X Menjadi -nya Bagaimana Ceritax

 

Pipit : Apa kabarx, Nunk!

Nunk : Baik, Kak! Udah kelar acarax?

Pipit : Beres!

Pada mulanya, saya sebagai “orang tua” yang mengenal media sosial belum lama, sangat kesulitan bercampur rasa jengkel membaca penggalan percakapan di media sosial di atas.

Jangankan tata bahasa yang baik dan benar, membacanya saja saya sudah megalami kesulitan. Saya membaca kalimat pertama: Apa kabaraks, Nung?. Sedangkan kalimat kedua: Baik, Kak! Udah kelar acaraks?

Setelah bertanya dengan anak, barulah saya tahu bahwa huruf /x/ tersebut dibaca “-nya”.

  • Apa kabarx, Nunk! (kabarnya)
  • Baik, Kak! Udah kelar acarax? (acaranya)

Saya bukan anak milenial yang begitu lahir sudah berhadapan dengan dunia digital. Saya hanya seorang lelaki imigran dalam mengenal dan sedikit menguasai dunia digital. Sejak lahir hingga bekerja pada usia 23 tahun saya belum mengenal telepon genggam. Saya baru mengenal telepon umum koin dan kartu atau telepon yang ada di warung-warung telepon sebagai media komunikasi yang akrab saya gunakan.

Nah, tahun 2000-an saya mengenal telepon genggan dengan fitur SMS di dalamnya. SMS (Short Message Service) adalah fitur pilihan untuk berkomunikasi pada zamannnya. Pada saat itu tarif sms adalah Rp 350/SMS dengan maksimal 160 karakter. Jadi, jika memiliki pulsa 5.000 rupiah hanya bisa dipakai untuk 14 kali sms.

Untunglah saya sudah berkeluarga. Jadi, nggak perlu komunikasi lewat SMS dengan pujaan hati karena LDR-an. Nggak kebayang, ‘kan? Mana mungkin puas hanya dengan empat belas kali berbalas pesan. Akhirnya ada salah salah satu penyedia layanan seluler memberi promo satu rupiah untuk satu karakter. Dengan demikian SMS-an menjadi semakin hemat. Jadi, tidak heran jika pada saat itu untuk menjawab SMS cukup dengan satu huruf /y/ untuk mewakili kata “ya”.

Nah, kembali ke percakapan Pipit dengan Nunk di atas, apakah mungkin huruf /x/ yang mewakili imbuhan “-nya” gegara mahalnya tarif SMS?

X Mewakili -nya

Demi mengetahui alasan /x/ menjadi “-nya” saya pun mencari tahu. Banyak sekali alasan yang dikemukakan. Sebelum komentar atau alasan yang disampaikan warga net (netizen) saya kutipkan beberapa kalimat yang mengandung /x/ sebagai pengganti ibuhan “-nya”. Kalimat-kalimat ini saya kutip dari Jurnal KANDAI Volume 9 tulisan Ramlah Mappau.

  • ―teman jutek ? Yeah pasti ada . .! orngX nyebelin banget deh, , .Tapi ma0 diapain juga, , karenaitu sudah pembawaan dari dia. . Yeah aku sec sbgai tman, ,cuman bisa nyaranin ajah apa yg terbaik b6i di….a . .
  • aQ sngat tdk ska teman yang JUTEK Law aQ puX teman Yg jutek aQ pojokin dia…
  • Klo s punya tman jutek kya bgtu plingan s stek …. atau singgung .. prcuma jga kta mau ksi tau klo ujung22nya tida adh prubhan ….. untung22 tida adh j tmanku iank bgt pwa.baik j smuax
  • KlW bCRa tNtang pelupa,, Udha bGian dari diriQ tuch..BuktiX Skrg ini tjadi pada Z, Z lupa bWa bku bhasa inggris pdhal bXak tgas …Ckckck
  • Hmm, mnurutQ apapun bntuk ktrampilanx n dmnpun d‘pr0leh suatu ktrampilan tu pnting n bsar mnfaatx bg khidupan klo sring d‘asah pa lg brguna bwt org lain bz dpt pahala…

Ketika ditanya mengapa /x/ menjadi wakil imbuhan -nya dalam percakapan SMS atau perpesanan lainnya?

Seorang warga net menjawab: Huruf x pada akhiran kata awalnya untuk menyingkat jumlah karakter pada SMS karena jaman dulu tarif SMS dihitung per 250 karakter. Jadi demi menghemat hal tersebut sebisa mungkin semua disingkat. Sedangkan imbuhan “-nya” itu sudah menghabiskan 3 karakter. Maka dicarilah huruf pengganti yg tepat. Sebetulnya huruf yg lebih pantas dimasukan adalah “y” tapi nanti bakal rancu hasilnya. Contoh : misalnya, diganti jadi “misaly” akan terbaca “misali”. Maka diganti huruf yg tidak akan menyebabkan rancu. Yaitu huruf “x”. Misalnya = misalx. Lagipula misal terbaca “misaleks” pun akan dengan mudah diartikan otak dengan “misale” yg dalam bahasa jawa artin tetep sama aja dengan misalnya.¹

Ha ha, masuk akal juga yah?

Alasan Lain X Mewakili -nya

Ada lagi yang berkomentar dengan nada “mencemooh” perihal penggunaan /x/ sebagai pengganti -nya.

Seriously, you are only saving two characters when you write “x” instead of “nya.” That’s not even a second saved with average typing speed of a person on a computer or a cellphone these days. Are you really in such a rush that saving a few milliseconds is worth looking like stupid douche?

Kurang lebih artinya: Serius, Anda hanya menyimpan dua karakter saat Anda menulis “x”, bukan “nya.” Itu bahkan tidak bisa dihemat sedetik dengan kecepatan mengetik rata-rata seseorang di komputer atau ponsel akhir-akhir ini. Apakah Anda benar-benar terburu-buru sehingga menghemat beberapa milidetik layak terlihat seperti orang bodoh?

Benar juga, ‘kan? Hanya menghemat dua karakter, seorah-olah bakalan kehilangan banyak waktu padahal hanya membutuhkan sepersekian detik. Bahkan hanya karena alasan tersebut, sesorang kelihatan bodoh. Netizen lain menyebutnya alay!

Namun bukan warga net namanya jika tidak “mengutik-utik” mencari pembenaran terhadap satu hal.

Ini alasan /x/ menjadi wakil imbuhan “-nya”.

twitter.com/AnakPetir/status/1049938251216117761

 

Setelah si “Anak Petir” yang menguraikan rumus di atas, ada warga net yang berkomentar bahwa dengan alasan tersebut akhirnya ia “bisa tidur nyenyak”. Segitunya, ya? Lihat saja gambar tangkapan layar komentar status si Anak Petir berikut ini.

 

 

Okelah, apa pun pembenarannya, saya hanya ingin mengatakan bahwa teknologi “perpesanan” sudah makin canggih. Satu pesan bisa menampung ratusan kata, ribuan karakter, misalnya WhatsApp. Oleh karena itu, sudah tidak relevan lagi alasan untuk menyingkat, apalgi menyingkatnya tidak sesuai kaidah kebahasaan formal yang lebih diyakini kebenarannya.

Namun demikian, karena penggunanya kebanyakan anak muda, saya pun mengembalikan kepada kaidah bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Komunikasi akan terjalin dengan baik jika bahasa yang digunakan dipahami oleh kedua pihak. Meskipun pengguna bahasa tersebut dikatakan sebagai generasi alay, mereka tidak peduli.

 

Salam blogger sehat

PakDSus

 

#AprilChallenge, Hari Ke-24 Huruf X, Lagerunal

 

 

Sumber:

  • https://twitter.com/AnakPetir/status/1049938251216117761
  • ¹https://id.quora.com/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

12 thoughts on “X Menjadi -nya Bagaimana Ceritax

    • 30/04/2021 at 18:20
      Permalink

      Wauuu keren pak D, terimakasih tentang X nya, selama ini yang sering kita tahu X untuk angka yg belum diketahui dan untuk di koordinat atau untuk mister X,tetapi ada juga untuk pengganti kata ” nya’

      Reply
  • 25/04/2021 at 04:14
    Permalink

    Saya termasuk generasi OLD jadi nggak pernah pakai yg begitu-begituan. Malah dadi bingung…

    Reply
  • 24/04/2021 at 23:10
    Permalink

    Oh keren pak D. Katax kita juga kt tidak ketinggalan mengijuti zaman melenial y. Mksih

    Reply
  • 24/04/2021 at 22:38
    Permalink

    Saya malah nggak mengerti sama sekali,,,kalau tulisan disingkat-singkat takut nantinya salah artinya. Pusing ah bacanya juga

    Reply
  • 24/04/2021 at 21:17
    Permalink

    Sy kadang merasa jengkel kalau ada guru yg nulis pesan pake bahasa alay ini. Ya memang kebiasaan tp rasanya ga sopan gitu. Memang sih guru jaman now tp harusnya menyesuaikan dg situsasi berkomunikasi.

    Reply
  • 24/04/2021 at 21:14
    Permalink

    Sekarang bingung baca pesan seperti itu. Perlu dibaca lebih dari sekali. Mungkin karena x factor. He he

    Reply
  • 24/04/2021 at 20:54
    Permalink

    Saya sampai sekarang kalau kirim pesan seperti itu, karena alasan yang sama… jadi malu

    Reply
  • 24/04/2021 at 20:46
    Permalink

    Saya jadi senyum-senyum sendiri…hal ini juga saya alami ketika di awal-awal mengenal SMS…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *