Sumpah Pemuda di Bawah Guyuran Hujan, Berharap Asap Segera Terusir

Tepat di momen sakral Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, langit Tugumulyo seolah merayakannya dengan menumpahkan gerimis sejak pukul 05.30 pagi. Tirai air itu kemudian berubah menjadi hujan deras yang mengguyur bumi, mencoba menembak jatuh pekatnya kabut asap yang selama ini mencekik napas warga.
Di tengah derasnya hujan, denyut pendidikan kembali berdetak. Anak-anak sekolah yang sebelumnya terkurung dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat bencana kabut asap, kini kembali menapaki jalanan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Meskipun kabut kegelapan pagi masih enggan beranjak, jalanan di Kota Tugumulyo berangsur lengang. Lautan seragam itu telah menyebur masuk ke dalam kelas, meninggalkan jalanan yang sunyi.
Warga menaruh asa besar pada air yang turun dari langit. Mereka berharap hujan segera memadamkan lahan-lahan yang terbakar sehingga asap tidak menebal kembali. Namun, alam kerap menyimpan jebakan; jika hujan hanya mengguyur sekilas dan gagal menjinakkan bara api, proses pembakaran yang tidak sempurna justru akan memuntahkan asap yang jauh lebih pekat, alih-alih menghilangkannya.
Dua hari lalu, indeks pencemaran udara di wilayah ini sempat menyentuh level hitam—sebuah rapor merah bagi kualitas udara yang menandakan bahaya, sehingga sekolah diizinkan mengajukan PJJ. Beruntung, sehari setelahnya, ketebalan asap secara kasat mata mulai berkurang, dan harapan akan langit yang lebih bersih kembali bersemi.
Di balik dinamika cuaca dan kebijakan sekolah, para orang tua murid menyimpan unek-unek. Hasil refleksi terhadap PJJ yang menggunakan media grup WhatsApp maupun LMS mengungkap fakta bahwa sistem tersebut cukup merepotkan. Sebagian besar orang tua wali murid mengaku kehabisan waktu, tenaga, hingga harus merogoh kocek lebih untuk pengisian catu daya perangkat yang terus terkuras.
Hujan hari ini adalah bilur penyembuh yang diharapkan mampu mengobati luka bumi Tugumulyo, Musi Rawas. Masyarakat berdoa agar asap ini berangsur menipis dan akhirnya menghilang, membiarkan langit biru kembali menjadi atap yang ramah bagi masa depan anak-anak bangsa.***
Tugumulyo Musi Rawas, 28 Oktober 2026
Salam blogger sehat!