artikel

Bingung Memaknai Hasil TKA Tahun 2026, Begini Caranya

Guru/Kepala Sekolah sekolah dasar mulai mengunduh hasil TKA 2026 berupa Daftar Kolektif Hasil Tes Kemampuan Akademik (DKHTKA). Dokumen tersebut adalah Daftar Kolektif Hasil Tes Kemampuan Akademik (DKHTKA) pada dua mata uji: Matematika dan Bahasa Indonesia.

Dari daftar itu, guru/kepala sekolah mengetahui perolehan nilai yang dicapai murid berupa angka dengan dua desimal. Angka yang ditunjukkan berkategori kurang, memadai, baik, atau baik sekali.

Persoalannya, banyak guru dan kepala sekolah berhenti pada angka. Ketika melihat kategori “kurang”, “memadai”, atau “baik”. Sebagian hanya sampai pada kesimpulan sederhana bahwa hasil murid masih rendah atau sudah cukup bagus.

Padahal, data TKA sesungguhnya dapat dibaca lebih dalam. Ada cerita pembelajaran yang tersembunyi di balik angka dan kategori. Ada gambaran tentang kekuatan murid, kelemahan pembelajaran, hingga arah perbaikan sekolah.

Awalnya, saya pun sempat mengalami kebingungan yang sama. Hingga akhirnya mencoba meminta bantuan asisten cerdas untuk membantu membaca hasil TKA murid di sekolah.

Dengan meminta bantuan asisten ahli yakni Kecerdasan Artifisial, saya pun akhirnya memahami dan dapat menginterpretasikan hasil tes murid-murid di sekolah saya.

Misalnya, hasil yang sebagian gambar tangkapan layarnya saya tampilkan. Pada mata pelajaran Matematika, terdapat 9 siswa (27,3%) murid dengan kategori kurang (nilai di bawah 30). Ada 18 murid (54,5%) memperoleh hasil memadai (30-59). Terdapat 6 orang (18,2%) mendapat nilai baik (60-79). Sementara, tidak ada satu pun murid yang mendapat nilai lebih dari 80.

Demikian pula pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dianalisis perolehan nilai para murid seperti pada mata pelajaran Mataematika.

Selain itu, asisten ahli bernama kecerdasan buatan atau AI memberitahukan juga siswa dengan potensi unggul (keduanya Baik), sebagai berikut:

  • No. 23 — Nayla Afra Aurelia: MTK 66,67 / B.Indo 80,00
  • No. 25 — Eliza Dwi Saputri: MTK 56,67 / B.Indo 86,67

Tidak hanya itu, kita pun mendapat informasi, misalnya ada pola asimetri kemampuan murid tertentu.

Ada siswa kuat Matematika tapi lemah Bahasa Indonesia (misal No. 26, Ade Artri Febrian: MTK 56,67 / B.Indo 36,67). Akan tetapi, ada siswa kuat Bahasa Indonesia tetapi lemah pada Matematika (misal No. 12, Aqia Az Zahara: MTK 33,33 / B.Indo 86,67)

Pemaknaan: Apa yang Sesungguhnya Terjadi?

Hasil ini mencerminkan beberapa hal yang perlu dibaca secara jujur dan reflektif: Matematika lebih lemah dari Bahasa Indonesia. Kemungkinan besar karena pembelajaran Matematika masih lebih banyak bertumpu pada hafalan prosedur, bukan pemahaman konsep dan penalaran.

Hampir tidak ada siswa yang benar-benar unggul atau tidak ada yang mencapai Sangat Baik di kedua mapel. Ini perlu menjadi refleksi mendalam: apakah ceiling pembelajaran di kelas sudah cukup menantang?

Kelompok bawah yang cukup besar (27%), perlu diselidiki lebih jauh: apakah ada faktor kehadiran, kondisi keluarga, gaya belajar, atau kemungkinan kebutuhan belajar khusus?

Tindak Lanjut: Dari Sisi Guru

Melihat interpretasi tersebut ada hal-hal yang harus dilakukan guru.

1] Tindakan segera (jangka pendek)

Petakan ulang siswa ke dalam 3 kelompok belajar berdasarkan hasil ini: Kurang, Memadai, Baik — sebagai dasar diferensiasi pembelajaran. Guru perlu segera melakukan asesmen diagnostik lanjutan khusus untuk 6 siswa yang Kurang di keduanya. Apa akar masalah yang mungkin muncul: apakah literasi dasar, numerasi dasar, atau ada hambatan lain.

Sayangnya, hasil TKA baru keluar ketika anak-anak sudah menyelesaikan pembelajaran di kelas enam.

2] Dalam Pembelajaran (Program jangka menengah)

Diferensiasi konten dan proses: siswa Kurang perlu pendekatan scaffolding yang kuat; siswa Baik perlu tantangan yang lebih dalam (enrichment).

Untuk Matematika: perkuat pembelajaran berbasis pemecahan masalah kontekstual, bukan sekadar latihan soal rutin. Gunakan benda-benda nyata, situasi sehari-hari.

Untuk Bahasa Indonesia: dorong kebiasaan membaca teks beragam, latihan memahami bacaan secara kritis, bukan hanya menjawab pertanyaan literal. Manfaatkan siswa yang unggul sebagai tutor sebaya untuk membangun rasa percaya diri kedua belah pihak.

3] Refleksi Profesional

Guru menjadikan data TKA ini sebagai bahan refleksi mengajar: materi mana yang tidak tersampaikan dengan baik? Metode apa yang perlu diubah? Catat temuan ini dalam jurnal refleksi atau portofolio guru karena ini akan berguna untuk pengembangan diri berkelanjutan.

Tindak Lanjut: Dari Sisi Sekolah

Tidak hanya dari sisi guru, sekolah pun perlu melakukan langkah-langkah tindak lanjut. Sekolah perlu melakukan analisis dan dokumentasi. DKHTKA perlu diolah dan dimaknai dengan cermat. Apakah sekolah perlu melakukan Program Intervensi.

Program remedial terstruktur untuk kelompok Kurang dilengkapi dengan target, metode, dan evaluasi yang jelas.

Sekolah pun perlu mempertimbangkan pendampingan orang tua untuk 6 siswa yang Kurang di kedua bidang. Pelibatan orang tua demi proses perbaikan belajar anak.

Lebih dari itu, sekolah perlu meninjau kembali penguatan budaya literasi dan numerasi. Pastikan program tersebut benar-benar berjalan, bukan hanya tertulis di dokumen. Menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang belajar aktif adalah tindakan bijaksana.

Agar guru kelas 6 tidak merasa sendirian dalam melakukan refleksi terhadap hasil TKA, Sekolah perlu menyusun dan melaksanakan pengembangan kapasitas guru melalui forum diskusi antarguru kelas untuk membahas hasil TKA ini secara terbuka.

Terakhir, sekolah melakukan monitor dan evaluasi. Monev inipenting dilakukan untuk memastikan program yang disusun berjalan lancar dan memiliki hasil yang berdaya guna. Masukkan analisis TKA ini ke dalam evaluasi KOSP sebagai data Rapor Pendidikan yang riil dan aktual.

Sekolah pun perlu menyampaiakn hasil TKA kepada komite sekolah dan orang tua secara transparan. Bukan sekadar melaporkan angka-angka sebagaimana tercantum pada DKHTKA, namun mendeskripsikan dalam dalam bahasa yang mudah dipahami.

Angka-angka dalam DKHTKA ini bukan sekadar deretan skor. Di baliknya ada 33 anak dengan latar belakang, kemampuan, dan perjalanan belajar yang berbeda-beda. Tugas guru dan sekolah memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan setara. Sedangkan angka sebagai hasil kuantitatif sekadar cermin. Data hasil TKA ini perlu dibaca, dimaknai, dan ditindaklanjuti.

Prompt untuk Meminta Bantuan AI Memaknai Hasil TKA

Uraian di atas adalah contoh interpretasi dan pemaknaan hasil TKA dari DKHTKA yang sudah diunduh oleh operator. Apabila kita kesulitan menginterpretasi hasil TKA murid, tidak ada salahnya jika meminta bantuan AI untuk menganalisisnya.

Namun, ingat, kecerdasan buatan atau AI bisa keliru, harap periksa kembali respon yang diberikan.

Nah, untuk meminta AI membantu menafsirkan dan memaknai hasil TKA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Buka aplikasi web (ChatGPT, Gemini, Claude, dan sebagainya)

2. Klik tanda “+” lalu lampirkan file dari komputer Anda.

Meminta kepada ChatGPT (Gambar Tangkapan Layar chatgpt.com)
Tampilan Gemini Google (Gambar Tangkapan Layar gemini.google.com)
Tampilan Claude (Tangkapan Layar claude.ai)

3. Ketikkan perintah, misalnya seperti berikut ini:

Interpretasikan dan maknai hasil TKA SDN MATARAM yang saya lampirkan. Dari sisi guru, apa yang harus dilakukan? Dari sisi sekolah apa yang sebaiknya dilakukan?

Respon setiap aplikasi AI berbeda. Guru/Kepala Sekolah memeriksa kembali dan menyimpulkan hasil yang paling baik.

Musi Rawas, 28 Mei 2026
Salam Blogger Sehat,

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.