artikel

Membeli Pelor!

Padi Dijemur di Depan Penggilingan Padi (Dok. Pribadi)

“Assalaamu’alaikum!” sambil membuka pintu rumah saya mengucapkan salam. Hari ini pulang  “Jumatan” saya melihat istri berpakaian rapi.

“Nak kemano, Bu. La siap (Mau ke mana Bu. Sudah siap)?” tanya saya dengan bahasa daerah setempat. Hidup di rantau kadang-kadang menggunakan bahasa daerah setempat meskipun kami berdua asli dari tanah Jawa. Saya orang Gombong, Kebumen. Dia asli dari Mersi, Purwokerto Timur. Ya, kami orang Ngapak. Begitu kata teman saya yang dari Jogya.

“Beras dem abis (Beras sudah habis),” jawab wanita paruh baya itu ringan.

Salah satu teman mengajar istri adalah seorang petani. Kabarnya ia sedang panen. Ya, sebagian besar petani di wilayah Kecamatan Tugumulyo sedang panen padi. Sawah di Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas, daerah kami, adalah sawah irigasi. Oleh karena itu, jika tidak ada hama, dalam satu tahun mereka bisa panen minimal dua kali.

Dengan harga yang ditawarkan sebesar 8.000 rupiah per kilogram, istri saya sangat tertarik. Biasanya kami membeli beras kepada tetangga dengan harga 10.000 rupiah. Beda dua ribu dari biasanya. Jangankan dua ribu, beda seribu rupiah kadang perempuan tahan berpindah warung.

Akhirnya, setelah berganti baju kami berdua berangkat untuk mengambil pelor sebanyak sepikul ke rumah Pak Paimun. Pak Paimun adalah rekan guru istri saya yang sudah panen itu. Sepikul adalah sebutan untuk berat sebesar 100 kilogram. Sementara pelor  adalah istilah ketika masih di desa terpencil. Teman-teman kami di dusun menyebut beras dengan istilah pelor.

Saya tidak tahu mengapa beras diberi julukan pelor, peluru senapan yang bisa membunuh orang. Mungkin jika orang makan “pelor” alias beras ia memiliki energi untuk “membunuh” rasa lemas.

Akhirnya, uang satu juta rupiah bisa dihemat menjadi 800.000 rupiah. Tiga bulan ke depan tidak pusing memikirkan pelor lagi.

#Day18AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

16 thoughts on “Membeli Pelor!

  • Theresia Martini

    Khasss yang bikin rindu ini mas, sederhana, mudah di cerna dan renyah utk dibaca

  • Apo tu pelor Pak?

  • Baru tahu juga, beras disebut pelor.

  • Pelor = Beras
    Super selamanya Pak D..!!

  • Kosa kata baru: pelor. Mantap Pak…

  • Wah semakin ayem tenteram tinggal memetik sayur di ladang dan.menangkap ikan di sungai

  • Hahaha, kocak!
    Terima kasih untuk semuanya.

  • Wahhh, pak Susanto makan e peluru (pelor). Maka e kok hebat, masak saya harus makan granat biar lebih hebat dari bapak? hehehehe

  • Saya pikir pelor itu isi peluru, ternyata beras. Hihihi asik belajar bahasa daerah..

Comments are closed.