SUSANTO BLOG

The Blog of a Learning Companion

article

Teknik Guling (Guru Keliling) pada Pembelajaran Luring (Luar Jaringan) di Tengah Keterbatasan Pembelajaran Moda Daring (Dalam Jaringan)

Pada awal tahun pelajaran 2020/2021, masih dalam kondisi darurat Covid-19, sekolah kami belum melaksanakan pembelajaran tatap muka. Oleh karena itu, agar orang tua/wali dapat mengetahui bagaimana pembelajaran pada masa pandemik di awal tahun pelajaran ini, penulis melakukan sosialisasi setelah hari pertama masuk sekolah. 


Sosialisasi pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dari rumah ke rumah siswa. Hal ini dilakukan karena menurut aturan belum boleh mengadakan acara yang dihadiri orang banyak. Selain itu dengan melakukannya dari rumah ke rumah, guru kelas dapat berkenalan langsung dengan orang tua/wali sekaligus mengetahui posisi rumah peserta didik dari sekolah. Hal ini disadari karena penulis sebagai guru berdomisili belasan kilometer dari sekolah. 

Didampingi dua orang siswa, dimulailah perjalanan silatuhami dan sosialisasi. Jarak rumah peserta didik dari sekolah bervariasi. Dari yang hanya beberapa langkah saja dari pintu gerbang sekolah hingga beberapa ratus meter jauhnya sekolah. Ada satu orang peserta didik yang rumahnya lebih dari 4 km letaknya dari sekolah.

Sebagian besar orang tua siswa, menerima dengan baik. Dapat memahami kemungkinan pembelajaran yang bakal berlangsung. Kemungkinan melalui video pembelajaran, melalui WA, dan jika anak-anak siap dipayakan melalui moda daring lainnya. Sebagian juga bersedia menjadi tempat anaknya berkelompok untuk belajar secara luring (luar jaringan) tanpa tergantung pada gawai dengan paket data internet di dalamnya. 

Hal itu berlangsung pada hari kedua dan ketiga di awal tahun pelajaran baru ini. Mengapa harus demikian? Tidak semua anak memiliki gawai berupa telepon pintar berbasis android. Sebagian berbagi pakai dengan anggota keluarga atau orang tua. Sebagian lagi tidak secara rutin bisa mengisi paket data. Dan, meskipun secara umum sinyal salah satu penyedia layanan seluler relatif bagus, ada tempat-tempat di sekitar lingkungan siswa yang masih sulit mendapatkan sinyal telepon seluler.

 

 

 

 

 

 

Gambar: Dokumen Pribadi
 
Hari keempat, karena mematuhi protokol kesehatan, kelas dibagi menjadi 5 kelompok. Ada 5 orang setiap kelompok. Secara bergantian, sesuai jadwal mereka saya minta untuk melakukan pembelajaran luring. Lho kok luring? Iya, karena selain keterbatasan gawai dengan berbagai variasi kendalanya, juga karena saya dan mereka belum saling beradaptasi sebagai alasan berikutnya. Bergantian selama 3 hari mereka belajar berkelompok dengan saya. Pada hari terakhir saya evaluasi. Pembelajaran luring berjalan lancar, tetapi capaian materi terasa sangat lambat. Benar, di masa pandemi ada kelonggaran pada pencapaian target kurikulum, namun kompetensi dasar mestinya diselesaikan, satu demi satu. 
 
Masih pada masa di mana PTM (pembelajaran tatap muka) belum diperbolehkan, pada kesempatan berikutnya saya mengubah strategi. Strategi pembelajarannya adalah kombinasi daring dan luring dengan teknik guling  (guru keliling). Siswa yang memiliki gawai lengkap dengan paket datanya dikelompokkan dengan siswa yang tidak memiliki gawai. Jarak rumah antarsiswa juga dipertimbangkan. Pada hari pertama sampai kelima, mereka diminta untuk berkelompok, berkumpul di satu titik rumah salah satu teman dalam kelompok. Waktu belajar ditetapkan pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dengan waktu istirahat fleksibel ditentukan oleh masing-masing kelompok.
 
Bagaimana teknik guling pada strategi pembelajaran kali ini? Sebelumnya guru mempersiapkan materi (misalnya: bahan ajar, lembar kerja, video, atau link video dari youtube) dan mengirimkannya ke grup WA  kelas. Untuk memastikan setiap kelompok mengakses bahan ajar yang diberikan, pesan juga diteruskan kepada peserta didik pada kelompok yang dipastikan memiliki paket data internet agar ketika tiba di kelompoknya, anggota lain dapat ikut memelajari. Selanjutnya mereka bekerja sesuai perintah dalam lembaran kegiatan/lembaran kerja.  
 
Setelah lebih kurang 30 menit berlalu, guru memulai berkeliling ke titik-titik kelompok untuk memberikan pembelajaran: memastikan langkah-langkah belajar sesuai petunjuk, memastikan setiap anggota kelompok terlibat dalam proses belajar, memberikan layanan jika ada yang kurang dipahami. Waktu kunjung sekitar 15 menit setiap kelompoknya. Hal itu dilakukan pada hari pertama hingga kelima. Pada hari keenam, tugas yang dikerjakan dikumpulkan, guru memberikan evaluasi. 
 

 

 

 

 

 

Gambar: Dokumen Pribadi
 
Pembelajaran hingga postingan ini diunggah baru berjalan 2 pekan. Belum diketahui keefektifan teknik yang dilakukan. Namun masih dilakukan hingga akhir bulan Agustus mendatang. Saya belum menemukan teknik pembelajaran yang ideal pada masa pandemi COVID-19 di tengah keterbatasan pada beberapa hal. Semoga awal September kembali normal. 
 
Tegalrejo, Tugumulyo, Musi Rawas, 02 Agustus 2020

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Susanto

Educator, Father of 4 Children, Blogger, Lover of Keroncong Music.

19 thoughts on “Teknik Guling (Guru Keliling) pada Pembelajaran Luring (Luar Jaringan) di Tengah Keterbatasan Pembelajaran Moda Daring (Dalam Jaringan)”

  • Having read this I believed it was really informative.
    I appreciate you spending some time and effort to
    put this informative article together. I once again find myself spending way too much time both reading and
    leaving comments. But so what, it was still worthwhile!

  • you’re in point of fact a good webmaster.
    The web site loading velocity is incredible. It seems that you’re doing any unique trick.
    Also, The contents are masterpiece. you’ve done a fantastic
    job on this topic!

  • Hey! This is my first visit to your blog!
    We are a team of volunteers and starting a new project in a community in the
    same niche. Your blog provided us useful information to work on. You have done
    a marvellous job!

  • Hey there I am so delighted I found your weblog, I
    really found you by error, while I was browsing on Google for
    something else, Anyways I am here now and would just like to say
    thanks a lot for a marvelous post and a all round enjoyable blog (I also love the theme/design), I don’t have time to look over
    it all at the moment but I have bookmarked it and also included your RSS feeds, so when I have time I will be back to read a lot more, Please do keep up the excellent job.

  • I’ve been browsing on-line more than 3 hours as of late, yet I by no means found any interesting article like yours.
    It is beautiful price enough for me. In my
    view, if all site owners and bloggers made excellent content as you
    probably did, the net will be a lot more useful than ever before.

  • Rizky Kurnia Rahman

    Semoga dari istilahnya, guling, tidak bermakna mau tidur terus ya, Pak! Hehe…

    Seorang guru memang harus inovatif, layaknya Pak D Susanto ini. Lanjut terus, Pak…

  • Salut sama teman2 guru SD. Mau melaksanakan guling. Semoga PTM segera bisa dilaksanakan.

  • Lanjut pak de, banyak yg nggak mau daring, tapi tak mau juga guling, malah maunya bantal (membantah tak punya alasan) he….

  • Asswb…..luarbiasa pengabdian total dari Pakde…..smg menginspirasi guru2 yang lain…..smgt pkde….smg Allah sll memberi kesehatan bt pkde….

  • Terima kasih untuk semua komennya. Maaf, tidak bisa membalas satu demi satu.

  • Mantap Pakde mengispirasi. Semoga pandai cepat berakhir.

  • Ada kemauan pasti ada jalan. Semua menjadi mungkin untuk dilaksanakan. Keren pak bos, semoga menjadi inspirasi untuk teman guru yg lain.

  • Saluut pak…perjuangan guru yg luar biasa dimasa pandemi ini

Comments are closed.