang lengkap pak D.

    Reply
  • 11/04/2021 at 07:03
    Permalink

    Betul sekali… Master Susanto, Betul sekali. Kadang2 kita suka iba /kasihan kpd pengemes. Kadang kita suka kesel juga. Ada pengemis bohongan, hanya memanfaatkan belas kasihan. Jd pengemis suatu pekerjaan. Trimks share pengalamannya luar biasa… Keren…

    Reply
  • 10/04/2021 at 11:10
    Permalink

    Fenomena yang dekat sekali dengan kita

    antara miris, sedih dan juga kesal
    Di kota tetangga ada pengemis legend yang rumahnya dua lantai, mobilnya 1 dan punya angkot juga :))

    Reply
  • 10/04/2021 at 08:53
    Permalink

    Jadi serba salah kita, apalagi kalau yg ngemisnya anak-anak sedih lihatnya. Semoga mereka segera diberi hidayah.

    Reply
  • 10/04/2021 at 08:49
    Permalink

    Memang sudah banyak modus-modus pengemis seperti itu, bahkan di Palembang tempat mertua saya seperti sudah dijadwal setiap Senin dan Kamis pasti ada yang berkeliling ke rumah-rumah minta sumbangan. Hanya Tuhan yang tahu niat mereka, benar-benar membutuhkan uluran tangan atau hanya modus karena ingin mencari uang dengan jalan pintas.

    Reply
  • 10/04/2021 at 08:47
    Permalink

    Dilema ketika kita akan memberi pada pengemis, apakah benar-benar ia tidak mampu atau malas?

    Reply
  • 10/04/2021 at 08:43
    Permalink

    Miris ya, Pak D. Kasihan banget anak kecil sewaan dijadikan alat mengemis. Ya Allah, dmn tanggungjwb orgtuanya? Tidak ada iba kah dlm hati orgtuanya??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *