Kopi Pahit Membuat Moderator Tersandung
Malam ini, saya kembali ikut meramaikan kelas “Belajar Menulis”. Kali ini di kelas Belajar Menulis Gelombang 25 dan 26. Wah, kelas belajar menulis besutan Guru Blogger kita, Dr. Wijaya Kusumah, sudah sampai pada Gelombang 26.
Sejak Gelombang 17, saya diajak untuk ikut memberikan materi. Materi yang saya berikan selalu sama “Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan”. Jadi, jika tidak keliru, saya sudah lima kali “membersamai” teman-teman guru pada kelas Belajar Menulis Bersama PGRI dan Omjay. Sebab, dua grup digabung menjadi satu. O ya, kata membersamai saya apit dengan tanda kutip karena kata itu yang sering dipakai oleh beberapa narasumber dan moderator.
Saya mengira, saya sudah tidak ikut lagi. Karena, dengan alasan hape jadul yang mulai “lemot” saya keluar dari grup “belakang layar Kelas BM”. Oleh karena itu, ketika ibu Nur Dwi Yanti yang berasal dari Bandung Jawa Barat memberi tahu melalui WA pribadi, saya sedikit kaget. Guru SDN Muncul 03, alumni Kelas BM Gelombang 24 memberitahu bahwa pada Senin malam tanggal 13 Juni 2022 saya harus mengisi materi di kelas 25 dan 26. Bu Nur atau Bu Yanti bertindak sebagai moderator.

Kalimat Pembuka Sang Moderator
Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt., Tuhan Yang Mahakuasa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Pada malam ini Allah swt. berkenan menganugerahkan kesempatan kepada kita untuk menikmati sajian materi yang sangat menarik dan bermanfaat untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan kita dalam aktivitas menulis.
Unsur kesederhanaan bukan hanya soal struktur kalimat, tetapi bisa jadi karena kesalahan yang tidak disengaja oleh penulisnya, seperti saltik (salah ketik) atau typo. Bukankah kata atau kalimat yang tadinya sederhana, bisa menjadi sulit dipahami karena kurang huruf, atau huruf yang tertukar? Ini seringkali terjadi dalam menulis naskah.
Malam ini, narasumber mengangkat tema ‘Proofreading sebelum menerbitkan Tulisan’. Materi ini menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang akan menerbitkan tulisan untuk publik, apakah itu dalam bentuk artikel di koran, media online, maupun dalam bentuk buku. Tema ini akan disampaikan oleh Pak D Susanto.
Pengalaman saya di kelas BM 24, banyak ilmu yang didapat saat mengikuti materi yang disampaikan oleh Pak D. Saat itu Pak D memberikan masukan pada tulisan pada blog https://yantisdnmuncultiga.blogspot.com/2022/02/cici-belajar-menulis-cerita-fiksi.html yang diangkat sebagai bahan materi.
Setelah membaca kalimat pembuka sang moderator, saya pun membuka arsip. Benar saja, saya mengutip kalimat yang ditulis beliau. Tidak nyana, akhirnya bisa “berduel” dengan beliau. Berduel artinya berdua, mengelaborasi materi, sekaligus berkolaborasi di Kelas Menulis yang Unik nan Apik ini.
Membalas kalimat pembukaan dari orang yang pernah saya kutip tulisannya menjadi bahan sajian, saya pun menulis.
“Selamat malam Bu Moderator yang luar biasa. Aduh, jadi teringat saya nyentil sedikit dijadikan bahan pembukaan.” Tidak lupa saya sematkan emoji tertawa.
Menyiasati Kuliah WA yang Membosankan
Kuliah melalui WA, konon singkatannya “kulwap” memang ‘membosankan’. Kita hanya belajar dari tulisan atau suara yang disampaikan searah. Materi tidak akan dipahami jika tulisan narasumber tidak dibaca atau suaranya tidak didengarkan. Itulah sebabnya, pada akhir sesi pemaparan materi, peserta diberi waktu untuk memberikan pertanyaan.
Moderator pun menuliskan pada kolom percakapan.
“Baik, Bapak dan Ibu. Pada malam ini, kita akan membagi sesi pertemuan sebagai berikut: 1) penyajian materi oleh narasumber, 2) tanya jawab melalui nomor moderator, dan 3) penutup.”
Setelah Bu NDY (Nur Dwi Yanti) selaku moderator menyilakan saya memulai pelajaran maka saya pun mulai mengetikkan kalimat salam, sapaan, dan dilanjutkan uraian.
Agar suasana “hidup” sesekali moderator menimpali dengan tanggapan.
“Hi hi hi … ilmu yang luar biasa Pak D, saya dapatkan.”
Kadang memberi komentar bernada akrab,”Siappppp!”
Demikian pula jika mendapati uraian yang menurutnya menarik, bu NDY pun menanggapi dengan menulis,”Wow, luar biasaaaaaaa!”
Di ruang kerja saya senyum-senyum sendiri. Sesekali pun saya membalas dengan melemparkan emoji yang tersaji pada aplikasi WA.
Menjadi moderator di grup WA bagi bu Nur merupakan pengalaman kali pertama. Pun, dialog di WA dengan saya pun secara “akrab” baru pertama kali kami lakukan. Sebelumnya, hanya saling sapa di grup secara umum saja. Oleh karena itu, ketika ia mencoba menghidupkan suasana dengan ajakan untuk meminum kopi saya pun menanggapinya dengan kalimat yang seolah saya sudah kenal dengan beliau beberapa lama.
Misalnya, ketika saya menjelaskan tentang proofreading yang dilakukan oleh orang lain.
“Jika menyuruh orang lain sebagai proofreader, setidaknya ada sesuatu yang kita “keluarkan”. Jika tidak berupa uang jasa ya, ucapan terima kasih.”
Penjelasan itu saya lanjutkan dengan dialog ilustrasi.
He he he … Jadi Tersandung
“Bu Yanti, boleh dong minta tolong periksa tulisan saya?”
(Bu Yanti pun melakukan proofreading.)
“Udah tuh, coba baca lagi,” kata bu Yanti.
(Penulis pun membaca kembali tulisan yang sudah diuji baca oleh bu Yanti.)
“Makasih ya, Bu. Senang deh punya temen kayak Bu Yanti,” kata si penulis.
(Penulis dan bu Yanti pun bersalaman.)
Bu Nur Dwi Yanti menanggapi: 🤭
Waktu terus merayap. Jam di laptop menunjukkan pukul 20.48. Dua belas menit lagi sampai pada pukul sembilan malam.
“Ayo minum kopi dulu … menemani diskusi malam ini, jangan lupa nikmati martabak telur di samping laptop atau gadget,” tulis sang moderator.
Saya pun meminta izin membuat kopi. Kopi dalam cangkir saya foto dan saya kirimkan ke grup.

“Mantappppp!” kata bu NDY di WA.
“Kopi pahit, Bu. Manisnya biar diambil Bu Momod ajah,” balas saya.
“He he he … jadi tersandung,” kata moderator.
Begitulah, malam itu kami membuat Kelas BM 26 jauh dari kesan formal. Tidak kaku namun materi tetap tersampaikan. Seperti yang saya duga, ada di antara peserta yang juga mempunyai pekerjaan sampingan menjadi editor. Wow, keren sekali. Hal itu saya ketahui pada sesi tanya jawab. Berikut kutipannya.
“Selamat malam Bu Nur dan Pak D. Saya Elen, SD Candle Tree Serpong, Gel. 25. Saya guru bahasa Indonesia yang punya pekerjaan sampingan jadi editor. Saya pernah diminta mengedit tulisan seorang penulis buku-buku bertema handycraft/ kerajinan tangan. Dalam proses mengedit buku beliau, saya merasa kelelahan sendiri karena beliau keturunan Chinese yg bahasa Indonesianya agak kurang rapi. Pertanyaan saya: Jika Pak D menjadi “saya” apa yg kira-kira akan Bapak lakukan?”
Tuh, kan. Pertanyaannya membuat saya menyeruput kopi beberapa kali.
Musi Rawas, 13 Juni 2022
PakDSus
saya kagum sama gaya penulisannya pakD yang bisa bercerita dengan bahasa seperti cerpen. saya benar benar belajar dari sini. oh iya saya baru belajar menulis cerita cerita pendek pakD, mampir ya pakD https://www.bunganwar.com/2022/07/cerpen-tragedi-di-bar-cinta-abadi.html angkat aku jadi muridmu pakD hehehe
Mantap sekali jadi moderator di group WA. Dapet pengalaman berharga pastinya y pak.
Semangat terus berbagi, Pak D.. luar biasa. Salam sesama penikmat kopi..
Padahal saya semalam menghadiri materi Pak D tanpa jeda tanpa terlewat, eeh tulisan pak D malah saya baca huruf demi huruf ga ada tanpa terkecuali…hehe
Dan materi semalam kok berasa materi baru ya. Ah luar biasa pak D
Narasumber hebat
Mantap Pak D. Materinya selalu dibutuhkan setiap gelombang bahkan setelahnya. Sukses selalu.
Kopi manis, kopi pahit
Narasumber manis membuat suasana menjadi hit
Mantapnya polll bingit..