artikel

Cahayu: Seni Memaafkan

Penulis: PakDSus

Ada satu ruangan di rumah yang hingga hari ini masih kami sebut sebagai “wilayah terlarang” bagi Cahayu alias Ayu, cucu saya berumur dua tahun delapan bulan. Ruangan itu adalah kamar tidur, sekaligus kamar kerja saya.

Di sana berbagai dokumen penting, buku-buku, laptop, kabel, obat-obatan, hingga barang-barang kecil yang mudah tercecer berkumpul. Bukan berarti saya tidak ingin Ayu masuk. Justru karena saya mengenal rasa ingin tahunya. Ruangan itu terlalu penuh dengan benda-benda yang mengundang eksplorasi.

Namun, benteng sekuat apa pun kadang kalah oleh langkah kaki seorang gadis kecil kami.

Begitu pintu terbuka sedikit saja, Ayu akan menyelinap masuk dengan wajah berbinar. Matanya berkeliling seperti sedang menemukan harta karun. Baginya, benda yang tampak biasa bagi kami justru menjadi penemuan paling menarik. Spidol, misalnya.

Begitu sebuah spidol berhasil berada di genggamannya, ia akan segera mencari tempat untuk menggambar. Jika spidol itu kami ambil, Ayu akan menganggap kami merampas dan reaksi yang ia tunjukkan adalah menangis, kadang terdengar sangat keras. Oleh karena itu, saya memberinya kertas. Setelah kertas terasa kurang luas, telapak tangan menjadi sasaran berikutnya. Kadang kaki. Pernah juga pipinya sendiri.

Suatu hari kami baru menyadari bahwa spidol yang digunakannya bukan spidol papan tulis, melainkan spidol permanen. Sejak saat itu pipi mungilnya berhias garis-garis hitam yang tidak dapat dihapus dengan sekali usap. Selama beberapa hari berikutnya, “lukisan” itu ikut menemani setiap senyumnya.

Kesempatan lain, rasa ingin tahunya beralih kepada obat dokter yang baru saya letakkan di meja. Ketika kami menyadarinya, satu kaplet sudah hancur di mulutnya. Untunglah obat itu tidak sempat tertelan karena lapisan alumunium tidak terkoyak. Meskipun begitu membuat kami, kakek neneknya, Akung dan Uti-nya saling berpandangan. Jantung berdegup lebih cepat daripada biasanya.

Belum lagi earphone yang tiba-tiba kehilangan karet penutupnya, botol-botol yang tutupnya berpindah entah ke mana, atau laptop yang sedang menyala lalu mendadak berubah tampilan akibat jemari kecil Ayu menari bebas di atas papan ketik. Setiap kali itu terjadi, saya hampir selalu menarik napas lebih panjang.

Terus terang, sebagai manusia biasa, kadang kesal dan marah. Kadang hanya terkejut saja. Namun, beberapa detik kemudian, saya selalu diingatkan pada satu hal.

Ayu tidak pernah berniat merusak.

Ia sedang belajar. Ia ingin tahu mengapa tutup botol bisa dibuka, mengapa tombol laptop mengeluarkan huruf, mengapa spidol meninggalkan warna, atau mengapa obat memiliki bentuk dan warna yang berbeda.

Dunia, bagi anak seusianya, memang dipahami melalui sentuhan, percobaan, dan pengalaman langsung.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa yang perlu diubah bukanlah rasa ingin tahu Ayu, melainkan cara saya memandangnya.

Menjaga dokumen, menyimpan obat, menutup laptop, atau meletakkan spidol di tempat yang aman adalah tanggung jawab orang dewasa.

Sebaliknya, menjelajah adalah pekerjaan seorang anak.

Mungkin itulah seni memaafkan yang sedang diajarkan Ayu, cucu kami, kepada kedua kakek neneknya.

Memaafkan bukan berarti menganggap semua yang terjadi sebagai hal yang benar. Memaafkan adalah memahami bahwa di balik setiap kekacauan kecil yang dibuatnya, tidak pernah ada niat untuk merusak. Yang ada hanyalah seorang anak yang sedang berusaha mengenal dunia dengan seluruh rasa ingin tahunya.

Suatu hari nanti, saya yakin kamar kerja ini akan kembali rapi. Tidak ada lagi spidol yang berpindah tempat, tidak ada keyboard yang dipencet sembarangan, dan tidak ada lagi tutup botol yang hilang entah ke mana.

Namun, boleh jadi pada saat itulah saya justru merindukan jejak-jejak kecil yang empat bulan terakhir ini sering membuat saya menghela napas. Karena ternyata, di balik setiap helaan napas itu, Ayu sedang mengajari Akung satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah: seni memaafkan.***

Musi Rawas 2 Agustus 2026

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.