artikel

Akung … Ayok Ayok Ayok Masak!

alat masak
Alat Masak Cahayu (Gambar: Dok. Susanto)

Layar laptop yang menyala atau badan capek sepulang kerja sering kali harus mengalah ketika suara kecil itu mengajak.

“Akung…!”

Satu panggilan itu sudah cukup menjadi tanda bahwa pekerjaan harus berhenti sejenak.

Bagi Ayu, waktu bermain tidak mengenal kata nanti. Ketika ia ingin bermain, saat itulah seluruh dunianya sedang menunggu. Dan saya, suka atau tidak, adalah salah satu tokoh utama dalam cerita yang sedang ia ciptakan.

Mainan kesayangannya adalah seperangkat alat masak-masakan.

Hampir setiap hari. Polanya sama. Mengajak main. Menumpahkan mainan dari dalam bak. Mengambil pisau, sayur mainan, dan perlatan minum termasuk dispenser mainan.

Dengan wajah yang sangat serius, ia mengambil pisau lalu mengiris wortel di atas talenan. Sesudahnya mengambil semangka dan menyodorkan.

“Minum, Akung …!”

“Mam … yut nyang!! [makan … perut kenyang]

Saya pun berpura-pura menyeruput air putih yang hanya ada di dalam imajinasinya atau pura-pura mengunyah buah semangka.

Sesaat kemudian Ayu mengambil dispenser. Lalu ia meringis sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

“Panas … panas …!”

Barangkali dalam bayangannya, air dari dispenser baru saja memercik ke kulitnya.

Tak lama kemudian ia sibuk menggoreng donat dari gelang-gelang warna-warni, memindahkan ke piring, lalu …, “Akung makan!”

Tidak boleh menolak.

Ketika saya capek dan bosan, Cahayu saya tinggalkan bermain sendiri. Apa reaksinya? Menjerit, lalu menghampiri dan menggandeng tangan saya.

Di tengah kesibukannya, tiba-tiba tangan mungilnya menarik lengan saya.

“Akung… tini… duduk tini… ayok menan … ayok … ayok …!”

Pelafalannya memang belum sempurna. Namun saya tidak pernah kesulitan memahami maksudnya.

Ia sedang meminta saya duduk di sampingnya dan bersama-sama memasak kemudian menikmati hasil masakan.

Sikapnya yang suka memaksa tanpa sengaja saya pamerkan ketika orang tuanya menelepon dan melakukan panggilan video.

Waktu bermain bersama Ayu tidak sebentar, tetapi saya harus mengikuti iramanya hingga selesai menurut versinya.

Kadang-kadang tubuh ini tidak selalu mampu mengikuti semangatnya.

Sepulang bekerja, ada saat-saat ketika saya hanya ingin menyandarkan punggung beberapa menit. Namun, alasan “Akung capek” belum dikenal dalam kamus seorang anak berusia dua tahun delapan bulan.

Begitu saya menunda bermain, wajahnya berubah. Bibirnya mulai bergetar. Lengkingan tangisan segera keluar.

Gadis kecil itu benar-benar belum memahami bahwa orang dewasa pun bisa kehabisan tenaga.

Bagi Ayu, ketika Akung tidak mau ikut bermain, yang ia rasakan mungkin kehilangan teman.

Melihat ia berbinar dan senag dengan permainannya ketika saya menemani membuat lelah ini tersamar dan berubah menjadi rasa bahagia.

Laptop boleh menunggu. Berkas pekerjaan bisa diselesaikan nanti.

Saya kembali duduk bersila di lantai. Cangkir plastik itu kembali saya pegang. Saya menyeruput teh yang tak pernah benar-benar ada.

Kami pun kembali memasak, menyajikan, dan menikmati hidangan yang hanya bisa ditemukan di dapur imajinasi cucu sulung saya, Cahayu.

Musi Rawas, 3 Agustus 2026

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.