Untukmu Agamamu Untukku Agamaku

 

Indonesia bukan negara agama, namun Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa serta menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Pernyataan tentang negara berdasarkan atas Ketuhanan Yanga Maha Esa termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 29 Ayat 1. Sedangkan jaminan negara atas kemerdekaan penduduknya untuk memeluk agama dan beribadah terdapat pada ayat dua.

Berdasarkan landasan konstitusional negara kita, maka tiap-tiap penduduk bebas untuk memeluk agama yang diyakininya. Wikipedia menjelaskan bahwa agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta yaitu āgama (aagama) yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin, dan berasal dari kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan memiliki religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Beragama di Negara Indonesia

Indonesia adalah negara dengan landasan idiil Pancasila dan landasan konstitusional yaitu UUD 1945. Pancasila yang sila pertamanya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung 7 butir pengamalan, yaitu sebagai berikut:

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Implikasinya adalah, setiap warga negara memiliki kemerdekaan untuk memeluk agama yang diyakininya. Mereka bebeas memilih apakah akan memeluk Islam, Kristen, katholik, Hindu, Budha, atau Khong Hu Chu. Bahkan sakking bebasnya, mereka bisa saja berpindah-pindah agama hingga pada akhirnya memilih satu agama yang diyikini benar dan dianut sebagai pedoman hidup dalam behubungan dengan Tuhannya maupun sesama manusia.

Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku

Dalam pelaksanaannya, setiap warga (pemeluk agama) mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama yang menganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka wajib mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Hal itu dilakukan agar tercipta kerukunan hidup antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sadarilah bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tentang toleransi antarumat bergama ini saya setuju dengan pendapat silakan saling membantu dalam pekerjaan. Silakan saling berbagi, bertetangga, saling jenguk, atau belajar bersama. Namun, kita wajib menghargai keyakinan masing-masing. Untuk urusan ibadah cukuplah kita saling menghargai, tidak mengganggu, dan juga tidak ikut dalam kegiatan ibadah masing-masing. “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” adalah pedoman yang mesti kita pegang.

#AprilChallenge, Hari Ke-21 Huruf U, Lagerunal

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *