Memahami Panduan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Fase A, B, dan C: Dari CP ke TP dan ATP

Halo, Sahabat Pembelajar. Sudah sampaikah buku Panduan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Fase A-F dan Fase F Tingkat Lanjut di meja kerja Bapak dan Ibu?
Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen menerbitkan Panduan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Fase A-F dan Fase F Tingkat Lanjut pada 2025. Panduan ini ditujukan antara lain bagi guru kelas SD/MI dan berisi komponen CP, pemetaan materi esensial, serta perencanaan pembelajaran mendalam.
Bagi guru SD, bagian Fase A, B, dan C sangat penting karena mencakup perkembangan kemampuan berbahasa murid sejak kelas I sampai kelas VI.
Empat Elemen dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Panduan Bahasa Indonesia 2025 memetakan pembelajaran ke dalam empat elemen utama: Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, dan Menulis.
Keempat elemen tersebut menggambarkan keterampilan berbahasa yang dikembangkan secara berkelanjutan dari satu fase ke fase berikutnya.
Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu dipahami sebagai proses pengembangan kemampuan berbahasa secara utuh. Bukan sekadar belajar membaca atau menulis, melainkan juga belajar memahami informasi, memberikan tanggapan, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan berbagai tipe teks.
Perkembangan Bahasa Indonesia dari Fase A hingga Fase C
Setiap fase memiliki karakteristik kompetensi yang berbeda.
Fase A: Kelas I-II
Pada akhir Fase A, kemampuan berbahasa murid masih sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Murid belajar memahami informasi dari teks yang berkaitan dengan diri, keluarga, kesehatan, dan lingkungan sekitar.
Pada elemen menyimak, misalnya, murid belajar memahami informasi dari teks nonsastra berbentuk aural. Pada membaca dan memirsa, murid mulai membaca kata-kata sederhana dari bacaan atau tayangan. Pada berbicara, murid mengungkapkan perasaan dan gagasan secara lisan. Sementara itu, pada menulis, murid mengembangkan kemampuan menulis permulaan dan menghasilkan teks sederhana.
Karena itu, penyusunan TP pada Fase A perlu memperhatikan pengalaman konkret murid.
Kegiatan belajar dapat dikaitkan dengan keluarga, teman, tubuh, lingkungan sekolah, benda-benda di sekitar, serta pengalaman sehari-hari.
Fase B: Kelas III-IV
Pada Fase B, kemampuan berbahasa berkembang menuju pemahaman informasi yang lebih terstruktur.
Murid mulai memahami ide pokok suatu informasi, membaca kata-kata baru dengan lebih fasih, serta memahami ide pokok, ide pendukung, pesan, dan informasi dalam berbagai teks sastra dan nonsastra.
Kemampuan berbicara juga berkembang. Murid mulai menyampaikan pendapat dengan pilihan kata, volume, intonasi, dan gestur yang sesuai konteks. Mereka juga belajar mengikuti diskusi dan menceritakan kembali isi atau informasi dari berbagai tipe teks.
Pada tahap ini, TP perlu disusun secara bertahap agar perkembangan literasi murid berlangsung secara sistematis.
Fase C: Kelas V-VI
Pada Fase C, tuntutan kompetensi meningkat.
Murid mulai diarahkan untuk menganalisis informasi dari teks nonsastra dan menganalisis isi teks sastra. Kemampuan membaca dan memirsa berkembang menuju pemahaman informasi, makna tersurat dan tersirat, serta kemampuan menggunakan sumber informasi lain untuk mempertimbangkan kualitas atau kredibilitas informasi.
Kemampuan berbicara dan menulis juga berkembang menuju penyampaian gagasan yang lebih kompleks.
Karena itu, penyusunan TP pada Fase C perlu mempertimbangkan kemampuan murid dalam menganalisis, mengolah informasi, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan berbagai tipe teks.
Dari CP ke TP, Kemudian Menjadi ATP
CP masih bersifat umum untuk memandu kegiatan pembelajaran sehari-hari. Karena itu, guru perlu mengembangkan dokumen yang lebih operasional.
Salah satunya adalah Tujuan Pembelajaran (TP).
TP membantu guru menentukan kemampuan yang diharapkan dikuasai murid setelah mengikuti pengalaman belajar tertentu.
Selanjutnya, sejumlah TP diurutkan secara logis dan sistematis menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Secara sederhana, alurnya dapat dipahami seperti ini:
CP → TP → ATP → Perencanaan Pembelajaran → Pengalaman Belajar → Asesmen
Alur tersebut membantu guru melihat hubungan antara kompetensi yang ditargetkan dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.
Contoh TP dan ATP Sudah Disediakan dalam Panduan
Guru tidak harus memulai penyusunan TP dan ATP dari halaman kosong. Panduan Bahasa Indonesia 2025 sudah menyediakan contoh penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran.
Bagian Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran dimulai pada halaman 81. Bagian selanjutnya membahas penerapan perencanaan pembelajaran mendalam dan memberikan contoh perencanaan pembelajaran.
Contoh tersebut sangat membantu, terutama bagi guru yang sedang belajar memahami hubungan antara CP, TP, dan ATP. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Contoh dalam panduan bukan berarti perangkat yang harus disalin apa adanya.
Panduan memberikan contoh sebagai inspirasi. Pendidik dapat membuat ATP sendiri atau menggunakan contoh yang telah disediakan. Panduan juga memberikan ruang bagi pendidik untuk terus meningkatkan kapasitasnya dalam memahami CP dan merancang ATP.
Dengan demikian, guru tetap memiliki ruang profesional untuk menyesuaikan perencanaan pembelajaran.
Mengapa Guru Perlu Menganalisis Kembali TP?
Ketersediaan contoh TP dan ATP tentu sangat membantu. Guru disuguhkan dengan contoh TP dan ATP untuk menerjemahkan CP (Capaian Pembelajaran). Namun, pekerjaan guru belum selesai.
Guru masih perlu bertanya:
Apakah TP tersebut sesuai dengan kondisi murid di kelas saya?
Apakah materi yang digunakan sesuai dengan lingkungan dan pengalaman murid?
Apakah tingkat kompleksitasnya sesuai dengan kemampuan murid?
Apakah urutan TP sudah logis bagi murid saya?
Bagaimana saya mengetahui bahwa TP tersebut sudah tercapai?
Pertanyaan terakhir berhubungan dengan asesmen dan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
Artinya, guru perlu melihat hubungan antara TP, pengalaman belajar, dan asesmen.
TP yang baik harus dapat membantu guru menentukan apa yang akan dipelajari murid, pengalaman belajar seperti apa yang diperlukan, dan bukti apa yang menunjukkan bahwa tujuan tersebut telah tercapai.
Guru Tidak Harus Terpaku pada Urutan Contoh
Perbedaan karakteristik murid antarsekolah membuat urutan pembelajaran tidak selalu dapat disamakan.
Sebuah sekolah mungkin memiliki murid yang sudah fasih membaca pada awal Fase B. Sekolah lain mungkin masih perlu memberikan penguatan terhadap kemampuan membaca dasar.
Kondisi tersebut tentu memengaruhi keputusan guru dalam menentukan urutan pembelajaran. Karena itu, guru dapat menganalisis kembali TP dan ATP yang tersedia.
Yang perlu dipertahankan adalah arah kompetensinya, sedangkan urutan, konteks, materi pendukung, dan pengalaman belajar dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan murid.
Scaffolding dari Fase A ke Fase C
Jika diperhatikan dari Fase A hingga Fase C, terlihat adanya perkembangan tingkat kompleksitas kemampuan.
Pada Fase A, murid belajar melalui konteks yang dekat dengan kehidupannya.
Pada Fase B, murid mulai memahami dan mengolah informasi secara lebih terstruktur.
Pada Fase C, murid diarahkan pada kemampuan menganalisis informasi, menyampaikan gagasan, serta menghasilkan berbagai tipe teks.
Perkembangan tersebut dapat dipahami melalui prinsip scaffolding, yaitu pemberian dukungan belajar secara bertahap agar murid mampu bergerak dari kemampuan yang lebih sederhana menuju kemampuan yang lebih kompleks.
Guru karena itu perlu memperhatikan kesinambungan kompetensi ketika menyusun TP dan ATP.
Jangan sampai pembelajaran di kelas VI tiba-tiba menuntut kemampuan yang belum mendapatkan fondasi pada kelas sebelumnya.
Membaca Panduan dengan Cara yang Tepat
Panduan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 2025 sebaiknya tidak dibaca sebagai buku yang menyediakan perangkat pembelajaran siap salin.
Lebih tepat jika panduan dibaca sebagai peta yang menunjukkan arah. Guru menentukan rute perjalanan berdasarkan kondisi murid, lingkungan sekolah, sumber belajar, waktu yang tersedia, dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Bagaimana jika guru secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam kelompok belajar sudah menyusun TP dan ATP? Tentu upaya ini perlu diapresiasi. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan dengan inspirasi yang sudah disediakan pemerintah. Di sinilah ruang profesional guru tersedia dan terbuka lebar. Wallahu a’lam.
Musi Rawas, 15 Agustus 2026
Salam Literasi