Sekolah Impian Kartini

Sumber: suluhpergerakan.org

 

Zaman dahulu, perempuan Jawa, terkekang dengan tradisi budaya Jawa yang sering terdeskripsikan bahwa tugas perempuan hanya bertumpu pada “M” yaitu manak, masak, macak. Manak artinya melahirkan, masak berarti memasak, dan macak bermakna berdandan. Oleh sebab itu perempuan Jawa mendapatkan acapkali dicap sebagai kanca wingking atau teman di belakang. Ada juga yang menyebut sebagai wong rumah atau orang rumah. 

Menyadari hal itu, Raden Ayu Kartini yang cerdas dan pemberani sangat prihatin dengan nasib kaumnya. Perempuan sering dianggap sebagai hiasan. Mereka tidak memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan hati dan pikirannya. Apalagi, Kartini bersekolah hanya sampai usia 12 tahun karena pada tahun berikutnya ia harus menjalani masa pingitan.

Pada masa pingitan, Kartini tidak banyak bergaul. Pada masa ini, ia mulai merenung tentang nasib perempuan yang terkungkung adat dan tidak bisa menentukan masa depannya sendiri. Namun hal ini membuat Kartini mengasah pemikirannya dengan banyak belajar seorang diri. Sebab bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda, Rosa Abendanon dan Estelle H. Zeehandelaar.

Ya, Raden Ayu Kartini adalah salah satu elite pribumi perempuan zaman kolonial yang dekat dengan pergaulan lintas rasial. Putri Bupati Jepara itu berkawan dengan banyak orang Belanda, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu berkat ningratnya.

Memasuki usia 16 tahun, Kartini dibebaskan dari masa pingitan. Kemudian, ia banyak belajar sendiri. Lantaran menguasai bahasa Belanda, maka ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Kepada sahabatnya itu, ia mengutarakan pemikirannya tentang pentingnya sekolah dan pendidikan bagi orang Jawa.

Sekolah Kartini

Rosa Abendanon tertarik dengan gagasan Kartini yang ingin mendirikan sekolah kejuruan untuk perempuan pribumi. Tidak hanya itu, gayung pun bersambut. Gagasan Kartini untuk mendirikan sekolah dan menjadi guru direspons hangat oleh suaminya, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang menikahinya pada tahun 1903.

Syahdan, R.A Kartini pun memiliki kegiatan harian dengan mengajar para anak putri dari bangsawan di rumah dinas bupati. Di sana, ia tak hanya mengajarkan murid-muridnya tentang baca tulis, namun juga kesenian lokal, membatik, dan menjahit.

Sejak saat itu, Kartini berkeinginan untuk membuat sebuah sekolah yang bisa menampung siswa putri lebih banyak lagi dan juga menjangkau siswa putri dari strata sosial bawah. Untuk mewujudkan ambisinya, ia menyurati jajaran pemerintah Hindia Belanda untuk bisa memberi bantuan terhadap programnya itu. Hanya saja, keinginannya belum terwujud hingga ia meninggal dunia pada tahun 1904 pada usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya.

Van Deventer, ahli hukum Belanda, yang merupakan salah satu penggiat politik etis melakukan sebuah gebrakan dalam bidang pendidikan dengan mendirikan Sekolah Kartini di Semarang pada
tahun 1913. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Kartini (Kartini Vereneging) yang didirikan di Belanda pada 1912 dan hanya menerima siswa perempuan Jawa. Menyusul kemudian sekolah-sekolah Kartini didirikan di kota lain di Pulau Jawa (Madiun, Batavia, Buitenzorg atau Bogor, Malang, Cirebon, dan Pekalongan.

Sekolah Keputrian yang didirikan oleh Van Deventer diubah menjadi SMA Kartini Rembang. Menurut penuturan salah seorang pengajarnya, Danang Pamungkas, setelah menjadi SMA Kartini, menerima  siswa putra maupun putri. Jaraknya hanya berkisar 100 meter dari Alun-Alun Kabupaten Rembang. Persisnya di depan Istana Bupati Rembang pada zaman Hindia Belanda.

Guru dan Staf di SMA Kartini Rembang, sampai sekarang sekolah ini masih tetap memiliki semangat mendidik ala Kartini yaitu dengan adanya kewajiban siswa-siswi untuk mengikuti kegiatan seni membatik dan menjahit.

 

 

#27April2021AISEIWritingChallenge, #inspirasikartini, #KurikulumNgumpet

 

Sumur:

“https://suluhpergerakan.org/kartini-dan-peninggalan-sekolahnya-yang-mulai-terlupakan/”

“http://jos.unsoed.ac.id/index.php/jli/article/download/335/267/”

“https://tirto.id/sekolah-kartini-balas-budi-perempuan-belanda-kepada-pribumi-d1J3”

“https://kompaspedia.kompas.id/baca/profil/tokoh/raden-ajeng-kartini”

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Sekolah Impian Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *