artikel

Wayang Kulit di Perantauan: Gagasan agar Generasi Muda Musi Rawas Lebih Mengenal Wayang

Wayang Kulit di Desa D. Tegalrejo, Kec. Tugumulyo, Lab. Musi Rawas (Dok. Susanto-blogsusanto.com)

blogsusanto.com Saya bersyukur karena ketika masih kecil sering diajak Bapak menonton wayang kulit. Ada kenangan yang sampai sekarang masih melekat kuat.

Kami berangkat bukan sore hari seperti orang pergi menonton pertunjukan pada umumnya. Kami justru berangkat tengah malam.

Sekitar pukul setengah satu atau pukul satu dini hari, Bapak mengantar saya ke lokasi pertunjukan. Setelah sampai, saya ditempatkan di dekat kotak wayang, tidak jauh dari tempat sang dalang.

Kepada salah seorang penabuh gamelan, Bapak berpesan sederhana, “Titip anakku, Mas!”

Setelah itu Bapak pulang. Saya ditinggal menonton sampai menjelang pagi dan kemudian dijemput kembali. Kami datang dan pulang dengan sepeda.

Pada waktu-waktu seperti itulah saya mengenal dunia wayang.

Karena saya datang dini hari, tidak lama kemudian adegan Goro-Goro pun hadir dan suasana berubah. Empat punakawan tampil. Mereka membawa suasana yang lebih ringan melalui dialog, humor, dan tembang yang dinyanyikan oleh pesinden.

Setelah Goro-Goro, cerita berlanjut hingga mendekati akhir pertunjukan. Salah satu adegan yang saya ingat adalah perang kembang dengan iringan gamelan yang semakin membangkitkan semangat.

Pengalaman itu terjadi ketika saya masih tinggal di Pulau Jawa.

Setelah remaja dan beranjak dewasa, pengetahuan tentang wayang sedikit demi sedikit bertambah. Saya mulai mengenal beberapa lakon, memahami sebagian alur cerita, serta mengenali puluhan tokoh wayang. Ada tokoh protagonis, ada pula tokoh antagonis.

Jika mengingatnya sekarang, ada rasa haru. Ternyata pengalaman sederhana ketika kecil ikut membentuk kedekatan saya dengan wayang.

Wayang Kulit, Warisan Budaya yang Perlu Dikenalkan

Wayang merupakan salah satu warisan budaya takbenda Indonesia yang telah diakui UNESCO. Wayang Puppet Theatre tercatat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. UNESCO menjelaskan bahwa tradisi wayang berkembang dari Jawa dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra.

Wayang kulit merupakan bentuk pertunjukan yang menggunakan boneka datar dari kulit, dengan dalang sebagai penggerak sekaligus pengendali jalannya cerita. Pertunjukan biasanya didukung oleh gamelan, para nayaga, dan pesinden.

Bagi masyarakat Jawa, wayang kulit memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial dan budaya. Pertunjukan wayang dapat hadir dalam berbagai kesempatan, seperti hajatan, peringatan tertentu, kegiatan desa, hingga acara bersih desa dan syukuran.

Tradisi tersebut ternyata juga hidup di tengah masyarakat Jawa yang tinggal di perantauan. Salah satunya di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Masyarakat Jawa yang tinggal di sejumlah wilayah Musi Rawas, seperti Tugumulyo, STL Ulu Terawas, Sumber Harta, Megang Sakti, serta kawasan eks-pemukiman transmigrasi lainnya, masih memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kesenian dan tradisi Jawa.

Wayang Kulit di Musi Rawas

Tiga tahun lalu, tepatnya Agustus 2023, sejumlah desa di Kecamatan Tugumulyo menggelar pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari kegiatan bersih desa sekaligus rangkaian peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Beberapa pertunjukan bahkan dihadiri Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud.

Di Desa D. Tegalrejo, Kecamatan Tugumulyo, pertunjukan wayang kulit menjadi sesuatu yang istimewa.

Menurut Kepala Desa Tegalrejo, Agus Salim, dan Ketua BPD, Suwito, pertunjukan tersebut merupakan pementasan wayang kulit pertama di desa itu dalam kurun waktu sekitar dua puluh tahun.

Saya sendiri, pada tahun 2023, sudah tinggal di desa tersebut selama sekitar 17 tahun. Selama itu pula, saya belum pernah menyaksikan hajatan keluarga maupun kegiatan pemerintahan desa yang menghadirkan pertunjukan wayang kulit.

Karena itu, kabar tentang pementasan wayang disambut gembira oleh masyarakat.

Para penggemar wayang yang sudah memasuki usia lanjut tentu memiliki alasan tersendiri untuk menantikannya. Mereka ingin kembali menikmati kesenian yang pernah akrab dengan kehidupan mereka.

Generasi muda pun tampak penasaran.

Ketika pertunjukan berlangsung, lokasi pementasan dipadati penonton. Sebagian duduk di kursi undangan. Sebagian lainnya berdiri di sekitar lokasi pertunjukan.

Pemandangan tersebut memberi saya satu pertanyaan.

Bagaimana agar generasi muda yang lahir dan tumbuh di perantauan dapat mengenal wayang lebih dekat?

Jangan Menunggu Anak Muda Mencintai Wayang Tanpa Diperkenalkan

Masyarakat Jawa di perantauan menghadapi persoalan yang berbeda dengan masyarakat yang sejak kecil hidup di lingkungan budaya Jawa.

Anak-anak keturunan Jawa yang lahir di Sumatera, misalnya, belum tentu memperoleh pengalaman menonton wayang sejak kecil.

Mereka mungkin mengenal nama Gatotkaca, Arjuna, Bima, Semar, Gareng, Petruk, atau Bagong. Namun, belum tentu mereka memahami siapa tokoh tersebut, bagaimana hubungan antartokoh, dan mengapa sebuah cerita wayang berlangsung seperti itu.

Referensi mengenai wayang memang tersedia dalam bentuk buku, komik, video, maupun sumber digital lainnya. Namun, pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung tetap berbeda. Karena itu, menurut saya, perlu ada cara baru untuk membantu penonton muda memasuki dunia pewayangan. Yang perlu diperbarui bukan wayangnya, melainkan cara memperkenalkan wayang kepada penonton yang belum mengenalnya.

Bagaimana Jika Sebelum Pentas Ada Pengenalan Tokoh?

Saya membayangkan sebuah pertunjukan wayang kulit di desa perantauan diawali dengan pengenalan singkat.

Sebelum dalang memulai cerita, seorang narator dapat tampil beberapa menit untuk memperkenalkan tokoh-tokoh utama yang akan muncul.

Misalnya, penonton diperlihatkan gambar atau wayang tokoh yang akan dimainkan.

“Ini Arjuna.”

“Ini Bima.”

“Ini Semar.”

Kemudian dijelaskan secara singkat hubungan tokoh tersebut dengan cerita yang akan dimainkan.

Konsepnya sederhana. Semacam cuplikan atau pengantar sebelum sebuah film dimulai.

Tujuannya bukan menggantikan peran dalang. Tujuannya membantu penonton yang belum mengenal wayang agar memiliki bekal sebelum mengikuti cerita.

Dengan cara seperti itu, anak-anak dan remaja yang baru pertama kali menonton dapat memiliki pegangan. Mereka tahu siapa tokohnya, hubungan antartokoh, dan gambaran tentang cerita yang akan disaksikan. Setelah itu, dalang menjalankan pertunjukan sesuai dengan kemampuan, gaya, dan tradisi pedalangannya.

Bahasa Juga Bisa Menjadi Jembatan

Persoalan lain adalah bahasa.

Bagi penonton yang sejak kecil hidup dalam lingkungan Jawa, berbagai istilah dan dialog dalam pertunjukan wayang mungkin terasa biasa.

Bagi generasi muda Jawa di perantauan, situasinya bisa berbeda.

Karena itu, menurut saya, penggunaan bahasa Indonesia pada bagian-bagian tertentu dapat menjadi salah satu cara menjembatani penonton dengan cerita.

Bukan berarti seluruh pertunjukan harus diubah menjadi bahasa Indonesia.

Bahasa dan istilah pewayangan tetap dapat dipertahankan. Dalang tetap dapat menggunakan gaya pedalangan yang menjadi cirinya.

Namun, pada bagian tertentu yang dianggap penting atau sulit dipahami, penjelasan singkat dalam bahasa Indonesia dapat membantu penonton mengikuti alur cerita.

Dengan demikian, anak muda tidak merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang asing.

Mereka diberi jalan masuk untuk memahami pertunjukan.

Memperbarui Cara Penyajian, Tetap Menghormati Tradisi

Wayang telah melewati perjalanan sejarah yang panjang.

UNESCO mencatat bahwa wayang merupakan tradisi yang terus hidup dan berkembang. Dalam perkembangannya, pertunjukan wayang juga menghadapi tantangan dari berbagai bentuk hiburan modern.

Karena itu, upaya memperkenalkan wayang kepada generasi muda perlu dilakukan dengan cara yang kreatif.

Menurut saya, inovasi penyajian tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan tradisi.

Justru sebaliknya, inovasi dapat menjadi jembatan agar tradisi tetap dapat dipahami oleh masyarakat yang berubah.

Saya membayangkan pertunjukan wayang kulit di desa-desa perantauan memiliki beberapa unsur sederhana:

  1. pengenalan tokoh sebelum pertunjukan;
  2. sinopsis singkat lakon yang akan dimainkan;
  3. penjelasan istilah tertentu yang sulit dipahami penonton muda;
  4. penggunaan bahasa Indonesia pada bagian-bagian tertentu jika diperlukan;
  5. pemanfaatan layar untuk menampilkan gambar tokoh atau ringkasan cerita;
  6. tetap memberikan ruang yang luas kepada dalang untuk mempertahankan karakter dan tradisi pedalangannya.

Bentuknya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa. Tidak harus mahal. Yang penting adalah ada kesadaran bahwa sebagian penonton yang hadir mungkin belum mengenal dunia wayang.

Wayang Perlu Diberi Jalan untuk Dikenal

Saya tidak bermaksud mengajari para dalang bagaimana memainkan wayang. Para dalang tentu jauh lebih memahami dunia pedalangan daripada saya. Saya hanya melihatnya dari sisi penonton.

Saya pernah menjadi anak kecil yang duduk di dekat kotak wayang pada tengah malam. Saya pernah melihat punakawan keluar pada adegan Goro-Goro tanpa memahami seluruh makna yang terkandung di dalamnya.

Bedanya, saya mendapatkan kesempatan untuk tumbuh bersama wayang.

Generasi muda di perantauan belum tentu mendapatkan kesempatan yang sama.

Karena itu, jika suatu saat kembali digelar pertunjukan wayang kulit di desa-desa masyarakat Jawa di Musi Rawas, saya berharap ada sedikit usaha untuk membuat penonton muda merasa lebih dekat dengan cerita.

Sebab mencintai budaya sering kali dimulai dari mengenalnya. Mengenal dapat dimilai dengan memberi kesempatan untuk melihat, mendengar, bertanya, lalu memahami.

Mungkin sesederhana itu.

Wayang tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menjadi dekat dengan generasi muda. Wayang hanya perlu diberi jalan agar generasi muda dapat mengenalnya.

Musi Rawas, 9 Agustus 2026

Catatan: Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan di Melintas.id dengan judul “Gaya Baru Pagelaran Wayang Kulit di Perantauan (Luar Jawa) Khususnya Kabupaten Musi Rawas, Sebuah Pemikiran”.

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.