artikel

Malu Bertanya, Sesat di Perkebunan

Jalan di Hutan Sawit Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas, Sumatera Selatan (Dokumentasi Susanto)

Hati² di Jalan Pak, ini termasuk sehat jalannya karena ngak hujan, kalo hujan jalan licin berlumpur, sepatu, sandal pasti lepas saking licinnya jalan

Sebuah pesan WA masuk. Teman guru memberi komentar setelah jalan di hutan sawit aku foto. Foto itu kuambil setelah mengikuti arah panah berwarna merah.

Ada perbaikan jalan sehingga jalan lurus di perempatan ditutup. Sebagai gantinya, tanda jejak dengan warna mencolok memandu pengendara kendaraan bermotor yang hendak menuju ke arah Megang Sakti, sebuah wilayah desa Kecamatan dengan keramaian lumayan.

Sebelumnya dua kali aku bertanya karena lupa jalan pergi. Namun, aku tidak lupa menandai satu tempat ketika berbelok ke kiri, sebelum sampai tujuan. Oleh karena itu, ketika “tanda” tempat itu kutemukan aku harus membelokkan setang sepeda motor ke kanan. Bertiga aku menyusuri jalan beraspal yang disambung jalan tanah. Dua pengendara lainnya adalah masyarakat setempat.

Ketika sampai di Simpang Gajah, sebuah perempatan yang konon dahulu adalah tempat gajah melintas, kedua kendaraan berbelok ke kanan. Sementara aku harus ke kiri jika tidak ingin melewati jalan pergi yang banyak liku. Sebab, sang penunjuk jalan sudah duluan pulang.

Simpang Gajah (Dokumen Susanto)

Tidak ada satu pun kendaraan melintas di jalan tanah berkoral ke arah desa Beliti Jaya. Kecepatran kendaraan pun tertahan gelombang jalan dengan bebatuan tajam.

Beruntung, di depan ada mobil. Aku ikuti mobil itu dari belakang. Akan tetapi, debu yang mengepul bagai asap kendaraan membuatku tidak nyaman. Mobil itu pun kupotong dan kutinggalkan cukup jauh. Aku percaya diri. Lagi-lagi ada tanda jejak menunjukkan arah ke desa Megang Sakti. Selain itu, ada seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil mengiyakan ketika aku bertanya.

“Ke Megang Sakti belok kanan ya, Bu?”

Ketika motor melaju kencang, tibalah di pertigaan. Nah, ini yang bikin bingung. Jalan lurus maupun yang berbelok ke kiri sama besar. Aku ingat pesan Pak Wakiman, belok ke kiri. Namun aku ragu. Terpaksa menunggu di simpang jalan. Mobil box yang kusalip tampak di belakang.

“Kak, arah ke Megang benar ke kiri?”

Para penumpang di kabin menjawab serempak, “Yo …!”

Ada rasa was-was. Di tengah perkebunan sendirian, penumpang mobil box ada tiga orang. Jawaban mereka terdengar kurang ramah. Akhirnya ketika melewati perkampungan, kembali aku bertanya kepada seorang bapak. Taksiranku sekitar dua tau tiga tahun lebih tua dariku.

“Maaf, Pak De, jalan ke arah Megang lewat sini?”

“Ya, betul. Mentok belok kiri, ketemu aspal, belok kanan,” jawabnya ramah.

“Oya, ini desa apa, Pak?” tanyaku lebih lanjut.

“Beliti Jaya,” jawabnya singkat.

Setalah mengucapkan terima kasih, aku pun melanjutkan perjalanan.

Sampai di jalan berbentuk huruf T, aku belok kiri, seperti pesan bapak tadi.

“O, itu SD Negeri Beliti Jaya!” teriakku. Ingatanku berjalan. Setahun lalu, dengan menumpang mobil kawan aku lewat jalan ini.

Satu dua warung makan dan warung kelontong tampak ramai pembeli. Aku lega melihat itu. Hati terbebas dari rasa was-was. Perjalanan dilanjutkan. Sebenanrnya ingin membeli air minum kemasan, namun niat hati berbelanja di warung ujung desa saja.

Perkiraanku meleset. Tidak sampai dua ratus meter, kembali pepohonan perkebunan yang aku temui. Tidak ada lagi rumah di pinggir jalan, apalagi warung minuman.

Setelah berjalan cukup jauh, terlihat jalan dicor beton, separuh. Sebelah kiri. Aku pun menyusuri jalan tanah pada bagian kanan.

Ketika terlihat warung dengan lemari pendingin berisi aneka minuman ringan, kembali ingin membeli. Apa lacur, jalan cor beton dengan tinggi lebih dari satu jengkal memisahkan kami. Tidak terlihat ada orang di dalam warung. Andai saja ada, akan kupanggil dan kumintai tolong mengambilkan air kemasan, baru kubayar.

Aku sempat berhenti. Ada bayangan muncul dari dalam rumah.

“Nah, jadi juga mengobati rasa haus, nih,” gumamku kegirangan.

Baru saja batin merasa girang, dari depan terlihat truk Canter melaju kencang, sementara jalan yang kupakai hanya muat untuk roda kendaraan pengangkut buah sawit itu.

Belum sempat berbelanja, aku melajukan motor ke depan dan menyelinap di antara dua beton yang belum tersambung agar truk dapat melintas.

“Gagal maning!” rutukku dalam hati.

Aku tidak bisa memutar. Tidak ada pilihan, aku harus terus melaju.

Beruntung, di depan terlihat jalan begitu mulus. Jalan cor beton yang dilapis aspal mengurangi debu yang beterbangan.

Aku menarik napas lega. Jalan beton beraspal berbanding lurus dengan perumahan di kiri kanan jalan. Keinginan untuk minum pun hilang.

Lega rasanya terbebas dari jalan tanah yang berangsur diperbaiki dengan dicor beton di sana-sini.

Motor sesekali melaju kecang karena jalan mulus. Meskipun mulus rem kaki dan tangan sering kumainkan akibat tinggi jalan tidak rata akibat cor beton tidak menyambung sama tinggi.

Satu jam kemudian, aku pun sampai di rumah dengan selamat. Aku bersyukur. Rasa syukurku bertambah ketika seorang sahabat berkomentar dalam bahasa Jawa versi anak Jasuma (Jawa kelahiran Sumatera).

Ise untung Pak D, gak ujan, biasane kl hujan jlnya lumayan ajor

Masih untung, Pak D, tidak hujan, biasanya kalau hujan jalannya lumayan hancur.

Wow.

Musi Rawas, 2 Agustus 2023

Salam Blogger Sehat,
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

11 thoughts on “Malu Bertanya, Sesat di Perkebunan

  • Agi wingi ngalami tersesat di jalan yang gak tepat, ada rasa trauma tapi jadi pengalaman berharga, yang membuat trauma tak ada satu orangpun di perkebunan itu.

  • Malu bertanya, sesat menjawab, he he he ….

  • Wah seru juga perjalanan Pak De….

  • Melihat dokumentasinya, jadi ingat kenangan pertama menyusuri kebun Musi Rawas bersama teman hidupku pak

  • Roro Endang Anggraini

    Wow luar biasa, sepanjang perjalanan 1 hari ini saja bisa jadi pemikiran untuk menuliskan ke blog. Salut dengan Ilmunya Pak, cepat bisa nyantol gitu

  • Alhamdulillah … Meskipun sempat dalam kecemasan karena tersesat.. akhirnya sampai juga kejalan yg benar… Hahahaha

Comments are closed.