Kelas Menulis yang Unik nan Apik
Kelas Menulis yang Unik nan Apik
Hari ini, tanggal 13 Maret 2022 pukul 22.06 WIB. Saya mendapat kabar dari Pak Bryan yang dinukilnya dari website: https://pelatihanbelajarmenulis.blogspot.com/2020/08/daftar-peserta-belajar-menulis-yang.html, bahwa dari 22 Gelombang Kelas Menulis, baru 198 orang yang berhasil menerima sertifikat. Sertifikat tanda lulus pelatihan akan diberikan apabila peserta berhasil menulis hasil belajarnya dalam bentuk resume pada blog pribadinya (dibuktikan dengan link atau blog yang memuat tulisan itu) dan sebuah buku karya tunggal. Buku karya tunggal berupa buku hasil menulis resume pembelajaran atau buku tunggal karya lainnya.
Jika, rerata setiap gelombang kelas adalah 100 orang tidak termasuk yang mengulang (boleh jadi lebih), peserta kelas menulis besutan Omjay ini tidak kurang dari dua ribuan orang. Kok, hanya 198 yang lulus, ya?
Seleksi alam, apalagi untuk hal yang berbau kompetisi, tentu berlaku. Dalam kelas menulisnya Omjay sebenarnya tidak ada kompetisi. Ya, tidak ada kalah dan menang. Syaratnya pun terbilang mudah: punya blog, tulis resume di blog, pilah dan pilih 20 tulisan, taraa … jadikan buku.
Pada Kelas Menulis Bersama Omjay, banyak mentor yang membagikan ilmu dan menyisihkan tenaga dan pikirannya untuk mewujudkan mimpi memiliki buku ber-ISBN. Rekanan penerbit indie, ada. Pengelola penerbitan, ada. Bahkan, penerbit mayor pun, siap. Siapa lagi jika bukan Penerbit Andi, Yogyakarta.
Kelas Menulis Unik
Kelas menulisnya Omjay ini terbilang unik. Di sana, tidak ada pelajaran teknis menulis. Ya iyalah, kan hampir semua pesertanya guru atau pendidik. Bahkan banyak di antaranya lulusan strata dua, Magister! Nggak lucu dong kalau ngajarin struktur, ejaan, kalimat efektif, dan sebagainya. Kalaupun ada hal ihwal teknik penulisan, persentasenya sangat kecil. Itu pun tidak ada borang latihan yang harus diisi dan dikirimkan kepada penyelenggara. Tidak ada tagihan tentang itu. Tagihannya hanya resume dan melaporkan hasil tulisannya berupa link blog kepada teman-temannya di grup masing-masing, boleh juga di media sosial yang dimiliki.
Hanya sedikit narasumber yang memberikan tantangan menulis di kelas. Untuk ini biasanya Omjay yang suka ngasih tantangan. Beliau kirim kata, peserta diminta mendeskripsikan. Pada kesempatan lain, beliau mengirimkan gambar buah atau makanan, lalu menantang peserta untuk bercerita dalam tiga paragraf. Sesungguhnya, Omjay sedang mengajarkan bahwa menulis itu terdiri dari tiga bagian: pembukaan, inti, dan penutup.
Jika bukan teknis menulis, apa dong yang didapat dari kelas menulis yang peminatnya hampir tidak pernah surut, bergelombang-gelombang? Tadinya saya mengira akan sepi dan tutup ketika gelombang 19 selesai. Ternyata, gelombang berikutnya lebih dahsyat. Tim solid yang berada di balik layar pun semakin andal. Saat tulisan ini dipublikasikan, Gelombang 23 dan 24 masih berlangsung.
Apa yang peserta terima? Yang peserta terima adalah cerita, pengalaman, dan rahasia yang dimiliki atau diketahui oleh para narasumbernya. Cerita yang dituturkan, pengalaman yang diceritakan, dan “rahasia” yang dibagikan menjadi pengalaman berharga yang layak direkam dalam bentuk tulisan.
Menulis dua puluh, bahkan sekarang ditingkatkan menjadi tiga puluh buah resume, tanpa disadari penulisnya adalah proses pembelajaran yang merdeka. Tanpa dicela, tanpa dikoreksi, bahkan banjir puja dan sanjung yang menyemangati. Narasumber yang memotivasi, rekan seangkatan yang SKSS (saling kunjung saling sanjung) menambah rasa percaya diri. “Aku tidak bisa menulis” otomatis tertepis.
Terima Kasih, Omjay!
Terima kasih, Omjay! Kalimat ini terlontar dari ratusan orang, baik yang lulus secara formal bersertifikat, maupun yang merasa mendapatkan pengalaman segudang ihwal kepenulisan dari Kelas Menulis yang proses pembelajarannya murni melalui WA.
Saya pun alumni dari kelas menulisnya Omjay di Gelombang 15, yang masih belum pandai menulis apalagi menghasilkan karya buku bermutu. Dari kelas itu saya makin menyadari bahwa, menulis itu membutuhkan kemauan, berani memulai, berani meluangkan waktu, dan berani membagikan kepada teman.
Ibaratnya, saya menjadi tukang sekoteng yang lewat di komplek perumahan sambil menabuh mangkuk. “Ting … ting … ting … ting!” Memekakkan telinga, menggaduhkan suasana.” Namun, jika tidak lewat sehari saja, mereka akan melongok ke beranda dan bertanya: “Ke mana Pak De tukang sekoteng, tumben tidak jualan?” He he he ….
Saya yakin, suatu saat mereka akan membeli dagangan saya. Mencicip meskipun sekali saja. Enak atau tidak, bukan saya yang menentukan. Tugas saya adalah meracik bumbu sesuai resep yang saya dapat dari berbagai sumber: leluhur, majalah, dan internet. Jika enak, mereka akan kembali membeli, jika tidak enak dan dagangan saya tidak laku akan saya pelajari dan perbaiki.
Sebagai penulis, tugas saya adalah merangkai kata dan membungkus ide dalam untaian kalimat. Itulah yang saya dapat dari berbagai narasumber di kelas atau dari tulisan mereka di internet. Bagus atau tidak bukan urusan saya. Ada data statistik di website yang bisa digunakan untuk menilai tulisan seperti apa yang banyak pengunjung dan pembacanya.
Rumahku Surgaku
Saya mengetahui bahwa pria tambun yang mulai kelihatan langsing ini, merayakan ulang tahun pernikahannya pada tanggal delapan Maret dari website https://www.gurupenggerakindonesia.com/. Tahun ini, guru blogger yang nama aslinya dapat dilihat pada https://wijayalabs.com/ menyunting sang istri tercinta, ibu Siti Rohaye, ups … maksud saya ibu Siti Rokayah, merayakan ultah pernikahannya yang ke-24.
Tanggal 8 Maret 1998 hingga 8 Maret 2022 adalah perjalanan panjang sebuah rumah tangga. Pantas saja jika pada tahun ke-25 sebagian pasangan merayakan tahun perak perkawinan mereka. Sabar ya, Omjay! Satu tahun lagi Anda bersama Tante Siti Rokayah Insya Allah menikmati Silver Wedding Anniversary.

Usia perkawinan hingga 24 tahun dan memiliki buah hati laksana Intan dan Berlian, patut disyukuri. Karena, saya yakin perjalanan rumah tangga selama itu tidak semulus Jalan Layang MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed yang membentang dari Km 10A Cikunir hingga Km 46 di Karawang Barat. Tentu ada onak dan duri, pertengkaran, selisih paham, dan sebagainya. Namun, rasa cinta yang dipenuhi kasih sayang memberikan ketenangan dan ketenteraman hidup. Onak duri, selisih paham, menjadi bumbu penyedap sehingga keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
Namanya berumah tangga, pasti diam di dalam rumah. Seperti pengalaman saya. Selama dua belas tahun saya hidup di daerah yang saat itu (1993-2006) hanya bisa ditempuh dengan kendaraan sungai, saya mengamati keluarga muda. Mereka memulai rumah tangganya di ladang. Keluarga muda itu tinggal di pondok dengan tiang yang cukup tinggi. Di sana mereka mengolah ladang: menanam padi, pisang dan sayuran, memotong (menyadap) karet, mencari kayu, berburu, atau mencari ikan di sungai atau danau dekat pondoknya. Pondok kecil berukuran 3 x 4 meter di tengah ladang, tanpa penerangan lampu listrik, mampu membahagiakan penghuninya. Pondok itu bagai surga. Tempat peraduan. Tempat memadu kasih dan sayang.
Omjay dan Tante, Selamat Berbahagia!
Omjay beserta istri tentu tidak memulai hidup seperti pasangan muda yang saya amati di pedalaman. Namun, perjalan cinta kasih dalam membina rumah tangga serta mewujudkan rumahku laksana surgaku, saya yakin tidak jauh berbeda dengan mereka. Sama substansi, beda situasi. Ngomong apa sih, saya? Ha ha ha ….
Omjay dan Tante, tulisan ini, saya dedikasikan untuk Anda berdua. Pada peringatan ulang tahun pernikahan Anda, saya ingin berkata jujur. Semula saya kagum, makanya saya ikut pelatihan menulis pada Gelombang 15 dan menyelesaikan kewajiban yang disyaratkan. Setelah mengenal (secara virtual), perasaan kagum makin bertambah. Pun, saya suka kesal. Jika Omjay bertanya atau sahabat lain bertanya, “Kesal kenapa, sih?” Pasti tidak akan saya jawab. Itu permainan hati yang tidak boleh berubah menjadi ghibah. Ha ha ha … alasan, ya!
Di sinilah, bersahabat sedikit lain dari berteman, menurut saya. Berteman biasa, jika kesal maka biasanya ditinggalkan atau diajak kelahi. Seperti kesal dengan bunyi ting ting Kang Sekoteng. Si tukang sekoteng akan saya semprot,” Jangan bunyikan mangkuk di rumah saya!”
Akan tetapi, bersahabat tidak demikian. Bunyi ting ting Kang Sekoteng bisa menjadi pengingat waktu. Teriakannya sesekali menggugah semangat ‘cacing perut’ menabuh genderang hingga rasa haus terpuaskan. Kadang saya biarkan. Dagangan si tukang sekoteng tidak saya beli. Saya biarkan ia berlalu sambil berteriak dan menabuh mangkuknya menyusuri jalan.
Notifikasi di tulisan Omjay di WA adalah denting mangkuk Kang Sekoteng yang kadang saya biarkan. Tidak saya beli. Namun, tidak jarang saya menyuruh anak membeli dua bahkan tiga mangkuk, tanpa sepengetahuannya. Artinya, tulisan Omjay kadang tidak saya baca. Namun, tanpa harus melapor, ada tulisan yang beberapa kali saya baca.
Omjay dan Tante Siti Rokayah, dari Bumi Lan Serasan Sekantenan, Musi Rawas, Sumatera Selatan, jabat erat dari saya, sahabat virtual Anda. Selamat berbahagia, semoga ungkapan “Rumahku adalah Surgaku” senantiasa menjadi milik Anda sekeluarga!
Sumber inspirasi:
https://blogsusanto.com/berkaca-dari-kang-sekoteng-ngobrol-bareng-omjay/
Tulisan PakD memang keren abis… masya Allah menginspirasi.
Selamat pakD… barokallah buat PakD dan juga Omjay
Happy Wedding Anniversary… semoga Samawa…aamiin
Tulisannya benar-benar menghanyutkan
Renyah dinikmati tulisan
Beliau memang ikonnya literasi. Keren. Saya belum berani ikut kelas beliau. Hehe.
Luar biasa, Pak. Terus berkarya.
Jadi ingat perjalanan belajar menulis bersama Omjay dengan narasumber-narasumber keren dan penuh ilmu. Ungkapan yang memikat dari Pak D semoga mewakili semua. Omjay, happy anniversary. Selalu samawa selamanya.
Luar biasa, apresiasi untuk Omjay dalam tulisan yg apik.
Pak D Sus memang keren,tulisan yang apik untuk persembhn di ultah pernikhan Om Jay.. . Selamat Om Jay .bhgia sllu smpi kaki nini.
Wah… pakD MEMANG TOP..
Jadi tahu nih.. Tantangan Om Jay untuk menulis dengan Tema Rumahku Surgaku dalam rangka Ulang Tahun Perkawinannya yang ke 2 lusin.
Congratulation OM.KAY…
hatur nuhun bunda
Always renyah dibaca sampe ikut senyam senyum sendiri. Btw, selamat juga buat Omjay ya … Happy Anniversary
Wah bernas memikat kriuk, membuat saya senyam senyum karena nendang banget. Fakta bicara. Seperti itu lah adanya.
Terima kasih pakde. Tulisannya bagus sekali dan enak dibaca.
Masya Allah!