
Mengapa Masih Menggunakan Peraga Benar-Salah jika Ada Teknologi yang Lebih Mudah dan Akurat?

Salam Guru Pembelajar!
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Super 100 Guru Kabupaten Musi Rawas Tahun 2026 cukup menarik perhatian. Lomba ini menghadirkan model perlombaan yang cepat dan eliminatif. Dalam tata tertib lomba yang disebarkan panitia, disebutkan bahwa peserta menggunakan alat peraga tanda benar berupa tanda ‘conteng’ (✓) pada tangan kanan dan salah atau tanda silang (X) pada tangan kiri. Kedua peraga pun tidak boleh tertukar baik sengaja maupun tidak sengaja.
“Jika dilakukan peserta secara sengaja ataupun tidak sengaja memindahkan tanda (alat peraga) itu, maka akan didiskualifikasi oleh panitia.” Demikian bunyi salah satu butir tata tertib.
Model seperti ini sebenarnya cukup sederhana dan acap kali digunakan dalam perlombaan cerdas cermat yang melibatkan peserta massal. Peraga manual membuat suasana lomba terasa langsung, cepat, dan mudah dipahami penonton. Peserta juga dituntut fokus karena jawaban tidak boleh diganti setelah tanda diangkat.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang teknis, penggunaan peraga manual memiliki beberapa kelemahan yang cukup penting, terutama ketika peserta mencapai ratusan orang seperti format “Super 100”.
Kelemahan pertama adalah faktor visual. Panitia atau juri harus mengamati banyak peserta dalam waktu hampir bersamaan. Dalam kondisi aula besar, posisi duduk yang rapat, atau sudut pandang terbatas, kemungkinan terjadi kesalahan pengamatan cukup besar. Bisa saja ada peserta yang sebenarnya mengangkat tanda benar, tetapi tidak terlihat jelas oleh juri. Mungkinkah banyak pengamat sebanyak peserta sehingga satu orang mengamati satu demi satu peserta?
Kedua, akurasi penilaian menjadi tantangan. Pada sistem manual, keputusan sangat bergantung pada kecepatan mata pengamat/juri. Dalam suasana tegang dan cepat, dikhawatirkan juri mengalami kesulitan membedakan peserta yang terlambat mengangkat tanda, peserta yang ragu-ragu, atau peserta yang mencoba mengubah jawaban pada detik terakhir.
Ketiga, sistem manual menyulitkan dokumentasi hasil lomba. Jika terjadi protes peserta, panitia harus mengandalkan ingatan juri atau rekaman video seperti padapertandingan sepak bola kelas dunia? Hal ini tentu berbeda dengan sistem digital yang dapat merekam jawaban secara otomatis dan real time.
Padahal saat ini tersedia banyak aplikasi web yang mampu melakukan fungsi serupa dengan lebih cepat dan akurat. Platform seperti Kahoot, Quizizz, atau Mentimeter memungkinkan peserta menjawab benar-salah melalui telepon genggam masing-masing. Hasil jawaban langsung terekam otomatis, lengkap dengan waktu menjawab dan skor peserta.
Penggunaan teknologi juga dapat mengurangi potensi subjektivitas dalam penilaian. Sistem akan menentukan siapa yang benar, siapa yang terlambat, dan siapa yang gugur secara otomatis. Selain itu, tampilan skor langsung di layar besar dapat membuat suasana lomba lebih modern, transparan, dan menarik.
Sayangnya, pada tata tertib yang diedarkan, butir kelima berbunyi: Peserta lomba dilarang membawa senjata tajam, gadget dan alat bantu contekan lainnya saat mengikuti lomba.
Meski demikian, penggunaan peraga manual tetap memiliki nilai tersendiri, terutama dalam membangun nuansa kompetisi klasik yang sederhana dan mudah diterapkan. Tinggal bagaimana panitia menyesuaikan antara tradisi lomba dengan perkembangan teknologi agar pelaksanaan LCC menjadi semakin profesional, akurat, efisien, dan terhindar dari ‘sengketa’.
Musi Rawas, 13 Mei 2026
Salam Guru Pembelajar!
PakDSus

Tebersit pemikiran yang sama terkait gaya klasik tersebut di tengah perkembangan aplikasi dan teknologi. Mungkin yang klasik itu lebih asik. Semoga acara berjalan lancar, jujur, akurat dan tanpa tendensi.
Semangat untuk seluruh Guru di Musi Rawas!