Buku Solo Kelima Bu Mien Sumientarsih

Menulis buku solo bagi sebagian orang terlihat amat mudah dilakukan. Bagi saya yang mulai belajar menulis di usia senja, tentu hal yang cukup berat. Untunglah ada pelatihan menulis melalui WA. Narasumber menuliskan materinya pada kolom chat. Tanpa harus mencatat intisari materi dari presentasi lisan melalui Zoom atau ‘mantengin’ video Youtube, materi narasumber sudah bisa dijadikan resume. Ibarat sayuran, misal kangkung dari narasumber akan dimasak kembali oleh peserta menjadi oseng-oseng, rebusan, lodeh, dan sebagainya. Maka, resume yang asal salin tempel dari materi narasumber terasa garing.
Cerita tentang buku solo, tulisan ini adalah ulasan dari tulisan Ibu Mien di sini: https://www.kompasiana.com/sumintarsihmin6805/6328719008a8b563707474b2/buku-kelima.
Tulisan tersebut dipasang di grup sebagai materi #BlogWalking sobat Lagerunal. Tulisan pada hari Senin menjadi amunisi penulis lainnya untuk diulas. Pak Cip memakai istilah dipantau. Makanya program Selasa #PantunBale Lagerunal singkatan dari Pantau Tulisan Sobat Lagerunal.
Tulisan Bu Mien diawali dengan paparan tentang keikutsertaannya di grup-grup menulis. Grup WA, Kompasiana, maupun Gurusiana. Beliau sempat curhat bahwa iri dengan rekan guru yang mampu menulis dengan cepat dengan berbagai tema. Padahal sama-sama memiliki waktu 24 jam. Ya iyalah, masa orang punya waktu 24 jam kita cuman punya 20 jam. Yang 4 jam di mana?
Kegundahan itu pun terjawab. Jawaban kebetulan sama dengan saya. “Masih merawat rasa malas,” katanya. Ini sih “aku banget”. Makanya saya baru punya dua buku solo, beberapa buku antologi penerbit Indie, dan satu buah buku keroyokan dari penerbit mayor.
Ada satu grup literasi yang, akhir-akhir ini saya kurang aktif berkelakar di sana, yaitu RVL. Apa itu? Rumah Virus Literasi. Grup WA juga. Tetapi, anggotanya, wuih, kayaknya cuman saya yang masih cupu. Lainnya kawakan dan senior. Senior umur? Pasti lah, ya! Apalagi senior dalam kompetensi. Jangan diragukan lagi. Makanya saya bertahan tidak keluar, meskipun tidak berkomentar.
Awal saya gabung, ada presensi dalam bentuk tulisan. Belakangan sang admin masih sibuk. Tetapi bersyukur, tanpa menyetor tulisan, saya yang kurang aktif tidak ditendang keluar.
Nah, ada satu acara yang digagas bahwa bulan Oktober akan diadakan Kopdar. Kopi darat, bertemu dengan sesama anggota. Syaratnya adalah siap dan bisa. Syukur-syukur membawa buku solo terakhir. Nah, ini yang memicu dan memacu Bu Mien bersemangat untuk ikut.
“Target utama buku ini adalah untuk mengikuti kopdar,” tulisnya. Jadi, seberapa jauh apresiasi orang lain terhadap buku beliau menjadi nomor sekian.
“Biarlah bukuku menemui takdirnya.” Demikian kalimat yang selalu melekat di kepala Bu Mien dari Pak Eko Prasetyo, pimred MediaGuru.
Jadi, jika dibalik, Kopdar dengan himbauan membawa buku solo terakhir memacu semangat Bu Mien untuk memiliki buku solo kembali. Sebelumnya, beliau sudah mengantongi buku solo sebanyak empat buah. Boleh juga dikatakan, Buku solo yang ditrget dipicu oleh semangat untuk ikut Kopdar dengan Suhu Literasi Sang Blantik Literasi, Bapak Khoiri. Kok Jadi menyimpulkan begini? Ya, nggak apa-apa. Kan lagi memantau tulisan Ibu Mien.
Hebatnya lagi, buku kelima ini adalah himpunan tulisan di blog. Tema parenting ia pilih untuk diolah kembali. Jadi, katanya, isi buku sebagian besar dari pengalaman pribadi waktu kecil dan awal pengalaman menjadi ibu. Selain itu, ditambah beberapa cerita dari rekan guru menjadi isi buku yang katanya sampulnya berwarna merah muda. Saya katakan katanya, karena hanya dinarasikan. Hmm … no pic hoax, ya!
Hal hebat berikutnya adalah sang Suhu. Mr. Emcho berkenan memberikan endorsement, demikian juga Kepala Sekolah dan beberapa guru. Tidak ketinggalan salah satu mantan wali murid yang kedua anaknya berada di kelasnya.
Wah, kabar yang menggebirakan sekali, ya. Selamat ya, Bu Mien. Seperti air Kali Serayu, diam menghanyutkan.
Salam dan bahagia,
PakDSus
Yang mengulas tulisan orang lain,. adalah hebat. Menyajikan dengan bahasa sendiri dan informatif. Saya percaya Pak D juga hebat,. keep writing. I know you can make it.
Wow! Amazing Bu Mien…
Wah bu min, prestasinya luar biasa
bu mien memang guru yg hebat dan patut jadi teladan kita.
Tooop
Alhamdulillah…
Matur nuwun Pak D. Luar biasa apresiasi utk tulisan sy.
Semoga Pak D sehat dan sukses selalu. Amin…