Minta Izin Ngantar Vaksin Ke 2 Istri Saya

Apa yang ada dalam benak Anda ketika membaca judul di atas? Mau mengantar istri untuk melakukan vaksinasi kedua atau mau mengantar vaksinasi untuk kedua istri (istri pertama dan istri kedua)?
Sore ini saya menyimak obrolan teman-teman guru blogger di sebuah grup menulis. Seru sekali tampaknya. Obrolan hangat seputar hari raya kurban. Bincang-bincang tentang puisi “telelet”, juga obrolan tentang kalimat yang sekilas tampak benar, namun jika dicermati akan ketahuan letak salahnya.
Saya senang, topik perbincangan memang begitu seharusnya. Grup menulis, ya berdiskusi seputar menulis. Meskipun demikian, berkelakar dan bersenda gurau tentang hal-hal ringan juga tidak jarang dilakukan. Perbincangan tentang agama dengan sudut pandang tertentu atau postingan berbau politik, sejauh ini dapat mereka hindari.
Tulisan ini, tidak membahas tentang vaksinasi, sebuah upaya pemerintah dalam meningkatkan ketahanan warga negara dalam menghadapi serangan Covid-19. Tetapi, tulisan sederhana ini akan membahas makna kalimat dan penulisan atau pengucapan yang benar agar “kesalahan” umum yang lazim terjadi tidak lagi dilakukan.
Makna Kalimat
Teman saya, Pak Supadillah, melemparkan sebuah “topik”. Begini ia menulis:
Selamat ulang tahun istriku yang ke 30…
Kalau kalimat ini, artinya dia punya istri 30.
Jadi yang pas adalah selamat ulang tahun ke-30 istriku….
Nah, yang 30, itu ulang tahunnya.
Pesan itu pun dikutip oleh Ambu Tini. lalu ia pun memberi komentar:
Betul sekali..
Dilanjutkan dengan menulis komentar yang sebagian saya gunakan sebagai judul tulisan ini.
Tadi pagi ada guru di sekolah kami nge-chat begini, “Bu maaf saya minta ijin, mau ngantar vaksin ke 2 istri saya.”
Lucu hahaha.. tp maklum sih krn kenal ia hanya beristri 1.
Dalam bahasa kita, makna kalimat pada bahasa tutur (lisan) ditandai dengan intonasi atau lagu kalimat, termasuk di dalamnya pemenggalan frasa. Sedangkan pada bahasa tulis ditandai dengan pungtuasi, tanda grafis yang digunakan secara konvensional untuk memisahkan pelbagai bagian dari satuan bahasa tertulis. Pungtuasi sering diartikan sebagai tanda baca.
Mari kita bahas kalimat anak buah Ambu Tini ketika ia meminta izin, andai bukan ditulis pada kolom chat aplikasi WhatsApp.
Bu maaf saya minta ijin, mau ngantar vaksin ke 2 istri saya.
Saya kutip kalimat itu dengan menambahkan beberapa tanda baca.
Bu, maaf saya minta izin, mau ngantar vaksin ke-2 istri saya.
Kalimat tersebut menimbulkan keraguan karena memiliki makna ganda. Ambu Tini tahu betul bahwa anak buahnya itu beristri hanya satu. Bagaimana dengan kita yang tidak kenal dan membaca kalimat tersebut?
Jika istinya hanya satu dan bermaksud akan mengantar istrinya untuk vaksinasi yang kedua maka sebaiknya sesudah angka dua diberi tanda koma.
Bu, maaf saya minta izin, mau ngantar vaksin ke-2, istri saya.
Dapat juga dengan memberi kata “yang” sesudah kata vaksin dan kata “untuk” sebelum kata istri.
Bu, maaf saya minta izin, mau ngantar vaksin yang ke-2 untuk istri saya.
Kata kedua yang ditulis ke-2 termasuk kata bilangan tingkat (ordinal). Kata bilangan itu melambangkan urutan, contohnya pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.
Selain menyatakan urutan bentuk ke + numerik yang ditulis sebelum kata benda juga menyatakan kumpulan. Jadi, kedua istri bermakna semua istrinya yang berjumlah dua.
Ucapan Hari Ulang Tahun
Tulisan Pak Padil yang bernada berkelakar:
Selamat ulang tahun istriku yang ke 30…
Kalau kalimat ini, artinya dia punya istri 30.
Jadi yang pas adalah selamat ulang tahun ke-30 istriku….
Nah, yang 30, itu ulang tahunnya.
Kelihatannya sepele, namun sesungguhnya sangat serius dan kesalahan seperti itu sering tidak disadari dilakukan.
Berkaitan dengan tulisan pak Padil, mengucapkan selamat berulang tahun pada negara atau instansi sering juga digunakan kata dirgahayu. Bagaimana penggunaan kata dirgahayu dan penulisan ucapan ulang tahun yang benar?
Saya bersama anak-anak, peserta didik, yang sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga SMP/MTs pernah membuat videonya.
Salam manis, salam blogger sehat
Selamat pagi pak dhe Alhamdullilah.dapat ilmu LG..
Makasih Pak D, sering sekali aku juga masih belepotan dalam menulis kalimat..hehe
Ampun suhu, menyimak obrolan biar bisa menjadi isnpirasi kebenaran. He he.
ini baru blogger ternama namanya, keren dan sangat bernas isinya.
Sambil mengenang mereka, anak-anak yang sekarang beranjak dewasa.
Makasih, Pak. Bahasa tulis memang harusnya begitu.
Mantap, Bu. Bahasa yang baik dan benar kadang dikalahkan oleh hal yang “salah kaprah”.
Kalau menurut saya,kalimat yang paling tepat itu “Minta izin ngantar istri vaksin kedua.”
Sebab yang diantar istri, bukan vaksin.
Mantaaap, tulisannya. Luar biasa idenya didapat dari obrolan ringan. Postingannya komplit tenan disisipi video yang informatif hasil kolaboratif dg murid2nya. Dua jempol untuk Pak D..
Semakin jelas kalau ada tanda baca..mantap pak D