Belajar dari Guru Padil: Tulislah Tanpa Rasa Takut, Editlah Tanpa Belas Kasihan
Pak Supadilah (Guru Padil), owner www.supadilah.com, gurupembelajar.my.id, dan aromabuku.com adalah sahabat kami di Lagerunal. Supadilah atau kadang ia menyebut dirinya Guru Padil ini memiliki banyak prestasi kepenulisan dan lomba blog. Terakhir yang kami tahu adalah juara 2 lomba blog yang diadakan oleh Guruinovatif.
Selain menjuarai banyak lomba menulis dengan hadiah beberapa ratus hingga jutaan rupiah, beliau juga merambah dunia videografis dengan membuat berbagai konten dan mengunggahnya di Youtube. Beberapa di antaranya pun diikutkan lomba dan menang, meskipun tidak juara satu. Misalnya pada Lomba Cerita Inspiratif “Perjuangan Mengajar di Masa Pandemi”.

Terakhir saya membaca tulisannya berjudul “Dengan Berkolaborasi, Guru Saling Melengkapi”. Tulisan ini saya dapatkan pada kegiatan #SeninBlogWalking yang rutin dilakukan oleh komunitas blogger Lagerunal. Tulisan ini pun saya yakin, diikutkan dalam lomba blog yang digelar oleh satuguru.id. Semoga menang ya, Pak!
Kok bisa langganan juara, sih? Apa saja kiatnya?
Guru Padil termasuk orang yang terbuka, tidak pelit ilmu. Saya mengenal secara virtual hingga hari ini, setelah mengikuti pertemuan Zoom, webinar “Belajar Menjadi Pemenang Lomba Blog” pada penghujung Februari 2021 di sebuah komunitas menulis juga.
Kata kunci keberhasilan Pak Padil adalah selalu belajar dan berkolaborasi dengan rekan kerja (sesama guru). Sebagaimana mengajar, dalam belajar pun ia terbuka. Kosongkan gelas dan saling menahan diri menjadi tagline ketika belajar kepada orang lain dan berkolaborasi. Mengosongkan gelas, maksudnya membuang dan mengosongkan diri dari ego serta merasa sudah tahu tentang hal yang diajarkan. Sementara menahan diri adalah sikap yang diperlukan agar tidak terjadi perdebatan akibat ketidaksamaan pandangan ketika berdiskusi dan berkolaborasi.
Guru Padil tidak anti kritik, bahkan piawai “memanfaatkan” kelebihan rekan untuk membantu “proyek”-nya dalam balutan kata kolaborasi. Video “Perjuangan Mengajar di Masa Pandemi” adalah contohnya.
Tulislah Tanpa Rasa Takut, Editlah Tanpa Belas Kasihan
Kalimat “Tulislah tanpa rasa takut, editlah tanpa belas kasihan” saya peroleh dari obrolan di grup. Menurut pengakuan Pak Padil, tips keren itu pun diperolehnya dari webinar menulis yang ia ikuti. Menurut penafsiran saya, menulis tanpa rasa takut adalah menulis tanpa dibayangi kekhawatiran tulisan bakal jelek, bakal banyak salah karena PUEBI-nya tidak tepat, atau ketakutan tidak dibaca orang lain. Boleh jadi takut dicemooh jika dibaca oleh orang lain. Yang terakhir ini sering saya temui ketika saya ingin membaca tulisan teman.
“Saya malu, Pak De. Tulisan saya jelek,” begitu katanya.
Saya hanya tersenyum saja. Wajar saja sih punya kekhawatiran seperti itu karena setiap orang dibekali perasaan malu dan rendah diri.
Tulislah tanpa rasa takut! Ini kalimat motivasi yang harus kita miliki. Tulisan adalah karya, jika dibayangi ketakutan sebelum berkarya, mustahil akan lahir karya “sejelek” apa pun. Nah, nggak usah takut, nulis aja! Begitu kira-kira nasihat para pengajar, mentor atau pembimbing menulis kita.
Setelah tulisan selesai dibuat. Barulah kita baca ulang, lakukan proofreading. Pasti ada satu dua kesalahan. Perbaiki kesalahan itu. Kesalahan umum yang terjadi adalah penulisan tanda baca, penulisan kata depan, pemilihan diksi, dan kalimat yang panjang-panjang.
Editlah tanpa belas kasihan! Mengedit tulisan selalu berkaitan dengan pembetulan kesalahan-kesalahan: ejaan, diksi, dan kalimat efektif. Hal ini berkaitan dengan kaidah kebahasaan, bukan? Kaidah adalah sesuatu yang harus dipatuhi dalam menulis. Oleh karena itu, mengedit tanpa belas kasihan adalah memperbaiki tulisan, jika perlu membongkar apabila kaidah penulisan dilanggar. Kejam, ya? Ha ha ha, tentu saja.
Namun pepatah “gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan jelas kelihatan” berlaku lo di sini. Mengedit tulisan sendiri itu seperti melihat gajah di pelupuk mata. Saya sering menganalogikan dengan pemain sepak bola dan penonton di tribun utama. Pemain pasti lebih sulit menggiring bola ke arah gawang lawan ketimbang penonton yang seolah mudah saja tahu ke mana bola seharusnya mengarah. Jika demikian, meminta bantuan teman untuk menyunting adalah tindakan bijaksana.
Untuk mengurangi rasa takut, kirimkan tulisan ke grup menulis yang saling menyemangati, menyelisik tanpa mengusik, mengomentari tanpa mem-bully. Satu di antara komunitas itu adalah Lagerunal.
Karena yang melontarkan kalimat “Tulislah tanpa rasa takut, editlah tanpa belas kasihan” saya mencoba untuk tidak berbelas kasihan pada tulisan jawara lomba blog, Pak Guru Padil. Keberanian ini tentu karena karakter si penulis yang sudah saya uraikan di atas, terbuka dan pandai menahan diri.
Saya menanggapi tulisan Pak Guru Padil di sini:
https://www.supadilah.com/2021/11/dengan-berkolaborasi-guru-saling.html
Ada kalimat dalam artikel tersebut (bisa saja sudah diedit karena komentar ini sudah saya sampaikan di grup)
Awal bulan lalu saya dikasih tawaran untuk mengadakan sebuah diskusi.
Saya tanggapi tulisan beliau di grup.
Yang mengasih tawaran siapa, Pak?
Saya jarang diberi tawaran untuk mengadakan diskusi, mungkin tahu bakal tidak mampu, ha ha ha ha.
Maksud tanggapan saya adalah, diksi diberi lebih baku ketimbang dikasih.
Pada baris-baris berikutnya terdapat kalimat.
“Saya ajak siswa ya. Jadi mohon diizinkan siswa bawa handphone saat acara,”
“Bagus, Pak Padil. Malah memberdayakan siswa. Mudah-mudahan menjadi pengalaman mereka,”
Lalu saya memberi tanggapan. Pada akhir gunakan titik aja, jangan koma. Bagaimana?
Kutipan percakapan di atas tidak diikuti oleh dialog tag. Oleh karena itu saya mengusulkan agar tanda koma sebelum tanda petik penutup diganti dengan titik.
Itulah cara saya belajar dari Pak Guru Padil alias Pak Supadilah sekaligus membangun komunikasi serta membelajarkan diri sendiri.
Salam literasi, salam persahabatan, salam #PantunBale (Pantau Tulisan Sobat Lage)
Musi Rawas, 7 Desember 2021
PakDSus
Masih related. Kata anak zaman now. Hehe
Pak D dan Pak Padil adalah Gurunya Guru yang ingin meningkatkan kompetensi dalam menulis.
Sehat terus Pak D dan Pak Padil
Selalu angkat topi sama artikel Pak D. Bener-bener bener tulisannya.
Belajar dari guru padil yang hebat, dan Pak Polisi bahasa Pak D Sus … Terimakasih sahabat lagerunal…
Alhamdulillah, selalu mendapatkan pelajaran berharga dari komunitas Lagerunal. Terima kasih, Pk D.
Luar biasa, sangat bermanfaat. Terima kasih Pak. Ikut belajar.
Mantap ulasannya Pak D. Setuju Pak Padil, apa saja bisa jadi ide tulisan oleh Pak D. Dua jempol untuk Pak D.
Ulasan yang bagus sekali. Keren pak D.
Jose tenan tulisan Pak De. Sangat membakar semangat
Pak D emang bisa memanfaatkan peluang. Dari secuil kritik bisa jadi tulisan. Dari sekelumit postingan bisa jadi tulisan. Jangan-jangan dari dehem ‘ehm’ bisa juga jadi tulisan.
Kiprah Pak D dalam membantu teman-teman menulis tidak diragukan lagi. Terutama dalam membuat tulisan semakin berkualitas lewat kritik dan saran untuk tulisan teman-teman.