bahasa

Blangkon

Sumber: wevagarment.com

Blangkon batik cokelat itu masih kusimpan dengan penuh kehati-hatian. Hadiah dari Kang Win, pengusaha tempe tetangga desa kerap aku kenakan dalam acara-acara istimewa. Entah mengapa, setiap kali memakainya, aku merasa seolah sedang memanggil arwah para leluhur untuk menyaksikan bahwa tradisi ini belum mati. Tapi kalau bicara tentang blangkon dan maknanya, tak ada yang lebih ikonik dari Pak Ranto, tetanggaku semasa kecil.

Pak Ranto tak hanya memakai blangkon di hari besar. Ia mengenakannya hampir setiap hari. Entah saat menjual sate, mencuci gerobak, bahkan ketika berlari kecil menghindari hujan. Blangkon sudah menjadi bagian dari identitasnya. Gerobak satenya pun dinamai sesuai penampilannya: Sate Pak Ranto Blangkon. Bukan hanya warga kampung yang mengenalnya, tapi juga pendatang dan pejalan yang lewat mencicipi kelezatan satenya. Daging satenya empuk, bumbu kacangnya gurih, dan arang yang dibakar dengan sabar, membuat siapa pun yang mencicipinya tak kan melupakan dan ingin kembali lagi.

Dulu, hampir setiap malam aku menyempatkan diri mampir ke warung gerobaknya sekadar menyantap beberapa tusuk sate atau bertukar cerita. Cerita tentang kehidupan. Hal yang kulakukan setelah aku menjadi mahasiswa, hingga lulus dari perguruan tinggi di kota ini.

Tapi, hidup seperti sate Pak Ranto. Tusukan daging mentah merah, perlahan berubah warna karena bara dan hangus bila tak diawasi. Hidup memiliki cara sendiri membalikkan keadaan. Saya harus pergi merantau ke luar negeri. Ya, keluar negeri. Bukan sekadar keluar kota yang setiap lebaran bisa pulang mudik menjenguk sanak saudara. Aku harus pergi selama lima tahun. Lima tahun tanpa aroma sate Pak Blangkon. Lima tahun tanpa gurauannya yang hangat.

Namun waktu terus berjalan. Dan ketika akhirnya aku kembali, satu hal pertama yang kucari adalah gerobak sate Pak Ranto dan … lelaki berblangkon itu.

Langkahku menyusuri jalan kampung seperti mengelupas lapisan waktu. Dan di sudut jalan yang dulu, aku melihatnya. Gerobak itu masih berdiri. Blangkon cokelat itu tergantung di tiangnya, seperti sedang menunggu seseorang pulang. Aku tersenyum, lalu berlari kecil mendekat. Aku ingin menyapa, ingin memeluk Pak Ranto, dan tentu saja menyantap sate legendarisnya lagi.

Tapi yang kutemukan bukanlah tawa renyah atau aroma sate hangat. Hanya sunyi. Hanya seorang wanita yang aku kenal sebagai Bu Ranto, duduk termenung di balik gerobak tua. Ia terlihat lebih tua dari yang kuingat.

“Bu Ranto, Pak Ranto di mana?” Aku bertanya meski hati mulai tak tenang.

Ia memandangku dengan mata yang berkabut. “Pak Ranto sudah meninggal, Nak. Tahun 2020, saat Covid datang. Dia tetap jualan, … sampai tubuhnya tak kuat lagi karena sesak napas.”

Aku terdiam. Dunia seakan berhenti. Aku memandang blangkon yang tergantung. Dulu, benda itu lambang semangat, kini jadi simbol kehilangan. Aku mengusap bulir air di sudut mata. Menangis. Aku kehilangan seorang penjual sate. Lebih dari itu. Aku membetulkan letak blankon yang kupakai. Blangkon ini tidak lagi sekadar kain kepala. Ia telah menjadi warisan, pengingat tentang seseorang yang hidup dengan sederhana, tapi meninggalkan jejak begitu dalam.***

Musi Rawas, 31 Juli 2025

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.