Rumah Impian: Ketika Mimpi Nayla Menemukan Jalannya

Ada kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ketika melihat seorang anak yang pernah belajar di sekolah kita kemudian berhasil meninggalkan jejak melalui sebuah karya, tumbuh di sudut hati rasa bangga. Kebanggaan itu bukan semata-mata karena namanya tercetak di sebuah buku, melainkan karena kita menyaksikan sendiri bagaimana sebuah minat kecil tumbuh menjadi keberanian untuk berkarya.
Buku itu berjudul Rumah Impian, sebuah antologi puisi karya Gen Z yang diterbitkan oleh SIP Publishing. Buku setebal 75 halaman tersebut lahir dari proses pelatihan menulis puisi. Dari sampulnya yang penuh warna hingga halaman-halaman yang berisi puisi dan profil para penulisnya, buku ini terasa seperti sebuah rumah yang dibangun dari kata-kata: tempat mimpi, keresahan, cinta, luka, keberanian, dan harapan mendapatkan ruang untuk hidup.
Di antara nama-nama yang tercantum sebagai penulis, ada satu nama yang membuat saya tersenyum lebih lama: Nayla Zaskia Putri.
Nayla adalah salah seorang murid SD Negeri Mataram yang kini telah melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama. Ketika masih menjadi murid kami, dua tahun lalu, ia dikenal sebagai anak yang memiliki banyak ketertarikan. Ia senang menulis, bernyanyi, melukis, menari, serta mencoba berbagai hal baru. Rasa ingin tahunya menjadi modal penting untuk berkembang.
Saya melihat ada sesuatu yang perlu terus dipupuk dalam dirinya.
Karena itu, ketika ada kesempatan mengikuti pelatihan menulis puisi yang diselenggarakan SIP Publishing, saya mengajak dan mendorong Nayla untuk ikut. Gayung bersambut, kedua orang tuanya pun mendukung dan bersedia membayar sedikit biaya untuk pelatihan. Dalam hal ini, saya hanya memberikan jalan, memberikan informasi, lalu terus memotivasi. Selebihnya, Nayla sendirilah yang berjalan.
Dan ternyata ia sampai.
Perjalanan itu kemudian melahirkan sebuah buku.
Mungkin bagi sebagian orang, sebuah puisi hanyalah susunan kata. Bagi seorang anak yang sedang belajar mengenali dirinya, puisi dapat menjadi tempat untuk berbicara. Di sana ia dapat menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit diucapkan secara langsung. Ia dapat menyimpan mimpi, menyampaikan kegelisahan, mengenang sesuatu, atau sekadar membayangkan masa depan.
Saya teringat salah satu bagian tulisan Nayla dalam buku tersebut:
“Di dalam tulisan ini, dan dalam karyaku / Banyak mimpi dan harapan yang kusimpan…”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang besar. Ada seorang anak yang sedang membangun mimpinya melalui tulisan. Ia menyebut dirinya sebagai “sang penulis kecil”. Bagi saya, sebutan itu justru memiliki makna yang dalam. Penulis besar sering kali bermula dari keberanian seorang anak untuk menulis satu kalimat, satu puisi, atau satu halaman.
Buku ini juga mengingatkan saya bahwa bakat anak tidak selalu muncul dalam bentuk nilai rapor. Ada anak yang bersinar melalui angka, ada yang menemukan jalannya melalui olahraga, seni, musik, kepemimpinan, dan ada pula yang menemukan dirinya melalui kata-kata.
Tugas guru adalah membantu anak menemukan jalan tersebut.
Ketika Nayla sudah tidak lagi menjadi murid secara formal di SD Negeri Mataram, hubungan pembinaan itu bagi saya tidak serta-merta selesai. Pendidikan memang memiliki batas administratif, tetapi perhatian seorang guru terhadap perkembangan anak semestinya dapat melampaui batas tersebut. Ketika ada informasi tentang kegiatan atau kesempatan yang berkaitan dengan kepenulisan, saya tetap berusaha menyampaikannya kepada Nayla.
Saya berharap perjalanan Nayla tidak berhenti pada buku Rumah Impian.
Saya berharap guru Bahasa Indonesia, khususnya mereka yang memiliki perhatian terhadap sastra, dapat ikut membimbing dan mengembangkan bakatnya. Semoga Nayla menemukan lingkungan yang mendorongnya untuk terus membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti kegiatan sastra, dan berani mempublikasikan karya.
Musi Rawas, 3 Oktober 2026
Salam, Literasi!
