bahasa

Akibat Gas Elpiji Habis

Nggoreng telur dengan pemanas listrik (Dok. Pribadi – Susanto)

Rabu pagi, hari penuh drama. Lima belas Januari 2025, ibu negara bersiap menyiapkan bahan makanan untuk dimasak. Potongan daun bawang, cabai yang sudah jadi sambal, irisan tempe, siap diolah menjadi lauk sarapan pagi dan untuk makan sepulang bekerja nanti.

Wajan penggorengan dipasang, minyak sayur untuk menumis pun dituang. Tiba-tiba nyala api kompor mengecil. Jarum indikator gas ternyata sudah miring ke kiri.

“Mas, gas habis!” teriak sang ibu kepada saya.

“Nanti saja, tidak sempat lagi. Pagi ini tidak sarapan tidak apa-apa,” jawab saya sambil berkemas.

Ibu negara pun menghentikan aktivitasnya. Bahan makanan dimasukkan ke dalam wadah dan dimasukkan ke lemari pendingin.

“Apes, kenapa kemarin tidak lihat jarum gas, ya?” perempuan paruh baya itu bergumam sendiri.

Siang hari, istri saya langsung bergegas mencari gas ke warung terdekat. Namun, hasilnya nihil. Warung tetangga terdekat tidak punya stok. Ibu negara pun melajukan motornya ke warung berikutnya. Hasilnya tetap sama, semua gas elpiji 3 kg di kampung kami habis.

Tetangga pun mengeluhkan hal yang sama. Gas elpiji subsidi itu tampaknya benar-benar sulit ditemukan.

“Paling mau naik harga,” kata saya.

“Terakhir dua puluh lima loh, Mas!” adu sang ibu negara.

“Paling nanti kalau ada juga, tiga puluh atau tiga lima. Mamang warung lele bilang harganya sudah tiga puluh, lo,” jawab saya.

Hari itu, saya dan keluarga hanya bisa masak nasi dan merebus air menggunakan pemanas listrik. Lauk-pauk harus kami beli dari luar. Walaupun rasanya kurang praktis dan menguras pengeluaran, tidak ada pilihan lain.

Keesokan harinya, Kamis, situasi tidak banyak berubah. Gas masih belum tersedia. Siang hingga malam, hujan deras mengguyur kampung, membuat suasana semakin murung. Saya merasa malas untuk keluar rumah. Demikian pula anak-anak. Jika pun saya menyuruh, pasti mereka akan menolak. Tetapi ketika malam tiba, rasa lapar mulai menyiksa. Akhirnya, saya memutuskan untuk nekat keluar rumah.

“Kalau ayah keluar, apa yang kalian pesan?”

“Aku nasi goreng saja,” jawab bungsu.

“Sama, … e … kalau boleh bebek bakar aja, sih,” pinta kakaknya.

“Huh, kalau disuruh bakalan tidak mau tetapi ketika ayahnya nekat keluar rumah, satu dua pesanan mengalir seperti derasnya hujan yang tak kunjung mereda,” gerutu saya dalam hati.

Dengan jas hujan seadanya, saya menerobos hujan mencari makanan ke pasar. Setelah tahu warung bebek bakar langganan tutup, saya kembali ke lapak nasi goreng yang juga jual bebek tetapi tidak dibakar.

Setelah menungu beberapa waktu, nasi goreng dan nasi bebek goreng sudah siap. Selembar uang merah saya sodorkan dan mendapat kembalian selembar kertas abu-abu bergambar M.H. Thamrin. Saya kembali ke rumah. Walaupun basah di sana-sini, saya merasa lega karena perut lapar akhirnya terobati.

Perjuangan mencari makanan di bawah hujan ternyata membawa akibat. Malam harinya, saya mulai merasa tidak enak badan. Ada hawa dingin seakan menjalar dari ujung kaki. Saya pun sadar bahwa kehujanan tadi telah membuat saya masuk angin. Mengapa tidak seperi dulu, ya. Basah kuyup badan tidak terasa. Tapi kini, ah, sudah bisa ditebak. Jika saya mengadu paling hanya mendapat olok-olok.

Eling umur, Mas!”

Pengalaman dua hari tanpa gas benar-benar menjadi pelajaran. Stok gas elpiji habis rasanya seperti kehilangan satu elemen penting dalam kehidupan.

Pembaca, sebenarnya ada tabung ungu bertulis Bright Gas. Tabung itu biasa kami gunakan jika bulan puasa tiba. Sebab, biasanya menjelang lebaran gas melon juga langka. Tapi ibu negara melarang.

“Hemat sedikit!”

Apa boleh buat.

Musi Rawas, 17 Januari 2025
PakDSus

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Akibat Gas Elpiji Habis

  • I haven’t checked in here for a while as I thought it was getting boring, but the last several posts are good quality so I guess I’ll add you back to my everyday bloglist. You deserve it my friend 🙂

  • Saya kalau elpeje habis ya back to basic, pakai kayu bakar. OTW masih nyimpan warisan dapur tanah liat☺️

  • Masalah seluruh umat pak

Comments are closed.