
Berbalas Pantun
Sebelum saya tinggal di Sumatera, saya mengenal pantun melalui buku pelajaran bahasa Indonesia. Kadang dari televisi. Para pelawak, misalnya pelawak pada acara “Lenong” sering berpantun. Satu orang berpantun, lalu yang lainnya menyenggaki dengan kata “cakep”. Misalnya begini.
Jalan-jalan ke pasar baru,
(Cakep)
Jangan lupa beli ketela,
(Cakep)
Paling enak pengantin baru,
(Cakep)
Masuk kamar buka … jendela.
Lalu, gelak tawa menggemuruh di antara pemain, juga penonton.
Dalam kehidupan sehari-hari, jarang saya temui pantun. Itu dahulu, sebelum saya tiba di tanah Sumatera Selatan untuk mengabdikan diri sebagai guru.
Lo, emang di Sumatera Selatan pantun sering dipakai? Ya. Pada beberapa acara, pantun sering digunakan. Pada acara melamar anak gadis orang, acara pernikahan, juga sering digunakan dalam syair lagu pada senjang. Senjang merupakan seni tradisional daerah Silampari (julukan untuk Kabupaten Musi Rawas) dan juga di daerah Musi Banyuasin, yang mengungkapkan sebuah pesan kepada masyarakat. Senjang diungkapkan berupa lantunan syair. Meskipun disertai musik, syair yang dilantunkan cenderung tidak pernah bertemu antara keduanya. Ketika musik mengalun, senjang berhenti. Ketika musik berhenti, senjang dilantunkan.
Mang Maja dan istrinya adalah sedikit dari budayawan Bumi Silampari yang melestarikan Senjang.
Contoh lain senjang adalah sebagai berikut.
Saya menangkap sepenggal bait.
Sambal kemang banyak cabe’ (sambal kemang banyak cabai)
Buah tehung dalam kanjang (buah terung dalam keranjang)
Minte waktu mamang ngen bibe‘ (minta waktu mamang dengan bibi)
Tulung dengoke kami nak senjang (tolong dengarkan kami akan ber-senjang)
Masih banyak lagi contoh senjang yang dapat Anda temukan pada banyak kanal Youtube.
Berbalas Pantun
Setelah saya tinggal di Sumatera Selatan sering sekali saya menemui orang berpantun. Selain berpantun secara tunggal, artinya dibawakan sendiri sebagai penutup pidato atau sambutan, ada juga yang disebut dengan berbalas pantun. Pantun yang dibawakan dibalas dengan pantun lainnya. Hal lazim misalnya pada acara lamaran atau pada acara sambutan pihak tuan rumah yang dibalas oleh wakil dari pihak besan. Berbalas pantun sering juga disebut dengan istilah pantun bersahut. Berikut satu di antaranya.
Jalan-jalan ke Merasi (Merasi, istilah untuk wilayah Kec. Tugumulyo dan sekitarnya di Musi Rawas)
Jangan lupe beli beras (jangan lupa belu beras – Merasi adalah daerah pertanian, lumbung padi)
Perkenalkan nameku Pardi (Perkenalkan namaku Pardi)
Aku asli wang Terawas (Aku asli orang Terawas)
Di Merasi jemur padi
Padi ditotok menjadi beras
Perkenalkan nameku Novri
Asli dari Musi Rawas
Tanpa diterjemahkan, bait kedua saya kira sudah jelas.
Nah, pembaca. Kali ini saya bukan mengajak Anda berbalas pantun. Pantun di sini singkatan dari pantau tulisan. Maksa banget, ya? Kira-kira begitulah. Pantun Bale adalah satu di antara kegiatan komunitas Lagerunal, grup blogger guru nasional. Tulisan ini sebagai tulisan balasan. Tulisan saya yang berjudul Vaksinasi Covid-19 untuk Anak SDN Mardiharjo telah dipantau oleh sahabat penulis yaitu ibu Suyati. Beliau menulis hasil pantauannya terhadap tulisan saya dengan judul Takut Divaksin.
Ibu Suyati mengatakan bahwa tulisan saya mengingatkannya pada peristiwa drama anaknya saat mengikuti kegiatan vaksinasi. Sedangkan tulisan ini menanggapi tulisan beliau dari beberapa sisi.
Pantun Bale Berjudul Takut Divaksin
Pantau tulisan sobat Lage berjudul “Takut Divaksin” ditinjau dari gaya tutur, struktur kalimat, dan hmm … tata bahasa. Mari kita selisik satu demi satu, jauh dari sirik dan rasa jemawa.
Setelah mengantarkan pembaca kepada peristiwa yang dikatakan penulis sebagai “drama”, kita diberi sajian kalimat pembuka. “Dari awal memang anak sudah merasa takut divaksin. Bayangan rasa sakit ketika divaksin terbayang di matanya. Terlebih ketika tanpa sengaja ia menyaksikan berita di televisi tentang seorang anak yang meninggal setelah kegiatan vaksin. Hal itu semakin menguatkan ketakutan dan kekhawatirannya saat dan setelah divaksin.”
Kalimat ini cukup menggelitik saya untuk mengikuti cerita selanjutnya. Drama seperti apa sebagaimana dikatakan penulis.
Diawali dengan membuat kesepakatan agar anak mau divaksin. Lalu, membiarkannya menunggu dengan bermain, sementara sang bunda mengikuti parenting dan pembagian rapor. Setelah itu selesai dimulailah apa yang dikatakan penulis sebagai drama. Menarik sekali. Kalimat yang digunakan pun tidak panjang-panjang. Saya menemukan kalimat dengan banyak kata lebih dari dua puluh kata, tetapi tidak banyak.
Struktur kalimat yang digunakan sudah baik. Kalimat tunggal banyak digunakan dengan berbagai variasi penempatan subjek, predikat, objek, dan keterangan. Pun penggunaan kalimat majemuk, baik setara maupun kalimat majemuk bertingkat disajikan dengan cukup apik. Coba kita baca paragraf yang mengandung kalimat-kalimat berikut.
- Hari H vaksinasi pun datang juga.
- Meski masih ketakutan tetapi ia mau divaksin dengan beberapa syarat.
- Waduh, mulai harus bernegosiasi lagi.
- Ia meminta untuk didampingi oleh ibunya, dibelikan mainan dan pergi main ke sebuah supermarket setelah divaksin.
- Kita pun mulai membuat kesepakatan agar ia mau divaksin tetapi tidak terlalu banyak syarat yang diajukan.
- Kami menyetujui untuk mendampinginya divaksin dan membelikannya mainan setelah divaksin, tetapi tidak pergi ke supermarket.
- Waktunya tidak banyak dan jaraknya terlalu jauh untuk menuju ke sana.
- Selain itu juga kegiatan hari itu cukup banyak.
- Cukup menguras energi.
Kalimat tunggal berselang-selang dengan kalimat majemuk, namun tidak membikin napas ngos-ngosan.
Kata dan Ejaan
Saya menemukan kata bilangan. Misalnya pada kalimat berikut. “Tulisan Pak D mengingatkan saya pada peristiwa drama pada anak saya saat mengikuti kegiatan vaksinasi tahap 1 usia 6-11 tahun pada hari Selasa 4 Januari 2022.”
Menurut kamus, kata “tahap” mengandung makna bagian dari urutan, tingkat atau jenjang. Oleh karena itu, angka 1 pada kata “tahap 1” akan menjadi lebih baik jika diganti dengan tahap kesatu atau tahap pertama.
Kalimat lain yang mengandung kata bilangan adalah kalimat berikut. “Sejak 3 hari sebelum pelaksanaan vaksinasi, sekolah anak saya, SD Muhammadiyah 1 Purbalingga menginformasikan akan diadakan vaksinasi usia 6-11 tahun.”
Dalam PUEBI, bilangan pada teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf. Namun jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian, ditulis dengan angka. Oleh karena itu angka 3 pada frasa “sejak 3 hari” akan lebih bagus ditulis sejak tiga hari. Kelompok kata “usia 6-11 tahun” sudah benar penulisannya.
Kemudian, saya gunakan tombol CTRL bersamaan dengan huruf F, lalu saya ketik kata dan.

Tidak kurang dari 17 kali kata penghubung itu digunakan dalam tulisan yang menurut Word Count terdiri dari 564 kata. Jadi, rata-rata setiap 33 atau 34 kata muncul kata “dan”. Apakah salah? Tidak, karena kata tersebut digunakan sebagai penghubung klausa atau kalimat. Tetapi, terasa tidak nyaman jika kata “dan” pada satu kalimat digunakan dua kali. Kabar baiknya, tidak ada kalimat yang menggunakan kata “dan” sebagai awal. Ini sangat bagus. Kata “dan” pada awal kalimat memang tidak tepat. Sebagai penghubung kata, frasa, klausa, atau kalimat, sangat janggal jika “dan” digunakan sebagai awal kalimat.
Kata “di” sebagai awalan dan kata depan sudah digunakan dengan benar. Partikel “pun” sudah ditulis dengan benar. Memberi spasi setelah mengetik tanda koma maupun tanda titik sudah sempurna. Penggunaan tanda petik untuk mengutip kalimat langsung sudah benar. Hanya satu yang masih mengganjal, yaitu kata “airmatanya”. Saya menjumpai ada dua kata tersebut.
Airmatanya hampir tumpah.
Airmatanya tak jadi tumpah terlebih setelah mengingat hadiah mainan setelah divaksin.

Jika aturannya berbunyi: “gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran” maka kata air mata mestinya ditulis “air matanya” bukan “airmatanya”.
Jadi, penulisan judul “Asli Air Matanya Sendiri, Ternyata Begini Cara Natasha Wilona Akting Menangis” pada artikel https://www.merdeka.com/jateng/asli-air-matanya-sendiri-ternyata-begini-cara-natasha-wilona-akting-menangis.html menurut saya sudah benar.
Penutup
Dua jempol untuk ibu Suyati pada artikelnya yang berjudul “Takut Divaksin”. Gaya tutur yang renyah dan runtut, struktur kalimat yang baik, dan nyaris tidak ada cela dalam ejaan membuat saya berdecak kagum. Begitulah seharusnya. Salam literasi.
Musi Rawas, 11 Januari 2022
PakDSus

Kalau pantun, kenapa selalu ada “cakepp” ya? Apakah yang membacakan pantun selalu cakep? Kan tidak juga.
Terima kasih sangat Pak D atas balas “Pantun Balenya”. Banyak ilmu yang saya peroleh. Luar biasa.
Pengamat yang sangat jeli. Tak salah lagi kalau sebagian orang menjuluki Pak De Dokter Bahasa.
Julukan “polisi bahasa” untuk Pak D memang benar-benar cocok . Tulisan selalu membuat saya bertambah banyak hal yg belum aku ketahui. Terimakasih Pak D
Joss! Dengan membaca ulasan ini akan menambah pengetahuan, dan mengingatkan yang sudah tahu tetapi lupa ketika menulis.
Panjang x lebar = luas
Geometri, aljabar=matematika
Mata terbuka lebar wawasan jadi luas
Pak D memang jago tulisannya
(Pantunnya maksa juga, he…he..)
Masyaallah, detail sekali ulasannya. Terima kasih ilmunya Pak D.
Luar biasa.saya jadi tsmbah pengetahuan.