SUSANTO BLOG

The Blog of a Learning Companion

article

“Saya Pribadi” Pemborosan Kata?

Gambar Tangkapan Layar Grup WA Lagerunal

Batere hape habis, terpaksa harus dicas. Ketika hape dibuka, grup WA yang pertama kali saya kunjungi adalah Grup LAGERUNAL. Ada pesan tulisan dari sahabat blogger, Pak Padil. Hingga pukul 11 malam, pesan tulisan itu adalah satu-satunya pesan yang muncul dan terakhir saya baca. Di sana tertulis:

Kenapa orang sering menggunakan “Saya pribadi”. Misalnya saya pribadi suka nulis kalmat yang pendek-pendek. Apakah ini bukan pemborosan kata? Bukan kalimat efektif?

Pada bagian akhir ada tulisan CC @PakDSusanto. Tidak lupa emoji tertawa berjajar dengan tangan “Person with Folded Hands” atau emoji yang biasa dipakai mewakili kata “namaste, terimakasih, maaf, atau tolong”.

Nah, “ketiban sampur” saya. Ketiban sampur adalah istilah Bahasa Jawa untuk menggambarkan didapatkannya suatu tugas/tanggung jawab/amanah yang tidak disengaja diterima.

Mengapa saya mendapat CC (copy carbon) dari Pak Padil? Apakah saya harus meneruskan pesan tersebut? Ha ha ha, rupanya pesan bernada “kegelisahan” itu minta diteruskan kepada saya. Loh, apakah saya ahli bahasa? Lagi-lagi saya harus berhaha-haha. Di grup para blogger yang rerata berprofesi guru itu saya suka “mengoreksi” kalimat tulisan teman-teman. Dengan nada gurauan mereka mengatakan bahwa saya “Polisi Bahasa”, ha … ha … ha ….

Ternyata istilah itu yang menciptakan ya … Pak Padil itu, blogger yang sering memenangkan lomba blog yang digelar berbagai institusi. Selain itu, ia juga penulis lepas di berbagai media mainstream, versi cetak maupun digital seperti: Republika, Kumparan, Kompasiana, dan sebagianya.

Saya Pribadi

Ada saja jalan untuk belajar. Copy carbon (salinan karbon) yang biasa disingkat “cc” menjadi motivasi ekstrinsik bagi saya untuk belajr dan menggali istilah saya pribadi. Mudah-mudahan hasil belajar ini memperkaya pengetahuan saya, syukur-syukur dapat menjawab kegelisahan Pak Padil dan kawan-kawan.

Kata “saya” adalah pronomina atau kata ganti orang pertama tunggal. Kata ini sering digunakan sebagai kata ganti orang yang berbicara atau menulis dalam ragam resmi maupun biasa, sebagai bentuk “halus” dari kata “aku” yang terkesan lebih santai dan tidak formal. Sementara, kata “pribadi” bermakna manusia sebagai perseorangan (diri manusia atau diri sendiri) atau keadaan manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang. Lihat KBBI, deh!

Jadi, frasa “saya pribadi” merujuk pada “saya sebagai perseorangan yang mewakili diri sendiri”.

Mungkin ada yang bertanya, “Loh, memangnya ada, saya yang bukan mewakili perseorangan atau diri sendiri?”

Sebelum menjawab dengan kata “ada atau tidak ada”, mari kite melihat fenomena yang ada pada kehidupan sosial kemasyarakatan. Sebagai makhluk sosial, seseorang memiliki peran tidak hanya sebagai diri sendiri, tetapi juga sebagai ketua, pimpinan, atau pengurus organisasi atau institusi. Sebagai pengurus institusi, seseorang mendapat amanat untuk menjalankan tugas sesuai dengan aturan main yang berlaku pada institusi dan berkewajiban memajukan institusi yang dipimpin atau diurusnya. Untuk itu ia menandatangani surat, membuat perjanjian, berpidato, atau menyampaikan presentasi yang mewakili atau mengatasnamakan organisasi/institusinya. Pada saat itu, kata “saya” yang ia keluarkan bukan sebagai dirinya, melainkan cerminan dari organisasi yang ia wakili. Presentasi tersebut mengikat tidak hanya dirinya tetapi juga seluruh orang yang menjadi anggota komunitasnya. Maka, tidak heran jika ada istilah “saya sebagai ketua” dan “saya pribadi”.

Istilah Saya Pribadi itu Boros dan Tidak Efektif?

Pak Padil, mungkin juga teman-teman lain, jika menganggap bahwa kata pribadi sudah termasuk ke dalam makna kata “saya” maka frasa saya pribadi tentu dianggap boros dan tidak efekti. Sebab, ciri kalimat tidak efektik di antaranya adalah penggunaan kata yang boros atau menggunakan dua kata yang bermakna sama dalam satu kalimat.

Ia datang ke rumah mama ibu saya.

Dilihat dari struktur, sepertinya kalimat di atas tidak ada masalah. Namun, akibat penggunaan dua kata yang bermakna sama, membuat pesan yang disampaikan menjadi kurang jelas.

Berkaitan dengan kalimat efektif, tentu kita maklum bahwa kalimat efektif adalah susunan kata yang mengikuti kaidah kebahasaan secara baik dan benar. Saat ini kaidah kebahasaan yang digunakan adalah EYD V (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan) Edisi V, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Selanjutnya, kalimat dikatakan efektif ketika susunannya sudah tepat. Di dalamnya terdapat subjek dan predikat. Jika diperlukan dapat ditambahkan objek, pelengkap, dan juga keterangan. Selain itu, pesan yang disampaikan tepat sebagaimana yang dikehendaki penyampai pesan.

Jika penyampai pesan menginginkan pembaca mengetahui bahwa sesorang datang ke rumah ibunya dengan menulis:

Ia datang ke rumah mama ibu saya.

Akan tetapi, pembaca memahami bahwa seseorang (ia) datang ke rumah neneknya (mama dari ibunya) maka kalimat di atas tidak efektif.

Kesimpulan

Kembali ke frasa “saya pribadi” yang menggelisahkan hati Pak Padil. Boroskah? Tidak efektifkah? Kita akan kembali mengupas pengertian kata “saya” dan “pribadi”. Kata “saya” adalah kata ganti orang pertama tunggal sedangkan “pribadi” adalah manusia sebagai perseorangan atau keadaan manusia sebagai perseorangan. Dalam kehidupan sosial, seseorang kadang mewakili institusi yang dipimpin atau diurusnya. Oleh karena itu, akan muncul kalimat:

Saya sebagai ketua Grup Lagerunal beserta anggota memohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan. (sepak terjang dan tindak tanduk mewakili dan mencerminkan aktivitas grup Lagerunal)

Saya sebagai pribadi (disingkat saya pribadi) memohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan. (sepak terjang dan tindak tanduk yang tidak mewakili dan mencerminkan aktivitas grup Lagerunal)

Jadi, setelah saya menganalisis makna kata per kata dan juga konteksnya dalam kalimat, frasa “saya pribadi” bukan bentuk yang boros. Bentuk tersebut dalam konteks kalimat pun dimaknai “keadaanya sebagai perseorangan” bukan mewakili sesuatu. Dengan demikian bentuk itu, efektif.

Jika Anda kurang sepakat silakan tulis di kolom komentar dengan bahasa yang santun.

Musi Rawas, 7 Maret 2022 direvisi pada 3 Februari 2023

PakDSus

Susanto

Educator, Father of 4 Children, Blogger, Lover of Keroncong Music.

20 thoughts on ““Saya Pribadi” Pemborosan Kata?”

  • Theresia Martini

    Selamat pagi Mas Susanto

    Menurut saya;
    Kata “saya” menunjukkan pribadi si penulis.
    Sedangkan kata “pribadi” juga menegaskan sbg kata tambahan ttg si penulis.

    Maka, ketika pertanyaan itu muncul, saya menyatakan bhw kalimat “saya pribadi” sangat jelas merupakan pemborosan kata.
    Sehingga dg kata “saya” saja sudah cukup menjelaskan.
    Namun terkadang, hal2 tsb kita lakukan tanpa kita sadari karena disebabkan oleh bbrp faktor, seperti :
    1. Kebiasaan
    2. Ketidaktahuan
    3. Kelelahan
    4. Terburu-buru
    5. Kelalaian/ luput

    Demikian pendapat saya mas.
    Mohon maaf, jika ada kesalahan atau kekurangan pengetahuan dari hal yg saya sampaikan di atas

    Terima kasih Mas Susanto
    Salam pagi, selamat beraktivitas

  • LELY SURYANI, S.Pd.SD

    Wow…
    Apakah menemukan ‘saya pribadi” pada tulisan saya Pak De?..

  • Saya suka klinik bahasa seperti ini. Seru menyimaknya karena dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari, sehingga jadi paham penggunaannya. Saya setuju dengan ulasan Pak D ini

  • Menurut saya, begitu. Tdak perlu ditambahi kata “pribadi”. Ini pendapat saya pribadi, bukan sebagai pimpinan anu. Ha ha ha ….

  • Saya pribadi memilih sepakat dengan ulasan ini.

  • Saya sepakat, Pak.
    Tapi saya nulis di kolom komentar, ya. Hehe… Menuliskan setuju dan paham dengan analsis yang gamblang gemintang dari Pak D.
    Terima kasih.

  • Sering memakai juga, saya pribadi. Mudah-mudahan sesuai. Terima kasih Pak D atas pencerahannya. Ikut belajar dari kegelisahan Pak Padil.

  • Polisi Bahasa cocok untuk Mr.Susanto,Krn setiap ada tulisan di blog selalu berkunjung dan mengulasnya.Emak pribadi senang sekali ada yg mengingatkan.Mantap…

  • Rizky Kurnia Rahman

    Benar juga, ya, saya pribadi awalnya juga dikira pemborosan kata. Ternyata, “saya” di situ sebagai diri sendiri, ada pula “saya” yang mewakili lembaga, institusi, perusahaan, dan yang lainnya. Pas sekali sharingnya ini.

  • Sepakat. Ulasan Pak D semakin menguatkan pemahaman saya tentang penggunaan kata “pribadi,” setelah “saya”. Terima kasih, Pak D. Terima kasih juga pada Pak Padil yang telah memancing Pak D untuk mengulas masalah ini secara detail.

  • Ulasan yang keren.
    Isi dipahami. Ijin menyampaikan bahwa masih ada typo. Contoh di “sesorang”, “isntistusi”
    Memang benar “tak ada gading yang tak retak” (walaupun aku belum pernah lihat dari dekat gading yang sebenarnya)

  • Selalu belajar banyak, banyak belajar ketika mampir di blog ini.
    Sehat selalu Pak D

  • Jd tergantung konteksnya, ya? Bisa menjadi pemborosan kata bila konteksnya tidak mendukung.
    Ulasan yg keren dan mantap, Pak D.

  • Nah, yang gelisah sudah komen. Terima kasih, sahabat.

Comments are closed.