
Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar

Program merdeka belajar yang dicanangkan Menteri Pendidikan pada episode pertama, yakni penghapusan USBN, mengubah UN menjadi AN (Assesmen Nasional), dan Penyederhanaan RPP sungguh telah memerdekaan peserta didik dan guru. Guru tidak dibebani penuntasan kurikulum, peserta didik tidak terbebani dengan saratnya beban belajar serta tekanan psikis akibat kelulusan dan prestasi mereka hanya ditentuan oleh ujian akhir.
Hal ini diakui oleh salah seorang praktisi pendidikan, Ibu Tri Worosetyaningrum, M.Pd., Kepala SMP Negeri 2 Pakem. Ia mengatakan bahwa sebelum adanya penyederhanaan RPP dan penghapusan UN, guru terbelenggu oleh banyaknya administrasi pembelajaran sehingga proses kurang diperhatikan. Guru hanya fokus kepada pengetahuan kognitif dan juga siswa dalam proses pembelajaran kurang mendapat perhatian. Setelah adanya penyederhanaan RPP dan penghapusan UN, karena guru tidak terbebani dengan administrasi yang begitu banyak, mereka bisa menuangkan ide-ide kreatif dan inovatifnya dalam pembelajaran. Siswa dalam belajar pun menjadi lebih senang. Dengan kata lain, siswa lebih merdeka belajar, mengembangkan kreativitas dari apa yang mereka peroleh.
Tahun 2020, belum genap satu tahun peluncuran program merdeka belajar, Indonesia dan dunia pada umumnya mengalami musibah. Pandemi Covid-19 memberi dampak yang serius terhadap dunia pendidikan. Strategi belajar mengajar yang diterapkan, tidak seperti pada kondisi normal. Baru pertama kali dalam sejarah, para guru hampir serentak melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Sebelumnya, hanya Universitas Terbuka dan SMP Terbuka yang menyelenggarakan program pembelajaran jarak jauh. Itu pun mereka baru memanfaatkan modul-modul, radio, dan televisi.
Dengan adanya pandemi, sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun 2020, berubah strategi belajar mengajarnya. Kabar baik dari peristiwa tersebut adalah telah majunya teknologi informasi dan komunikasi. Meskipun masih ada sebagian daerah yang belum terjangkau jaringan internet, namun secara umum masyarakat sudah memanfaatkan ponsel dan ponsel pintar untuk berkomunikasi. Dengan demikian, pembelajaran jarak jauh karena anak harus belajar dari rumah, dapat berlangsung. Meskipun dalam bentuk yang sederhana, pada awalnya, pembelajaran jarak jauh memanfaatkan teknologi dimulai pada saat itu.
Orang tua pun pada akhirnya sedikit demi sedikit meyakini bahwa mereka pun memiliki andil yang sangat besar bagi kesuksesan keberlangsungan pembelajaran putera-puterinya. Berawal dari keluhan dan sederet kalimat bernada keberatan, namun proses belajar dari rumah tetap bergeming. Pembejaran jarak jauh terus berjalan seiring perpanjangan peraturan dalam rangka pengendalian penularan virus yang cukup mematikan ini.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mengakui bahwa selama ini belum pernah melihat jumlah guru dan orang tua bereksperimen dengan teknologi. Sebelumnya belum pernah melihat mereka harus menemukan teknik-teknik dan jurus-jurus baru, dan belum pernah melihat contoh-contoh ketangguhannya yang ada di masyarakat ada guru-guru yang datang datang ke sekolah untuk mengajar satu persatu di rumah-rumah. Para guru, merasa takut peserta didiknya ketinggalan pelajaran.
Orang tua, mengikuti perubahan yang terjadi, mulai menyadari bahwa mereka itu adalah pendidik utama bagi anak-anak mereka. Mereka tidak bisa lagi menyerahkan pendidikan begitu saja hanya kepada sekolah.
Para guru, yang secara regulasi telah “diringankan”, pada masa pandemi mereka “dimaksa” untuk mencoba toolkit-toolkit baru dalam teknologi demi menunjang proses pembelajaran yang mereka lakukan.
Pihak pemerintah pun mendorong guru untuk menemukan format-format yang berbeda dan unik untuk pembelajaran jarak jauh. Karena, tidak serta merta dunia kelas yang nyata dipindahan begitu saja prosedurnya pada kelas-kelas maya. Tentu, selain kaku juga akan membosankan. Oleh karena itu, merdeka belajar yang dicanangkan telah memberikan semangat dan dukungan kepada para guru.
Pemerintah terus mendukung proses eksperimentasi yang dilakukan para guru. Jika selama ini mereka mungkin merasa takut akan melanggar suatu aturan, namun sekarang sudah jelas Kemendikbud mengubah paradigma.
“Kemendikbud tidak hanya mendukung inovasi eksperimentasi yang dilakukan guru, tetapi juga memberi toleransi andaikata apa yang mereka lakukan tidak membuahkan keberhasilan,” demikian Menteri Nadim menegaskan.
Intinya, pemerintah memberikan keleluasaan yang seluas-luasnya, memfasilitasi dan mendukung inovasi yang dilakukan. Nah, dengan adanya konsep merdeka belajar, tidak malu jika masih begitu-begitu saja dalam mengajar?

#MerdekaBelajar5
Sumber:
¹https://www.youtube.com/watch?v=IKVyNqIjCMg&t=126s
²https://www.youtube.com/watch?v=8TiP-cZkxHY
Wah, keren kalimat terakhir paragraf terakhir pak, mantap!!
Ya, Pak. Harus ada perubahan dalam mengajar. Gunakan kesempatan merdeka mengajar untuk berinovasi bagi kemajuan pendidikan.
Semasa pandemi semakin banyak uban, Pak D. sebab dipaksa banyak belajar teknologi. Wkwkw
Memerdekakan diri dalam belajar.dan mengajar agar tercipta iklim pendidikan Yang nyaman dan merdeka bagi peserta didik. …..mantap pak….jayalah Indonesiaku….