Ayu dan Kata yang Bernama Jangan

Sudah cukup lama saya tidak bercerita tentang cucu hebat kami, Cahayu. Kami lebih sering memanggilnya Ayu.
Hari ini, usianya tinggal sekitar dua setengah bulan lagi menuju tiga tahun.
Saya bersyukur pernah mendapat kesempatan menjadi bagian kecil dari perjalanan tumbuh kembangnya. Setidaknya, selama sekitar setengah tahun menjelang usia tiga tahun ini, saya dan Eyang Uti-nya ikut mewarnai hari-harinya.
Bagi kami, ini bukan hanya menemani seorang anak tumbuh, namun kembali belajar. Ya, perlakuan kepadanya jauh berbeda dibandingkan dengan ayahnya yang anak kandung kami. Pantas saja jika kami pun kembali belajar menemani masa-masa ‘golden age’ anak perempun putera sulung kami.
Ayu semakin lincah. Kemampuan motoriknya terlihat semakin baik. Sekarang ia bahkan mulai senang “membantu” pekerjaan Eyang Uti mencuci perabot rumah tangga.
Saya sengaja memberi tanda kutip pada kata membantu. Sebab, kalau boleh jujur, sepertinya tujuan utama Ayu bukan membantu mencuci, melainkan bermain air.
Kalau ada air yang mengalir dari pancuran, perhatian Ayu segera berpindah ke sana. Tangannya sibuk memainkannya, perabot menjadi benda yang ikut dicelupkan. Pekerjaan sederhana Eyang Uti berubah menjadi arena bermain.
Tapi tidak apa-apa. Barangkali begitulah cara seorang anak belajar. Bagi orang dewasa, itu pekerjaan rumah tangga. Bagi Ayu, itu permainan.
Tanpa kami sadari, di dalam permainan itu ada banyak hal yang sedang ia pelajari: bagaimana menggunakan tangannya, bagaimana memegang benda, bagaimana mengikuti aktivitas orang dewasa, dan bagaimana menikmati dunia di sekitarnya.
Dari kata-kata menjadi lagu
Perkembangan bahasa Cahayu juga semakin terlihat. Ayu masih cadel. Beberapa kata belum jelas pengucapannya. Namun, dibandingkan beberapa waktu lalu, ada perubahan yang membuat kami tersenyum. Ia mulai bernyanyi.
Dulu lagu yang dinyanyikannya terdengar hampir seperti rangkaian kata dengan nada yang datar. Sekarang melodinya mulai terdengar.
Yang lebih lucu, Ayu mulai meniru lagu dan kalimat yang entah didengarnya dari pengasuh ketika kami bekerja atau dari video yang pernah ditonton dari hape sang Uti.
Salah satu favoritnya adalah lagu Burung Kakatua.
Versi Ayu tentu saja berbeda.
“Buyung, kakatua… tua…”
Lalu:
“Indap di dendeya…”
Sampai bagian yang membuat kami tertawa:
“Nenek tudah tua… tua tua…”
Ha ha ha.
Saya tidak tahu kenapa harus ada backsound di akhir larik lagu. Namun, melihat seorang anak kecil menyanyi dengan kesungguhannya sendiri, rasanya sulit untuk tidak ikut tertawa dan bahagia.
Ada sesuatu yang mengharukan dalam perkembangan bahasa seorang anak. Kita menyaksikan kata demi kata muncul.
Suatu hari ia hanya menunjuk. Kemudian satu kata. Dua kata. Lalu mulai merangkai kalimat. Sekarang ia mencoba menyanyi.
Mungkin bagi orang lain itu sederhana. Bagi kami, itu sebuah peristiwa.
Satu Hal yang Masih menjadi Pekerjaan Rumah
Di tengah berbagai perkembangan yang menggembirakan itu, ada satu kebiasaan Ayu yang masih membuat kami harus banyak belajar mengatasinya.
Ayu pantang mendengar kata:
“Jangan.”
Begitu mendengar:
“Jangan!”
atau:
“Tidak boleh untuk anak kecil.”
Reaksinya kadang langsung berubah. Ia marah. itu terlihat dari raut mukanya yang tegang. Lalu, benda yang ada di dekatnya acap kali dilempar.
Kalau saya berada di dekatnya, kadang benda itu dilemparkan ke arah saya.
Di sinilah kesabaran sang Eyang diuji. Kami mencoba membujuk. Kami mencoba mengalihkan perhatian.
Kadang berhasil. Kadang tidak. Ada kalanya kami harus menunggu sampai emosinya turun sendiri. Atau, perhatiannya teralihkan oleh suara yang membuatnya bertanya-tanya, “Apa itu?”
Saya pernah berpikir, mengapa begitu sulit bagi seorang anak kecil menerima kata “jangan”? Bagaimana saya tidak reflek berkata jangan ketika ia meraih gelas beling, pisau daput, gunting, atau benda-benda yang menurut ukuran orang dewasa membahayakan baginya.
Mungkin bagi kita, kata itu hanya sebuah larangan. Akan tetapi, anak yang sedang asyik melakukan sesuatu, kata “jangan” bisa terasa seperti pintu yang tiba-tiba ditutup.
Ia sedang ingin. Orang dewasa berkata tidak. Ia belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menjelaskan rasa kecewanya. Akhirnya, tubuhnya yang berbicara.
Kadang melalui tangisan. Lalu teriakan. Tidak jarang melalui benda yang ia ‘terbangkan’.
Belajar Memahami
Perlahan saya mulai belajar. Mungkin tugas orang dewasa bukan hanya mengatakan apa yang tidak boleh dilakukan. Kita juga perlu menunjukkan apa yang boleh dilakukan.
Kalau Ayu memegang sesuatu yang tidak boleh disentuh, kami mencoba mencari penggantinya. Kalau ia terlalu asyik dengan sesuatu dan harus berpindah aktivitas, kami mencoba mencari jalan agar perpindahan itu tidak terasa sebagai kehilangan.
Tentu tidak selalu berhasil.
Namanya juga anak hampir tiga tahun.
Dan namanya juga Eyang.
Kadang-kadang akal Eyang lebih dulu habis daripada kesabaran Ayu.
Namun, dari situlah saya belajar bahwa mendampingi anak ternyata juga berarti belajar mengenali dunia dari sudut pandangnya.
Ayu sedang tumbuh. Kami pun ikut tumbuh.
Dua setengah bulan lagi Ayu berusia tiga tahun.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah angka.
Bagi kami, tiga tahun adalah perjalanan yang penuh cerita.
Tentang tangan kecil yang mulai terampil.
Tentang kaki kecil yang semakin lincah.
Tentang kata-kata yang semakin banyak.
Tentang lagu yang mulai memiliki melodi.
Tentang tawa ketika bermain air.
Tentang kemarahan ketika mendengar kata “jangan”.
Dan tentang Eyang yang perlahan belajar bahwa membesarkan seorang anak bukan pekerjaan untuk mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan.
Barangkali tugas kita adalah membantu mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri, sambil memastikan mereka tetap aman, mengenal batas, dan merasa dicintai.
Ayu mungkin belum memahami semua itu.
Bahkan mungkin ketika tulisan ini dibuat, ia belum bisa membaca satu kalimat pun.
Namun, siapa tahu suatu hari nanti ia sudah dewasa dan menemukan tulisan ini di blog Eyang.
Mungkin ia akan tersenyum ketika membaca kisah tentang dirinya yang dulu berkata:
“Nenek tidak tua… tua tua…”
Mungkin ia akan tertawa.
Dan mungkin saya sudah tidak lagi berada di sampingnya ketika ia membacanya.
Kalau saat itu tiba, saya ingin ia tahu satu hal:
Ayu, sejak kecil engkau sudah mengajarkan Eyang banyak hal.
Tentang kesabaran, tawa, tentang menerima bahwa setiap anak memiliki dunianya sendiri, dan terutama tentang cinta yang kadang-kadang tidak perlu banyak kata.
Cukup hadir. Menemani. Mendengarkan. Sesekali, ikut bermain air bersama cucu yang sedang tumbuh besar.***
Musi Rawas, 25 September 2026
