Ikuti Lomba Jangan Mikir Juara Karena yang Mikir Panitia
Saya terpaku ketika dia bercerita:
“Saya orang yang menghargai prestasi. Salah satu prestasi saya dulu, … saya mendapat hadiah karena saya JUARA. Juara pertama LOMBA LARI. Lawan saya, tidak tanggung-tanggung. Orang sekampung, pak polisi, dan pemilik handphone. Untung saya juara satu. Kalau tidak, mungkin sudah babak belur, … dihajar massa“. Penonton pun riuh tertawa, tak ayal saya pun ikut terbahak-bahak. Belum berhenti tertawa saya, dia pun melanjutkan.
“Pesannya apa? Untuk hal yang negatif saja butuh prestasi, apalagi hal yang positif.”
Itu tadi saluran youtube yang saya tonton dengan sebelumnya mengetik pada kolom pencarian dengan kata kunci Cak Lontong.
Saya selalu antusias dengan narasumber yang dihadirkan setiap dua malam. Termasuk Jumat malam, tanggal 21 Agustus 2020. Namun karena ada yang mengganjal hati dari siang hari, mengikuti kuliah malam pun hampir-hampir setengah hati. Tetapi tetap dengan penuh kehati-hatian pokok-pokok pelajaran saya tangkap dan saat ini, dalam resume ini, saya ungkap. Itulah alasan, mengapa saya buka kanal youtube dan mencari hiburan yang ada kaitannya dengan motivasi berprestasi.
Narasumber kami kali ini adalah satu di antara narasumber yang jika dituliskan kegiatan, prestasi, dan penghargaannya akan menghabiskan lebih dari satu lembar halaman kerta ukura A4 dengan margin normal spasi 1,5. Beliau adalah Sigit Suryono, S.Pd, M.Pd. Jika diizinkan saya akan memanggilnya Pak Sigit. Ayah dua orang anak, Duta Rumah Belajar Tingkat Nasional Tahun 2018 dan Duta Sains P4TKIPA tahun 2020, saat ini tercatat sebagai PNS aktif dan ternyata seorang guru mata pelajaran IPA yang senang TIK.
Usianya relatif masih muda, belum genap 44 tahun. Selisih lima tahun, lebih muda dari saya. Suami Dwi Riastuti, M.Pd., Guru SMPN 1 Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, memang sarat prestasi. Tidak akan saya sebutkan satu demi satu prestasi beliau karena dapat dilihat di laman berikut ini.
Jika prestasi ditilik dari kemenangan mengikuti perlombaan, lelaki percaya diri putera pasangan Bapak Giyono SW dan Ibu Waginem itu, dulu bukanlah anak yang berprestasi. Ketika masih sekolah, ia merasa, tidak pernah dianggap. Saat SD pernah juara 1 untuk nilai raport, namun tidak pernah diikutkan di berbagai lomba akademik. Ketika SMP apalagi, karena peringkat yang tercatat ada pada urutan 39, 41, 35 di kelas dari 44 siswa. Belum lagi di sekolahnya ada 10 kelas. Lebih-lebih di SMA, jauh dari harapan untuk mengikuti. Bahkan, menurut penuturannya, saat kuliah S1 di UNY hampir drop out.
Mengenyam pendidikan di SD Negeri Jambon II, Trihanggo, Sleman pada tahun 1983-1989, kemudian melanjutkan di bangku SMP Negeri 5 Yogyakarta pada tahun 1989-1992, Pendidikan Menengah di SMU Negeri 1 Sleman jurusan IPA pada tahun 1992-1995, tidak pernah tinggal kelas. Hanya ketika kuliah di Fakultas MIPA jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta diselesaikannya selama 7 tahun, yakni pada tahun 1995-2002. Meskipun hampir dropout karena masa belajar yang tidak selazim mahasiswa program sarjana, masa itu diisi dengan hal-hal yang bermanfaat kelak kemudian hari. Nilai-nilai perjuangan, komunitas, dan kerja keras ternyata menjadi bekal nyata ketika menjadi guru pada saat berikutnya. Organisasi kemahasiswaan sampai senat fakultas diikutinya. Di luar kuliah menjalankan usaha sablon dan rental komputer, ditambah ikut mengajar di beberapa sekolah walaupun belum selesai kuliah.
Tiga tahun sesudah menamatkan kuliah, akhirnya takdir Tuhan menetapkan dirinya menjadi guru sesuai dengan jurusan yang ditekuninya di SMPN 1 Wonosari Yogyakarta. Meskipun masih CPNS, ternyata beliau mendapat kesempatan untuk mengikuti simposium pemilihan guru tingkat provinsi DIY. Pengalaman menjadi peserta di Simposium tersebut membuatnya belajar dari awal untuk ikut berkompetisi dengan para senior yang tentu sangat hebat dan sudah berpengalaman. Pengalaman dan ilmu yang mereka miliki ia catat dan pelajari serta mencoba melakukan pola ATM (Amati Tiru Modifikasi).
Mengapa Perlu ATM dan Belajar dari Pengalaman?
Menurut saya, penulis blog ini, tidak ada yang benar-benar baru di dunia yang sudah sangat tua ini. Jadi menciptakan yang benar-benar baru sudah sangat sulit dilakukan. Tetapi membuat hal yang baru dengan memodifikasi yang sudah ada adalah keniscayaan. Siapa pun mampu melakukannya. Hal ini ini juga menjadi pedoman Pak Sigit, pria yang menurut namamia(dot)com dalam bahasa Jawa berarti tampan, luar biasa baik, dan tegas, ketika ingin meraih prestasi.
Selain memodifikasi yang sudah pernah dilakukan para seniornya, Pak Guru berjambang ini juga belajar dari pengalaman. Prestasi (boleh dibaca juara) yang diperolehnya didahului oleh keikutsertaannya pada berbagai lomba tingkat nasional yang diikutinya. Kemampuannya “mendokumentasikan” pengalaman dan menganalisis kesalahan sehingga mengalami kekalahan patut diacungi jempol. Berikut kisahnya.
Sebanyak tujuh kegagalan dalam ajang prestasi di tingkat kabupaten hingga nasional, seperti: NITC tahun 2009 gagal karena tulisannya kurang bisa diterima oleh juri (kurang menggigit). Inobel tahun 2009 karya medianya bagus sekali namun gagal karena tidak fokus dalam mempresentasikan karya. Alih-alih presentasi hasil karya malah menceritakan siapa dirinya sehingga tidak fokus pada media yang harusnya ia paparkan. Tahun 2012 di ajang Kihajar ia kalah karena presentasinya kalah dengan peserta lain, sedangkan tahun 2013 di ajang FIG kembali kalah karena penelitianya (PTK) hanya 1 siklus. Walaupun sudah ia bawakan buku yang membolehkan 1 siklus selesai asal masalah sudah selesai, namun karena persyaratan lomba tidak membolehkannya, maka dinyatakan gugur (gaya selingkung yang salah). Tahun 2013 baru meraih juara 2 gupres tingkat kabupaten, perlu perbanyak lagi portofolio). Tahun 2014 dan 2015 di ajang Mobile Edukasi gagal juga karena media dari peserta lain lebih baik.
Jadi, menurut ayah dari Muhammad Yunus Baskara dan Galuh Ray Rannaa ini, untuk menjadi juara dalam sebuah kompetisi, menurutnya, guru harus memiliki produk yang unggul dan belajar dari pengalaman lomba yang gagal sebelumnya.
Bagaimana Membangun Prestasi
Menurut penuturan Bapak pemilik beberapa website berbayar seperti: ciget(dot)info, inobel(dot)id, dan dutasains(dot)ciget(dot)info, prestasi tidak datang tiba-tiba. Juara lomba tidak diperoleh dengan persiapan sebulan atau dua bulan ketika akan mengikuti lomba. Hal itu harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.
Di sinilah hebatnya laki-laki luar biasa baik bagai matahari (Sigit Suryono, kata namamia(dot)com), ia memiliki kemampuan dan ketekunan melakukan pendataan dan pengarsipan yang baik. Rekam jejak atau portofolio seperti: surat undangan, surat tugas, dan juga bukti dokumentasi semua kegiatan sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2015 dia arsipkan dan disimpan dalam map dan diletakkan di rak ruang kerjanya. Menurutnya, itu sangat membantu memudahkan proses mengikuti lomba guru berprestasi.
Barangkali ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang ia miliki adalah bentukan karakter dari kedua orang tuanya yang pada masa mudanya juga seorang guru, guru sekolah dasar. Ayahnya selalu memberikan keluasan untuk belajar bahkan sampai saat ini beliau tetap rajin menulis di bukunya walau usianya sudah 85 tahun dan ibunya adalah sosok yang selalu menguatkan dan memberi nasehat. Semoga kedua orang tua Pak Sigit selalu dalam lindungan-Nya.
Kedua orang tuanya selalu mengatakan, kegagalan akan dilihat saat ini saja jika suatu saat kamu berhasil kegagalan masa lalu tidak akan dilihat oleh orang lain. Luar biasa.
Bagaimana cara agar para pembaca, terutama guru-guru muda agar berprestasi (baca: juara) pada lomba yang akan diikuti? Pak Sigit memberikan tips-tipsnya:
- memiliki karya yang unggul (boleh hasil dari ATM: amati, tiru, modifikasi)
- tulis karya ilmiah sesuai dengan gaya selingkungnya (yang ditentukan panitia),
- siapkan berkas presentasi yang baik,
- siapkan mental saat presentasi, dan
- fokus pada saaat presentasi pada isi naskah, tidak boleh melantur.
Satu lagi “dorongan spiritual” dari ibunya: kalah cacak, menang cacak (istilah Jawa) yang kurang lebih maknanya kalah ya sudah menang ya sudah menjadi pelecut dirinya mengikuti berbagai event perlombaan.
Demikian tuturan Sang Juara berbagai ajang perlombaan guru yang dapat saya rangkum dalam tulisan sepanjang lebih dari 1100 kata ketika saya hitung di http://id.wordcounter360.com/
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kalimat Cak Lontong yang saya tonton sesaat setelah mengikuti kulwap Jumat malam. Ketika dia sedang menyinggung tentang honornya, pada konteks Motivasi Berprestasi kali ini saya ubah bunyinya:
Saya ikut lomba, juara tidak pernah saya pikirkan. Karena yang mikir kan Panitia.
Tepat, tugas kita adalah mengikuti lomba sebaik-baiknya.
Silakan tonton menit ke 7:45 – 8:00
Salam bahagia dari Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Luarrr biasa… inshaallah sll nempel di benak saya "Saya ikut lomba juara tak pernah saya pikirkan, yang mikir panitia kan.."
Luarrr biasa… inshaallah sll nempel di benak saya "Saya ikut lomba juara tak pernah saya pikirkan, yang mikir panitia kan.."
Sip..top markotop
Terima kasih. Puji syukur jika menghibur
Awalnya sudah menghibur..pertengahan ada video yg menarik..endingnya luar biasa..Ndak sabar baca resume selanjutnya..bravo ya pak
Bung Indra keren, trims udah singgah. Masih banyak belajar dari kawan.
Saya daftar jadi Fans Garis Keras Pak D…
Gaya tulisan serius, tapi mendapatkan surprise tak terduga
MEmbuat saya terkekeh sendiri membacanya…
Salam Indrakeren
Bu yanti, makasih sudah mampir.
Tata bahasa yang bagus.. kerenn
Tata bahasa yang bagus.. kerenn
yang keren videonya Cak Lontong. hehehehe
Kreenn pak
Baru beberapa kok Bu
Kreatif. Fansnya juga bejibun.
Haaaa, terima kasih Bu Yusni.
Yang bikin menang kan panitia. Saya cuman ikut Lomb aja. Hahaha
Berprestasi bisa nambah isi ATM
Hi, terima kasih. Salam!
Kalau santai saja buk nya
Terima kasih, bersyukur.
Tambah mantap tulisannya setelah menang ya pak.
Wiiih pak D ini, makin kuweren aja, butuh ATM juga ya buat prestasi
Keren pak..kata2nya luar biasa..tapi blm s4 buka videonya
Kereeen pak dan selamat juga menjadi salah satu pemenang resume…..
Terima kasih Pak Etik N.
Materi berat dibikin santai biar tidak penat
Kebetulan kok sesuai
Terima kasih, sahabat
Salam kembali.
Salam kenal kembali. Aha, kita punya nama, nama pasaran Bu Santi. Itu juga nama adikku. Salam kembali
Maaf, kurang ilmu. Menghapus satu kok jadi terhapus semua. Terim akasih Bu kunjungannya
Haloooo, juri itu bukan panitia yah? Cak Lontong lalu menunjuk jari telunjuk ke pelipis kanan sambil bilang," Mi……rr. Ha ha ha …
This comment has been removed by the author.
Kebetulan kok sesuai
Banyak kata: terima kasih kunjungannya, sahabat, semoga tidak bosan
Makasih. Semoga cepat sehat, kabarnya kurang enak badan
Salam kenal kembali. Aha, kita punya nama, nama pasaran Bu Santi. Itu juga nama adikku. Salam kembali
Hiburannya yg gk nguatin. Ngakak gak? Ow….panitia mah kalau lomba gk begitu mikir. Kan menetapkan juara berdasarkan nilai dari juri. Tinggal ketok palu azaaaaaa.
Terima kasih kunjungan dini hari nya. Hahahah, terima kasih
hanya satu kata "hebat"
Mantap Pak D Antok memang luar biasa, bahasa tulisan enak dibaca, isi resume sudah mengena, ada video nya juga, kreatif menginspirasi dan memotivasi…lanjut Pak D…
Luar biasa resumenya menginspirasi juga memotivasi, membaca resum ini sarat dg arti wes pokoe keren
Begitu ya
Pak kita ini saudara kembar ksli ya
Yg satu Susanto dan satunya Susanti
Salam kenal pak dari Santi Jayapura
Alhamdulillah sdh menyimak dgn baik dan resumenya keren
.saya suka