Mbak Tika Violis O.K Senja Agung

Awal April, di kediaman “senamo”, sebutan di Musi Rawas untuk teman yang namanya sama, kami berkumpul untuk latihan keroncong. Kegiatan ini lama sekali tidak kami lakukan akibat merebaknya virus corona. Sambil mengisi minggu-minggu terakhir sebelum segala kegiatan “dihentikan” karena fokus menjalankan ibadah puasa.

Orkes keroncong O.K Senja Agung, sejatinya grup keroncong warisan. Grup ini sudah puluhan tahun ada. Konon ceritanya, grup keroncong ini didirikan oleh para orang tua setengah baya. Karena para pemain maupun penyanyinya adalah para orang tua, orkes tersebut diberi nama Senja Agung. Senja, kita tahu waktu menjelang mentari terbenam. Analogi dari usia para pendirinya. Agung tentu saja bermakna besar. Semoga orkes keroncong tersebut mampu berkembang meskipun para pendiri, dan personilnya, pada waktu itu, terbilang tak lagi muda.

Seiring waktu, satu demi satu, para pemain pun kembali pulang menghadap Sang Pemilik Hidup. Namun rupanya hal ini sudah terbaca. Oleh karena itu, mereka tidak lupa menyiapkan generasi muda untuk menggantikannya. Beberapa kerabat para “niyaga” diajak dan dilatih untuk mencintai dan memelajari cara bermusik keroncong. Satu di antara generasi muda itu adalah Mbak Tika.

Mbak Tika, ketika saya kenal, ia masih memiliki seorang anak balita, laki-laki. Anak itu sekarang sudah besar. Jika tidak kelas enam mungkin sudah kelas tujuh. Putra Mbak Tika sudah memiliki adik perempuan yang sudah besar. Pada mulanya, ia adalah vokalis cilik di grup keroncong itu. Suaranya merdu dan darah seni mengalir dari ayah dan ibunya. Kedua oranng tuanya jugapecint musik keroncong. Hingga akhirnya, sebuah alat musik yang dikuasai sang ayah, diwariskan, dan diajarkan kepadanya. Alat musik itu adalah biola atau viol, kata para tetua.

Lagu-lagu keroncong klasik dan langgam keroncong dikuasainya. Pada saat itu saya hanya menjadi penonton ketika mereka pentas. Mau ikut bernyanyi, suara pun sumbang. Mau ikut bermain musik, keterampilan itu belum ada. Akibat beberapa kali bertemu dan bersilaturahmi, membuat saya mengenal sekilas satu demi satu para punggawa grup orkes keroncong itu.

Ikut Bergabung di Senja Agung

Pada tahun 2014, saya diajak teman ikut belajar bermusik keroncong. Bapak H. Heryawan dengan Bapak Ir. Suprayitno, tokoh masyarakat di desa saya mendirikan grup keroncong O.K Gita Laras. Semua personilnya, masih hijau dalam bermusik keroncong. Saya senang sekali ada grup keroncong di desa sendiri. Oleh karena itu, tidak menolak ketika diajak bergabung. Dengan begitu saya mempunyai kesempatan untuk belajar bermusik keroncong.

Ketika sekolah SPG dulu, pernah diajari memetik gitar cukulele atau cuk keroncong bersenar tiga. Anak-anak menyebutnya¬†kencrung. Maka, ketika diajak gabung, saya memilih memegang cukulele dan belajar memainkannya. Satu demi satu lagu saya dipelajari. Meskipun tidak tergolong terampil, saya pun memberanikan diri jika ada panggilan “manggung” di tempat hajatan para tetangga atau kolega para pengurusnya.

Berdampingan dengan O.K Senja Agung, O.K Gita Laras menempatkan diri sebagai junior. Beberapa kali acara kelarga Senja Agung, rombongan Gita Laras selalu diundang. Jka ada panggilan pentas dan karena sesuatu hal personil tidak lengkap, misalnya karena saya ada dinas keluar kota, Gita Laras “meminjam” pemain Senja Agung. Demikian pula sebaliknya.

Dari sinilah, saya mulai mengenal lebih dekat dengan Bapak dan Ibu dari Senja Agung. Pasalnya, seiring waktu dan usia yang merenta, para pemain pun undur diri. Praktis orkes ini kekurangan pemain terutama pemain “kencrung” atau cukulele senar tiga. Saya pun masuk ikut bergabung.

Mbak Tika sang Violis

Alat musik gesek, menurutku alat musik yang sulit dimainkan. Pernah sekali memainkan, hampir semua senar kena gesek “bow” busur penggesek biola. Ha ha …. Tetapi tidak demikian dengan Mbak Tika. Mungkin karena ia sudah berlatih sejak kecil, maka bunyi biola terdengar merdu.

Saat ini, banyak para wanita yang berkiprah di dunia musik. Sekedar hobi maupun profesional sebagai bentuk mata pencaharian yang menghasilkan uang. Jika tidak ada emansipasi, saya membayangkan bahwa hal itu mustahil terjadi.

Begitulah, Mbak Tika meskipun sudah tidak rutin lagi latihan dan memegang biola, apalagi saat pandemi, nyaris selama setahun tidak ada latihan. Sebagai ibu rumah tangga, sekedar memegang biola dan menggeseknya tanpa ada teman yang lain rasannya sulit dilakukan. Apalagi ia pun harus bekerja, berdagang nasi gudeg Jogja sejak pagi hingga malam hari di rumahnya. Namun jika ada kesempatan, ia berkenan hadir dan meramaikan permainan kami.

O, ya. Berikut penampilan sekilas Mbak Tika. Meskipun tidak jernih, rekaman juga tidak bagus, setidaknya membuktikan bahwa Mbak Tika yang saya ceritakan bukan tokoh fiktif.

 

 

 

Salam blogger sehat

PakDSus

https://blogsusanto.com/

 

#15April2021AISEIWritingChallenge,
#inspirasikartini,
#KurikulumNgumpet

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *