bahasa

Hanca Tulisan Kamis Malam

Malam ini udara terasa dingin. Kontras dengan hawa petang tadi yang panas dan bikin gerah. Hembusan angin malam menyusup pada celah jalusi jendela kamar Denok.

Meskipun tidak menusuk tulang, hawa dingin yang berembus memaksa Denok untuk menarik selimutnya. Bukan bad cover yang tebal, melainkan kain batik panjang. Meskipun tidak setebal selimut, kain batik panjang itu cukup memberi kehangatan bagi tubuh Denok yang mulai melar.

“Mas Eko belum mau tidur? Sudah pukul sembilan malam, loh,” kata Denok dari balik kain batik yang hampir menutup seluruh badannya.

“Sebentar, aku belum setor tulisan,” jawab Eko sambil sesekali mengusap mukanya. “Sebelum tidur aku tidak ingin punya hanca tulisan pada Kamis malam ini.”

“Ya sudah, aku tidur dulu. Tolong matikan lampu, Mas!” sahut Denok.

Sudah menjadi kebiasaan Denok, istri Eko, lebih suka tidur dalam kegelapan. Mata yang sudah terasa berat makin mudah terpejam dalam kegelapan, katanya.

Sementera di ruang tengah, Eko masih membaca tulisan teman-temannya. Sudah ada dua belas tulisan yang sudah dimasukkan dalam lis Kamis Menulis. Namun, ia ragu apakah akan menjadi peserta berikutnya atau berhanca karena belum ada ide tebersit dalam benaknya.

Eko adalah anggota komunitas Lagerunal. Sebuah komunitas blogger guru yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, dari berbagai belahan bumi nusantara. Setiap hari Kamis mereka menantang diri menulis dengan tema tertentu.

Kamis malam ini, sudah pukul sembilan lewat, belum satu kalimat pun ia goreskan. Meskipun kamus daring dibuka, contoh tulisan teman juga sudah dibaca, tetap saja Eko masih ragu ingin menulis apa. Belum mampu membuat tulisan. Selain itu ada draf berisi resume materi kursus pramuka yang sedikit lagi ia selesaikan.

“Daripada nggak ngirim tulisan, bermain-main aja dengan kata. Yang penting gundah hati tersalurkan,” batin Eko sambil membuka aplikasi notepad. Tidak lama kemudian, ia pun membuat draf puisi. Puisi bebas dengan tema terpilih Kamis ini. Ungkapan kegelisahan hatinya akibat menunda beberapa pekerjaan.

Hanca

Tunda dulu
Tunggu dulu
Nanti saja

Lalu
Tumpukan beban
bertambah selembar

Selagi Eko asyik bermain kata, lampu PLN tiba-tiba padam. Baterai laptopnya yang sudah aus membuat laptopnya pun ikut padam. Seluruh ruang dalam rumahnya hitam, gelap.

“Waduh! Tulisan belum dikirim, pakai mati lampu pula,” gerutu Eko.

Ruang tengah tempatnya menulis gelap sekali. Membelalakkan mata pun percuma. Tetap saja tidak ada satu benda pun bisa terlihat.

Dalam gelap pekat, Eko beranjak dari tempatnya duduk. Kakinya melangkah perlahan menuju meja kecil tempat ia meletakkan lampu senter, petang tadi.

Satu-satunya indera yang membantunya melangkah hanyalah indera peraba pada jari tangan. Sambil meraba, ia mengingat-ingat letak senter bertenaga baterai yang bisa diisi ulang miliknya.

“Dapat!” seru Eko ketika jari tangannya menyentuh tali pada pangkal senter. Segera senter itu ia raih.

Belum sempat Eko menyalakan senter itu, rupanya di sebelah senter persis di tepi meja ada gelas kecil. Gelas itu bekas Denok minum teh petang tadi. Biasanya gelas bekas minum segera ia bawa ke dapur. Mungkin Denok sangat mengantuk, gelas bekas minumya ia letakkan begitu saja di atas meja kecil itu.

“Prang …!”

Suara gelas berdenting pecah di lantai terdengar sangat keras. Tidak ada bunyi lain selain suar gelas itu. Maklum, jika PLN padam tidak ada bunyi kipas angin berputar, suara televisi, atau suara lainnya. Senyap.

Ilustrasi kaki terluka

Tahu banyak pecahan beling dari gelas yang terjatuh tadi, Eko segera menyalakan senter yang ada di tangan dan mengarahkan ke lantai dan kaki kirinya.

Eko kaget. Ada darah menetes dari kakinya. Sedang terpaku ia mengamati kaki kirinya, tiba-tiba lampu menyala kembali. Ruangan pun bermandikan cahaya. Semakin jelas terlihat pecahan gelas yang berserakan. Kaki yang tadinya tidak merasakan apa-apa, seketika muncul rasa nyeri menjalar ia rasakan. Otaknya sudah merespon rpanya. Apalagi terlihat ada pecahan kecil gelas tertancap di pangkal ibu jari dekat telapak kakinya.

Setelah membersihkan lukanya, Eko segera mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan. Ia khawatir ada pecahan lain yang tidak terlihat bakal melukai kaki yang menginjaknya. Sejurus kemudian, ia kembali ke meja kerjanya. Dari ekor matanya, ia melihat Denok begitu menikmati mimpinya. Tidak tahu jika listrik mati hingga hidup kembali.

Setelah laptop dinyalakan, jam di laptop sudah menunjukkan angka 23.30. “Uf … lama juga waktuku terbuang percuma.” Eko membatin sambil menutup semua program yang terbuka. Semangatnya untuk melanjutkan tulisan musnah. Draf puisinya di notepad menjadi hanca tulisan. Entah besok akan dilanjutkan atau dibiarkan. Rasa nyeri pada kakinya pun makin menjadi meskipun aliran darah sudah terhenti.

“PLN …,” ucapnya lirih sambil berjalan pincang. “Bukan, ini bukan salah PLN. Ini salahku tidak segera menulis. Tidak seperti ibu Endahwin yang pandai membagi waktu dan mengirimkan tulisannya paling dulu. Uf ….”

Eko pun naik ke peraduan, berbaring di sebelah badan Denok yang terbungkus kain panjang. Berimpit dengan badan Denok membuat pori-pori kulitnya terasa hangat. Namun, rasa nyeri di kakinya membuatnya hanya ingin segera memicingkan mata.

Musi Rawas, 15 Oktober 2021

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Hanca Tulisan Kamis Malam

  • The unique perspective presented in this article sets it apart from others on the same topic. The author’s fresh take and thought-provoking ideas make it an enlightening read. Thank you for challenging conventional wisdom.

  • Hanca….
    Ada banyak dalam keseharianku

  • Keren luar biasa. Dari Hanca yng bikin bingung malah menjadi tulisan yg menarik. Saluuut Pak D..

  • cerita yang menarik, banyak masalah yang timbul…
    diputar terus oleh penulis, hingga pembaca terbawa akan suasana yang diciptakan.
    Terimakasih Pak D. Sehat selalu

  • Sakit..yang tertoreh dalam sejarah blog..mengalirkan rangkaian kata yg mak nyus dan masuk pak eko..

  • Hm..hanca yang melahirkan tulisan mempesona
    Selalu suka sama goresan luka..eh goresan keyboard nya Pak D

  • Woooowwww….tak ada ide, bermain kata pun menjadi cerita yang sangat indah. Padamnya lampu mengingatkan Eko agar beristirahat dulu. Seandainya tidak mati lampu, bisa jadi Eko keasyikan larut dalam menulis..

  • Duh . Pak Eko kasihan … Mna Denok ga mndengar suara gelas yang terjatuh. Slmt istrht Pak Eko … esok semoga lebih vit dan lebih semangat.

  • Ada saja halangan untuk menulis ya. Akupun belum bisa konsisten menulis jadi banyak hanca.

Comments are closed.