SUSANTO BLOG

The Blog of a Learning Companion

article

Buku Tanda Persahabatan

“Anda belajar menulis dan ikut grup para penulis untuk apa?” Kira-kira demikian pertanyaan yang terlontar jika kita mengikuti “Kelas Menulis” dan bergabung ke dalam grup penulis (WA atau Telegram). Selain berlatih menulis, menambah rasa percaya diri dalam menulis, tentu hal lain yang menjadi motivasi adalah ingin memiliki buku sendiri. Jadi, tidak heran apabila grup menulis kadang dibanjiri ajakan menulis buku antologi.

Buku antologi dapat diartikan ke dalam dua pengertian. Pertama, antologi tulisan sendiri atau bunga rampai dari berbagai tulisan hasil karya sendiri yang dibukukan. Kedua, antologi sebagai kumpulan tulisan dari banyak penulis. Biasanya satu orang menulis satu tulisan dan digabungkan dengan rekan penulis lainnya, lalu dibukukan menjadi buku yang didaftarkan ke Perpustakaan Nasional sehingga memiliki ISBN.

Antologi jenis pertama maupun antologi jenis kedua umumnya dilakukan sebagai langkah awal sebelum seseorang menulis dan menerbitkan sendiri tulisan dengan tema tertentu. “Ajang latihan menulis,” begitu kata sebagian lainnya. Demikianlah kenyataannya.

Buku yang ditulis oleh banyak penulis, lebih dari empat orang bahkan hingga puluhan orang, ini belum dilirik sebagai karya yang mendapat “nilai”. Misalnya, pada penilaian untuk memperoleh angka kredit bagi guru atau portofolio pada ajang Pemilihan Guru/Tenaga Kependidikan Inspiratif. Buku antologi tidak mendapat tempat sebagai satu hal yang memiliki nilai kuantitatif.

Meskipun tidak memiliki nilai kuantitatif pada ajang kegiatan tertentu, menulis buku antologi menjadi jembatan bagi seseorang untuk membangun rasa percaya diri sebagai penulis. Adanya nama penulis pada sampul atau bagian lain dalam buku antologi cukup membanggakan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Saya pun merasa seperti itu. Meskipun belum puluhan kali mengikuti “proyek buku keroyokan”, akan tetapi terselip rasa bangga ketika baris nama saya ada pada deretan para penulis.

Buku sebagai Tanda Persahabatan

Bagaimana cara Anda mengungkapkan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang Anda cintai atau orang-orang terdekat Anda? Mungkin dengan bingkisan berisi barang-barang yang berharga, uang, kartu ucapan, mengajak makan siang, atau lainnya. Lalu, kepada sahabat atau orang-orang terdekat apa lagi yang bisa kita berikan?

Buku adalah karya. Setuju, ya? Sebagai hasil karya, layak kita berikan penghargaan. Bukankah sikap suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama merupakan isi dari butir-butir pengamalan Pancasila? Hal ini pun sudah pasti tidak akan bertentangan dengan ajaran agama. Pertanyaannya, jika temanmu seorang penulis, bagaimana cara menghargai hasil karyanya?

Apa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap teman yang juga penulis? Kita bisa melakukannya dengan cara membaca tulisannya, berkomentar, atau membagikan tulisannya kepada teman lain. Jika diberi hadiah buku hasil karyanya, kita baca dengan gembira. Jika memiliki kelebihan rezeki, buku karya sahabat tentu bagus jika dibeli.

Puji syukur, sejak bergabung dengan beberapa grup penulis, saya mendapat hadiah beberapa buku. Alasan saya mendapat hadiah beragam. Beberapa buku saya peroleh dari penulis yang bukunya saya sunting. Buku lain saya dapatkan merupakan hadiah dari kegiatan #KamisMenulis milik grup Lagerunal, hadiah dari AISEI. Ada juga hadiah cuma-cuma dari rekan penulis. Selain itu, saya membeli buku karya mereka. Ya, membeli buku karya sahabat, bagi saya adalah cara lain mempererat persahabatan. Berikut ceritanya.

Paket Biru

Tulisan ini saya tulis pada hari Rabu, 2 Maret 2022. Di sela-sela saya mengikuti kegiatan diklat daring, pintu rumah diketuk kurir. Kurir J&T Tugumulyo Musi Rawas mengantarkan sebuah paket berwarna biru. Ketika membaca alamat pengirim, saya pun tersenyum.

Paket Berwarna Biru (Dok. Pribadi)

Percakapan di WhatsApp dengan Bu Kanjeng berlanjut! Jamaknya jual beli online, uang dikirim dahulu, barang dikirim kemudian. Nah, yang ini berbeda. Bunda Kanjeng mengirimkan barang lebih dahulu. Mungkin beliau tidak sabar ingin segera membahagiakan saya, ha ha ha. Saya sebenarnya memang berniat membeli buku yang beliau tawarkan. Namun, saya belum berniat mengirimkan uang dalam waktu dekat. Maklum, sebagai orang tua yang masih memiliki dapur di mana-mana membuat saya menunda untuk mengirimkan uang pembelian buku kepada penulis ulama tersebut. Terima kasih, Bu Kanjeng. Penulis ulama (usia lanjut masih aktif) yang satu ini paling bisa memikat hati.

Setelah paket saya anboksing, hahaha … maksudnya unboxing , terlihat tiga buku yang cantik-cantik.

Buku Cerita Anak

Selain tiga eksemplar buku tersebut, masih ada satu buku lagi. Nah, kalau buku yang berikut ini, memang sengaja saya pesan kepada salah satu penulisnya, Ibu Ewi atau Helwiyah. Namun, alasan ongkos kirim, pun buku masih di tangan Bunda Kanjeng Sri Sugiastuti, saya setuju saja ketika disatukan dengan buku yang ditawarkan kepada saya. Lumayan, kan. Ongkos sebesar 36.000 rupiah sudah bisa mengangkut empat buah buku. Bayangkan jika buku ini saya pesan terpisah, tentu akan menambah ongkos kirim lagi.

Buku cerita anak-anak yang berisi tidak kurang dari 14 cerita ini agak lain dari biasanya. Barangkali karena ditujukan untuk anak-anak, ukuran buku menjadi lebih jumbo. Buku yang berisi 143 halaman (vii + 136) berukuran 14 cm x 21 cm, lumayan besar. Tulisannya pun cukup besar. Font Comic Sans ukuran 14 poin membuat tulisan pada buku itu mudah dibaca, apalagi oleh saya yang sudah berkacamata plus 1,5.

Buku kumpulan cerita anak-anak “Petualangan Pupu dan Teman-Teman” memiliki tampilan warna yang cerah. Warna hijau dan hijau muda ditimpa tulisan judul berwarna merah dan hitam yang kontras cukup eye catching. Tambahan ilustrasi yang sebagian gambarnya ada pada aplikasi pembuat desain Canva menambah manis tampilan buku ber-ISBN 978-623-378-313-2.

Terima kasih kepada sahabat penulis yang telah memberi saya tambahan nutrisi literasi. Mohon maaf, karena segera ingin menuliskan kebahagiaan ini pada blog sederhana ini, saya belum bisa bercerita banyak tentang isinya. Lain waktu ya, Sahabat!

Musi Rawas, 2 Maret 2022.

Susanto

Educator, Father of 4 Children, Blogger, Lover of Keroncong Music.

9 thoughts on “Buku Tanda Persahabatan”

  • Buku Tanda Persahabatan.
    Mungkin, meresensinya boleh sebagai tanda kasih sayang ya Pak D.

  • Meskipun saya belum menjadi seorang penulis, namun melihat suatu persahabatan antar penulis begitu membahagiakan. Ada nilai positif yg terjalin, adanya saling menghargai, saling support dan banyak lagi lainnya .. mudah-mudahan suatu saat nanti namaq ada dalam sebuah cover bukuku

  • Terimakasih Pak D … Dari tulisan ini.. saya jadi pingin beli juga buku ceroen anak nya. Hehe
    Setuju. sesama penulis menghargai karya mereka dengan membeli bukunya.

  • O iya, Bu Ewi. Semangat menulis.

  • Siap, membaca dahulu meresensi kemudian.

  • Kan ada harganya? Terima kasih kunjungannya, Pak Padil.

  • Alhamdulillah. Akhirnya buku.cantik itu bisa menginspirasi Pak D untuk.memhuat tulisan yang cetar membahana. Begitulah ilmu Bu.Kanjeng yg ngga kalah dengan Presiden Amerika..Ilmu Rigen. Biar ngga berat di ongkir.dll.
    Matur nueun Pak D..ditunggu resensi buku ala Pak D.

  • Wah. ……terima kasih pak D sudah mengapresiasi antologi kami…..semoga memberi manfaat untuk di share kepada anak anak…..

Comments are closed.