Jangan Membuat Soal dengan AI? Ini Alasannya!

Kisi-kisi penulsian soal sudah selesai disusun. Di dalamnya terdapat CP, TP, materi, indikator soal, level kognitif, bentuk soal, dan nomor soal. Artinya, guru sudah memiliki peta yang jelas tentang soal-soal yang harus dibuat.
Langkah berikutnya adalah menulis soal berdasarkan setiap indikator.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan?
Mari, kita hitung! Jika satu soal dibuat secara manual dalam waktu 3–5 menit, untuk menyelesaikan 40 soal diperlukan waktu 120–200 menit atau sekitar 2 jam hingga 3 jam lebih. Itu pun jika Anda bekerja terus-menerus tanpa jeda. Mungkinkah? He he he ….
Pertanyaan berikutnya, apakah satu soal pasti selesai dalam lima menit?
Yuk, kita ilustrasikan!
Guru harus membuka buku sumber, mencari halaman yang sesuai, membaca materi, memahami konteks, kemudian merumuskan pertanyaan dan pilihan jawaban di laptop. Belum lagi memeriksa kunci jawaban, memastikan distraktor/pengecoh masuk akal, dan … satu lagi, ngopi dan makan camilan. Ada yang kena, nih!
Pekerjaan yang semula diperkirakan selesai dalam tiga jam lebih bisa membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Pak Bos, boleh tidak memanfaatkan AI?
Bayangkan guru sudah memiliki kisi-kisi dalam format digital. Buku sumber juga tersedia dalam bentuk PDF. Bahkan, beberapa halaman internet atau buku sumber lainnya pun sudah sudah dipilih melalui tangkapan layar karena sesuai dengan indikator soal.
Sang guru kemudian melampirkan semua bahan tersebut ke AI, menuliskan perintah atau prompt yang terstruktur, dan meminta AI mengembangkan soal berdasarkan indikator yang tersedia.
Apa yang terjadi?
AI dapat membantu membaca bahan, mengidentifikasi informasi yang relevan, merumuskan pertanyaan, membuat pilihan jawaban, menyusun kunci jawaban, hingga memberikan penjelasan. Guru dapat memperoleh draf soal dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan mengerjakannya satu per satu secara manual.
Namun, apakah hasilnya otomatis benar?
Guru masih boleh mempertanyakannya. Lagi pula dua tangkapan layar berikut contoh bahwa AI mash terbuka peluang melakukan kesalahan.


Tangkapan layar tersebut memberikan pelajaran penting bagi guru, AI masih terbuka peluang melakukan kesalahan dan pengguna masih diminta untuk memeriksa. Siapa pengguna dalamhal ini? Guru!
Guru Pengendali Kualitas Soal
Menurut saya, kunci keberhasilan penggunaan AI terletak pada kualitas instruksi dan bahan yang diberikan.
Guru sebaiknya tidak sekadar mengetik perintah, “Buatkan 40 soal pilihan ganda.” Perintah seperti ini terlalu umum.
AI belum memperoleh informasi yang cukup tentang tujuan pengukuran, karakteristik peserta didik, materi sumber, dan kemampuan yang hendak diuji.
Akan lebih baik apabila guru memberikan kisi-kisi, buku sumber, materi pendukung, serta indikator soal secara terperinci.
Guru juga perlu menetapkan batasan agar AI tidak mengambil materi di luar sumber yang disediakan.
Setelah draf soal dihasilkan, guru tetap harus melakukan pemeriksaan. Apakah soal sesuai indikator? Apakah kunci jawaban benar? Apakah pilihan pengecoh berfungsi? Apakah bahasa sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik? Apakah soal benar-benar mengukur kemampuan yang ditargetkan?
Pada tahap berikutnya, soal perlu ditelaah dan, sesuai kebutuhan, diuji coba untuk memperoleh bukti empiris mengenai tingkat kesukaran, daya pembeda, fungsi pengecoh, dan reliabilitas instrumen.
Sebab, validitas dan reliabilitas tidak dapat dipastikan hanya melalui prompt yang bagus.
AI Mempercepat, Guru Tetap Bertanggung Jawab
Ada satu hal yang perlu kita sepakati: menggunakan AI untuk membantu menyusun soal bukan berarti menyerahkan tanggung jawab penilaian kepada mesin.
Guru tetap menjadi pihak yang memahami peserta didik, tujuan pembelajaran, karakteristik materi, dan konteks pelaksanaan asesmen.
Jadi, apakah guru sebaiknya tidak membuat soal dengan AI?
Menurut saya, justru sebaliknya. Guru perlu belajar memanfaatkan AI secara cerdas dan bertanggung jawab.
Waktu yang berhasil dihemat dapat digunakan untuk menelaah kualitas soal, memperbaiki pembelajaran, atau memberikan pendampingan kepada peserta didik.
Jangan takut membuat soal dengan AI. Yang perlu dihindari adalah menggunakan soal hasil AI tanpa memeriksa ketepatan, kesesuaian, validitas, dan reliabilitasnya.
Pada postingan selanjutnya, saya berikan prompt untuk membuat soal.
Tapi ingat, ya. Bunyinya tidak: BUATKAN 40 SOAL SESUAI KISI-KISI YANG SAYA LAMPIRKAN!
Musi Rawas, 1 November 2026
Salam Literasi

Koyok e kenal aq wong e?…..