Hapeku Mana, Yah?

“Yah, hapeku mana, ya?” terdengar suara di depan pintu rumah.
Rupanya teman kuliahku tahun 1990-1992 itu tahu-tahu sudah kembali lagi. Padahal dua puluh menit lalu berpamitan untuk berangkat bekerja ke sekolahnya.
“Lho, bukannya tadi sudah diambil Ibu dari kamar Anis?” timpalku.
“Iya, tadi aku kantongi. Sampai di kampung Mataram, kok kantong terasa ringan. Baru sadar, hape Ibu hilang!” katanya dengan penuh kegugupan.
Ia pun membongkar tas gendongnya. Apes, tidak juga ia temukan hape miliknya satu-satunya. Wajahnya yang berbedak tipis itu kelihatan memucat.
“Ya, sudah. Berangkat lagi saja. Jika masih milik kita nanti bakal ketemu. Jika tidak ketemu juga, berarti harus beli lagi nanti jika sudah ada uangnya. Hati-hati di jalan,” aku pun menenangkan hatinya.
Perlahan-lahan, motornya meninggalkan rumah. Tidak lama kemudian, aku pun menyusul berangkat ke tempat kerja.
Sambil mengendarai sepeda motor, tidak urung mata pun ikut menyusuri jalan siapa tahu menemukan ponsel pintar milik perempuan yang sudah 27 tahun mendampingiku itu. Hingga persimpangan jalan tempatnya berbelok menuju sekolahnya, ponsel itu tidak juga kutemukan. Aku pun melanjutkan perjalanan ke sekolah.
***
Kurang lebih pukul sepuluh tiba-tiba ponsel berdering. Suara di dalam telepon tidak asing lagi. Itu suara tetanggaku.
“Katanya hilang hape?” tanya suara di dalam telepon yang ternyata benar suara Pak Suyadi, tetanggaku.
“Iya, Pak. Gimana?” jawabku menanggapi.
“Hape itu ditemukan Renaldi, menantu Pak Syachruddin. Coba nanti datangin dan tanyakan ke sana. Itu bae, yo. Assalaamualaikum!” Pak Suyadi dengan bahasa campuran dialek Melayu Palembang menyudahi sambungan telepon.
Plong! Lega sekali mendengar kabar bahwa hape ibunya anak-anak ditemukan oleh orang yang amanah.
Anganku pun lantas melayang pada peristiwa dua tahun lalu. Aku berdua dengan anak perempuanku berkunjung ke rumah Bude, kakak tertua ibu di kota Banjarnegara, Jawa Tengah. Beliau saat itu masih sehat, dan bugar. Sementara ibuku yang jauh berada di bawahnya sudah terlebih dulu menghadap Yang Mahakuasa. Dalam perjalanan pulang dari Kota Banjarnegara ke Purwokerto, kami berdua melihat ada sesuatu terlempar dari motor yang melaju kencang.
Melihat itu, kami yang berada di belakangnya penasaran. Kami pun berhenti dan mendapati bahwa benda yang terlempar dari motor yang melaju kencang tadi adalah sebuah ponsel android. Ada sedikit retak pada kaca bagian depan. Putriku melarang aku mengambilnya. Namun aku yakinkan bahwa ponsel itu tidak akan aku kuasai namun berharap nanti ada yang menelpon lalu dikembalikan kepada yang punya.
Benar saja, belum sampai lima kilometer kami melaju, ponsel yang sengaja diletakkan pada bagasi depan motor matic itu bergetar. Kami pun berhenti.
“Ya, Mas. Kami di depan SMP Purwanegara,” jawabku ketika ia bertanya posisi kami berhenti.
Kami pun menunggu. Tidak lama kemudian, dua orang pemuda berboncengan motor berhenti. Ada sedikit rasa khawatir. Bagaimana jika dianggap yang bukan-bukan. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti. Kami pun terlibat dialog. Mereka dengan sopan mengucapkan terima kasih. Salah seorang dari mereka merogoh kantong dan mengeluarkan uang selembar pecahan seratus ribuan.
“Tidak usah, Mas. Kami ambil HP itu niatnya memang mau mengembalikan kepada yang punya,” kataku menolak.
“Mboten, Pak. Saestu,” katanya lagi. Tidak, pak. Beneran, katanya.
“Ngomong-omong, siapa namamu?” tanyaku kepada pemuda berusia dua puluhan tahun itu.
“Akbar, Pak,” jawabnya.
“Nah, apalagi namamu Akbar.” Aku pun menanggapi dengan wajah berbinar.
“Kenapa, Pak?” tanyanya heran.
“Akbar itu nama anak Bapak paling kecil. Di Sumatera jika bertemu dengan orang yang namanya sama disebut senamo. Bahasa Indonesianya “senama atau sama namanya”. Nah, karena namamu sama dengan nama anak saya, kamu sudah seperti anak sendiri. Anak tidak perlu memberi uang kepada ayahnya jika ditolong sesuatu. Cukup kamu doakan semoga kami selamat sampai tujuan. Ayo, mampir ke Purwokerto,” ajakku kepada mereka.
“Terima kasih, Pak,” kompak mereka menjawab.
***
Peristiwa dua tahun lalu terulang. Bedanya, hari ini giliran kami kehilangan benda yang oleh sebagian teman dijuluki “setan gepeng” itu. Namun berkat kemurahan hati “sang penemu” benda itu dapat kembali lagi. Kami pun tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli telepon pintar itu lagi. Lebih dari itu, ada satu yang membahagiakan lagi. Wajah wanita paruh baya yang pagi tadi pucat dan hatinya galau, petang ini terlihat rona bahagia.
“Bu!” panggilku sambil mencolek dagunya dari belakang.
“Apa, sih?” jawabnya sambil mencubit lenganku. Sakit. Tapi aku suka.
Musi Rawas, 22 Maret 2021
Salam blogger sehat
PakDSus
Guru Blogger Musi Rawas
https://blogsusanto.com/
Cie cie cubit-cubitan oih
Cubit-cubitan …
Romantisme teman kuliah jadi teman hidup. Semoga samawa sehat selalu dan panjang umur Pak De. Bisa ketemu di Gombong.
Ciiiieee… endingnya.!!
So sweet…
Jika HP nya tidak ditemukan, apakah endingnya seperti itu? heheheheheh
Sebuah aplikasi LOA, law of attraction. Inspiratif.
Endingnya adalah kode *eh :)))
Kebaikan dibalas kebaikan… Semangat…
Keren ceritanya PD.
Heuheue….ehm…
Temen kuliah jadi jodoh ya Pak? Kisah menggelitik…
Alhamdulillah……
Wow, menarik sekali ceritanya, ada pesan moral di baliknya. Mantul, Pak D..
Aiiih so sweet pak D…
Colek mencolek…