Menerbitkan Buku
Eksosistem penerbitan sebenarnya rumit, tetapi jika disederhanakan hanya terdiri atas pembaca (pasar) dan pelaku industri yaitu penyalur, penerbit, dan penulis. Jika penerbit menerbitkan buku dan tidak laku, setelah diobral juga tidak laku maka jalan terakhir adalah memusnahkan. Buku tersebut dibakar. Betapa besar kerugian jika buku itu tidak laku di pasaran. Oleh karena itu betapa tema dan judul itu sangat penting.
Masa pademi yang berlangsung sejak Maret 2020 meningkatkan animo masyarakat untuk menulis. Naskah yang diajukan kepada penerbit secara kuantitatif meningkat tajam dibandingkan dengan banyaknya naskah yang duajukan sebelum pandemi. Sementara banyaknya buku yang diterbitkan dalam satu bulan terbatas. Oleh karena itu, penilaian terhadap naskah yang masuk mutlak dilakukan. Sistem penilaian terhadap suatu naskah yang laku di pasaran selain mempertimbangkan tema adalah editorial, peluang potensi pasar, keilmuan, dan reputasi penulis.
Penilaian terhadap editorial bobot maksimal adalah 10%, peluang potensi pasar bobot penilaiannya 50% sampai dengan 100%, keilmuan bobot penilaiannya hingga 30%, dan reputasi penulis paling sedikit 10% dan maksimal 100%. Meskipun tata tulis yang berkaitan dengan penerapan ejaan atau penulisan kata bukan menjadi pertimbangan utama, tetapi menurut saya (penulis blog ini) sedikitnya kesalahan akan mengurangi “kekesalan” ketika membaca naskah.
Hal lain yang perlu diperhatikan penulis pemula adalah tren suatu tulisan. Misalnya, pada saat ini penulis mengupas tentang batu akik. Untuk mengetahui apakah tema tentang batu akik masih tren di masyarakat, kita dapat meminta bantuan kepada google tren. Dengan mengetikkan kata “batu akik” pada kotak pencarian akan terlihat tren tulisan tentang batu akik pada kurun waktu tertentu. Ambil contoh misalnya selama 5 tahun terakhir.
Tren tentang batu akik pada kurun waktu lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.
Pada bulan Agustu 2015 batu akik menempati peringkat hingga 100. Sementara pada Agustus 2020 perbincangan tentang batu akik hanya bertahan pada angka 5. Artinya, naskah yang membahas tentang batu akik pada saat ini tidak layak untuk diterbitkan karena kemungkinan laku sangat kecil.
Dari sisi penulis, tingkat kepopuleran dapat juga dilihat melalui internet. Jika penulis seorang akademisi, dosen misalnya, dapat dilihat pada google cendekia. Jika penulis pemula, dari mana melihat kepopulerannya? Ternyata media sosial yang dimiliki dapat menjadi menjadi tolok ukur. Berapa teman di FB, folower di twiter, folower di IG, dan komunitas medsos lainnya.
Berkaitan dengan kepopuleran tema dan kepopuleran penulis, penerbit membaginya menjadi 4 kuadran. Kuadran Pertama, tema tak populer tetapi penulis populer. Kuadran Kedua, tema populer dan penulis populer (inilah pertimbangan utama). Kuadran Ketiga, tema populer tetapi penulis tak populer. Kuadran Keempat, tema tak populer dan penulis tak populer.
Tiga hal pada tiga kuadran salah satunya terpenuhi, akan menjadi pertimbangan penerbit untuk menerbitkan buku Anda, kecuali kuadran keempat: tema tak populer dan penulisnya pun tidak populer.
Malam Minggu di D. Tegalrejo, Musi Rawas, Sumatera Selatan




Comments are closed.