Pedagang Melempar Kerupuk ke Jalanan

Gambar tangkap layar: twitter.com/Irwan2yah

 

Tulisan ini adalah tulisan terahir sebagai tantangan bulan April 2021 dari AISEI dengan hastag atau tanda pagar #InspirasiKartini dan #KurikulumNgumpet. Tulisan yang muncul setiap tanggal ganjil di bulan April bertema sesuai dengan peringatan Hari Kartini, sang Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.

Berbagai sanjungan dan tulisan bernada kesetujuan tentang perjuangan R.A Kartini banyak disajikan oleh berbagai kalangan. Pada hari terakhir kegiatan menulis di Grup AISEI Writing Club saya menemukan postingan perihal seorang ibu yang melempar kerupuk dagangannya ke jalanan karena tidak ada yang beli.

Pedagang Melempar Kerupuk ke Jalanan

Beberapa berita tentang dibuangnya bahan makanan termasuk sayuran dan telur pernah saya baca. Mereka membuangnya karena produksi yang berlebih tetapi pasar lesu sehingga harga jual anjlok. Sementara biaya produksi cukup besar. Jangankan meraup keuntungan, modal atau biaya produksi saja tidak kembali. Karena kesal, mereka lantas membuang hasil produksinya ke sungai. Alih-alih bersedekah kepada sesama, namun berkat dorongan rasa kesal yang memuncak dan bayang-bayang kerugian yang besar mereka ungkapkan kekesalan itu dengan membuang hasil produksinya. Tidak lupa, mereka merekam dan mengunggahnya di media sosial yang mereka miliki.

Hari ini saya membaca da menonton video seorang ibu yang diberitakan melalui media sosial Twitter. Ia terlihat membuang barang dagangan berupa kerupuk ke jalan raya. Dari video yang berdurasi 29 detik terlihat ibu itu “ngamuk-ngamuk kesal” dan mengeluarkan kata-kata yang kurang jelas.

Beragam kometar netizen melihat fenomena tersebut. Saya kutipkan beberapa, ya.

@DjokoErlangga

Sorry bang, Klo jualan stylenya memang begitu, mnrt info penjual” yg mangkal didekatnya, dan perempuan tsb blm menyandang status ibu.

Gaya berjualannya memang sering begitu, dan maaf seperti nya jg penyandang tuna wicara. Semoga saja dagangan nya laris bnyk yg membeli.

Rik_Jendat
@Pak_Jendat

Smg jangan sampai…
Sdh terlalu banyak yg “jualan kesedihan” di medsos ini…

Setidaknya mari kita ambil hikmah kisah nya saja jika pun benar ini sekedar trik/style jualan..

@LanangJagad3
@LanangJagad31

Gue ga bisa menjudge negatif ke ibu tsb..

Psti ia betul2 tengah putus asa krn kondisi ekonominya, sementara dagangannya ga laku..

Komentar Pilihan Saya

Masih banyak komentar yang bernada pro maupun kontra bahkan cenderung nyiyir. Ya, media sosial adalah media maya. Yang tahu persis adalah mereka yang berada di lokasi. Warga net (pembaca dan penikmat konten media sosial) hanya bisa berkomentar terhadap apa yang terlihat dan apa yang mampu ia lihat. Kejadian sebenarnya, kita tidak tahu persis. Oleh karena itu saya setuju dengan salah satu komentar. Komentar itu disampaikan oleh akun Kampul Kampul @KKampul yang saya kutip ke dalam quote berikut.

Kita hny bisa mlihat air kluar di ujung kran, kta tdk tau pipa di dlm tmbok itu mulus, bocor atau brkarat. Setuju?

Sebagai guru, orang tua, dan penulis, kita wajib mengedukasi anak didik generasi penerus bangsa agar bijak bermedia sosial, arif menyikapi berita yang berseliweran, dan jangan berkomentar jika tidak perlu atau tidak memahami permasalahan yang diunggah di media sosial apa pun.

 

#29April2021AISEIWritingChallenge, #inspirasikartini, #KurikulumNgumpet

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Pedagang Melempar Kerupuk ke Jalanan

  • 29/04/2021 at 16:10
    Permalink

    Luapan emosi, berbeda-beda memang setiap orang untuk meluapkannya.
    Bebas, selagi tidak merugikan orang lain.

    Reply
  • 29/04/2021 at 15:46
    Permalink

    Bisa jadi itu bentuk kekecewaan atau stress yg dihadapi si penjual kerupuk karena jualannya gak laku. Bila ya, memprihatinkan.

    Reply
  • 29/04/2021 at 15:40
    Permalink

    Disayangkan juga tindakan membuang makanan ya Pak. Harusnya diberikan ke siapa begitu yg sangat membutuhkan daripada dibuang sia-sia. Tapi keren pak Susanto selalu mengalir tulisannya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *