Blogger dan Masa Depan Blog

Empat belas tahun lalu, tepatnya 27 Oktober 2007, diselenggarakan Pesta Blogger yang difasilitasi oleh Menteri Komunikasi dan Informasi pada saat itu, Bapak Muhammad Nuh. Awalnya hanya berfokus pada pesta akbar para blogger seluruh Indonesia, hingga akhirnya dirancang untuk lebih menekankan pada pengelolaan blog agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Untuk meramaikan dan memperingati Hari Blogger Nasional, komunitas blogger guru nasional yang tergabung dalam wadah Lagerunal, mengadakan rapat di ruang Google. Sebagai salah satu anggota, saya pun ikut bergabung, meskipun terlambat.
Teman-teman yang aktif di grup Lagerunal terlihat banyak yang hadir. Tidak ada satu narasumber yang dihadirkan. Pertemuan yang dilakukan terkesan hanya temu blogger. Saling menyapa, memberi salam. Saya tidak tahu materi apa yang sudah dibahas sebelumnya karena ketika saya masuk, Ambu Tini menyeletuk, “Sudah setengah jam, loh.”
Disusul kemudian, Pak Indra Keren juga berkomentar, “Iya, Pak Bryan sudah satu jam, dimulai aja.”
Ho ho, rupanya belum ada materi yang dibahas secara khusus. Hmm, peluang nih buat menghidupkan suasana. Padahal, seperti dikatakan rekan Rizky Kurnia Rahman, ada orang yang kurang PD tampil di kamera, saya termasuk di dalamnya. Namun apa boleh buat, meskipun terlihat kusut, yang penting berani menampakkan diri.
Setelah ‘dipancing’ oleh Pak Guru Supadilah, tentang komunitas blogger di Lebak Banten, saya pun menyambung dengan menyampaikan “keluhan” tentang sulitnya menghidupkan komunitas blogger di daerah padahal sudah ratusan guru dilatih membuat blog pada tahun 2020.
Nah, gayung bersambut. Beberapa peserta memberikan tanggapan.
Prospek Orang-orang Terdekat
Blogger dari Lombok yang juga komandan #KamisMenulis, Mazmo, mengatakan bahwa membangkitkan komunitas blogger adalah dengan “memprospek” orang-orang terdekat. Siapa dia? Teman-teman guru di sekolah atau di sekitar. Apalagi dengan mengikuti program guru penggerak, teman-teman Mazmo banyak yang memanfaatkan blog untuk melaporkan kegiatan atau menuangkan pemikiran setelah mengikuti pelatihan guru penggerak. Bahkan, praktik baik yang dilakukan, dilirik oleh dinas pendidikan setempat. Bahkan dijadikan program dinas yaitu pelatihan pemanfaatan blog untuk pembelajaran.
Blog Kurang Populer dan Terkesan Usang
Lain halnya dengan Pak Indra, blog di kalangan guru di tempat Pak Indra kurang dikenal. Namun, kegiatan #KamisMenulis di grup Lagerunal diduplikasi hanya medianya adalah aplikasi pengolah kata Microsoft Word. Menulis 300 kata setiap kamis dengan Word.
Anggota Blogger Lebak Banten lainnya, Ibu Pipit Piharsi, ikut berbicara. Ibu tiga orang anak ini menceritakan bahwa aplikasi blog semakin kurang populer, bahkan oleh para penggiat blog yang lahir sejak tahun 2007. Seiring dengan waktu, aplikasi sosial media berbasis video rupanya lebih disukai. Sebut saja Tik Tok, juga Youtube.
Jadi, blog di mata generasi sekarang terasa usang. Blog dianggap kuno dan generasi Z lebih menyukai Tik Tok ketimbang blog. Oleh karena itu, para narablog menjawab tantangan pada masa mendatang agar tidak semakin “dijajah” oleh media sosial lainnya. Begitu mak Pit, saya biasa memanggil di grup, menyampaikan pandangannya.
Optimis dengan Blog
Pendapat selanjutnya dari pak Muliadi. Untuk meningkatkan partisipasi guru memanfaatkan blog, ia mengusulkan agar pengawas dalam melakukan kepengawasannya juga memanfaatkan blog. Laporan guru, terutama pada masa pandemi dapat dipantau aktivitasnya melalui blog. Di daerahnya, guru matematika ini menggagas diadakan lomba menulis, tulisannya diunggah di blog.
Buah pikiran selanjutnya disampaikan oleh blogger Rizky Kurnia Rahman. Senada dengan yang disampaikan oleh Mak Pipit, ia menilai bahwa orang Indonesia lebih suka menonton dari pada menulis. Tidak heran jika Tik Tok dan Youtube lebih disukai. Namun jangan lupa bahwa, banyak perusahaan untuk menaikkan ratingnya meminta ulasan dari para blogger dengan cara misalnya, menggelar lomba blog mengulas produk yang mereka hasilkan. Dengan demikian, pencarian di mesin pencari Google, tetap berupa narasi atau tulisan dalam bentu blog atau website.
Oleh karena itu, menurut pak Rizky, masih terbuka lebar ruang kreativitas menulis melalui blog. Lagi pula, tidak semua orang memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk tampil di depan kamera.
Tantangan Blog di Masa Depan
Menyimak pendapat para blogger yang sering disapa dengan Sobat Lage itu, saya menangkap ada kegelisahan yang mengusik di antara para blogger. Kegelisahan itu di antaranya adalah blog yang makin kurang populer.
Ketidakpopuleran blog, salah satu penyebabnya adalah hadirnya platform media sosial berbasis video. Sebenarnya, jika ditilik dari terbatasnya waktu tayang, pesan yang disampaikan sangat singkat. Namun, kultur masyarakat yang menyukai tontonan ketimbang membaca tulisan menyebabkan orang lebih suka pada sosial media berbasis video tersebut. Tik Tok, Snack Video, Hello, dan Youtube seolah merajai dan mendominasi minat masyarakat terutama kawula muda.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Sejalan dengan program pemerintah menghapus ujian dan menggantinya dengan asesmen kompetensi minimum literasi dan numerasi, sesungguhnya membuka peluang untuk ‘menggairahkan’ kembali semangat menulis melalui blog bagi guru dan siswa.
Saya memilih kata menggairahkan kembali bukan menghidupkan kembali, karena sesungguhnya blog itu sudah hidup. Para guru di beberapa daerah sudah dilatih membuat blog dan mengisinya dengan konten pembelajaran atau lainnya. Bahkan siswa pun di beberapa sekolah sudah didorong untuk memiliki blog untuk mengerjakan tugas atau tantangan yang diberikan gurunya.
Kata kuncinya adalah pada pemberian “rangsangan” untuk menumbuhkan motivasi. Jika pemerintah pusat memiliki program pendidikan guru penggerak yang kegiatannya dilaporkan dalam bentuk video dan tulisan, selayaknya pemerintah daerah melalui dinas terkait juga mendorong para guru dan masyarakat untuk menulis.
Melalui tulisan ini saya harus mengatakan bahwa organisasi guru, khususnya PGRI, yang berinisiatif membuka kelas menulis gratis melalui WA patut diapresiasi. Persyaratan mengikuti kelas menulis harus memiliki blog menjadi energi positif dalam menggairahkan dunia blogger.
Mengganti Domain dan Menyewa Hosting
Blog sesungguhnya bukan hanya Blogger dan WordPress. Masih ada beberapa platform blog lainnya, namun yang mudah dan lebih dikenal adalah kedua platform yang saya sebutkan tadi.
Kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesat. Bahkan revolusi industri 4.0 makin masif, dunia internet pun semakin maju. Hal ini berbanding lurus dengan kebutuhan atau keinginan untuk makin cepat mengakses informasi. Informasi itu tentu banyak disajikan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, jika meninggalkan blog akan kontraproduktif dengan kemajuan teknologi informasi tersebut.
Lalu apa yang harus dilakukan blogger? Agar identitas digital kita terbangun maka menggunakan ekstensi domain pilihan yang terjangkau adalah pilihan yang menurut saya mendesak dilakukan.
Ekstensi domain populer semacam .com, .net, .org, .site, .tech. store, dan lain-lain akan menjadi identitas digital yang akan menaikkan kredibilitas dan terlihat lebih profesional, terutama jika Anda berbisnis atau memiliki toko online. Pengunjung akan memberikan nilai plus dan tingkat kepercayaan pun meningkat. Ketika ekstensi tersebut kita gunakan, kita tidak akan dicap sebagai blogger yang suka gratisan.
Dengan membeli domain, maka tautan blog tidak akan terlalu panjang. Nama domain, susantogombong.blogspot.com tentu lebih panjang dibanding dengan blogsusanto.com.
Keuntungan lainnya dengan membeli domain, blog mudah diakses, mendapat posisi yang bagus pada halaman search engine (misalnya mesin pencari Google), pengunjung melihat anda sebagai blogger yang serius, pemasang iklan lebih tertarik, dan domain dapat diperbarui serta di-backup.
Jadi, blogger tetap optimis menatap masa depan. Tantangan masa depan adalah pesatnya arus informasi (tulisan maupun video) yang berpotensi mengandung berita palsu, maka blog atau website dapat menangkalnya dengan memberikan penjelasan berupa tulisan yang di dalamnya bisa disisipkan video, gambar, maupun berkas digital lainnya.
Selamat Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2021. Tetap optimis, tetap menulis.
PakDSus
Semoga, Mas.
Tinggal mengasah kemauan dan kemampuan diri untuk terus menggairahkan blog. InsyaAllah terwujud, Pak D.
Ha ha ha, mudah-mudahan begitu.
Terima kasih motivasinya, Pak.
Optimis aja, Bu.
Jangan pakai lama, segera. Jarimisterindra dot net heheheh.
Kebetulan bahannya sudah dicatat.
Yang penting ‘happy’ Bu Nunk.
Saya optimis Pak D. Tulisan akan menemukan jodohnya. Termasuk di blog. Tulisan Pak D sangat lengkap dan detail. Iri saya eh nggak boleh iri ya. Boleh kanan aja.
Rangkuman yang sangat lengkap tentang kegiatan semalam. Saya sendiri malah agak lupa dengan pendapat saya kemarin, hehe…
Semoga tetap semangat jadi blogger!
Terima kasih Pak D sudah meresume kegiatan semalam. Tetap optimis menangkal hoaks lewat blog. Berani tebar kebaikan, seperti di twibbone.
Mengganti Domain dan Menyewa Hosting, ini pengen banget, serius!!!
PakDeSus selalu luar bisa menghadirkan tulisan-tulisan keren dalam waktu sekejap saja. Mohon bimbingannya.
Tetap menulis, tetap eksis walaupun masih banyak kesalahan…
Wah …baru kali ini tahu sejarah dannkisah perjalanan blog …..terima kasih pak D….
Mumpung masih hangat.
Betul, Bu Atik.
Ha ha ha, begitukah, Mak Pit?
Semangat, Bunda.
Insya Allaah, Cak.
Terima kasih, Pak Dail.
kren pa de sus
Skmt hari blogger. Smg berkah
Semangat bloger semangat Pak D.
Tiga kata buat tulisan Pak D, aktual, informatif dan solutif
Selamat hari blogger PP ak D..teruslah menulis dan berbagi kebaikan untuk sesama melalui blog.
Wow, gercepnya. Tulisan penuh informasi dan persuasi. Semoga kita lebih semangat untuk konsisten ngeblog. Mantaap Pak D